Gw punya hobby travelling dan bermain make-up. Dari kecintaan tersebut akhirnya gw memutuskan berbagi cerita travelling dan membahas make-up favorit, lewat blog yang gw buat bertemakan "Fun Beauty Traveler".

Total Tayangan

Selasa, 28 November 2017

Haloo… Gw Arin,


Produk yang mau gw review kali ini adalah Acne Facial Oil dari Nuvaderma. Jadi Nuvaderma ini memproduksi 2 jenis facial oil yaitu Acne Facial Oil dan Brightening Facial Oil. Ingredients facial oil ini masing-masing berbeda, disesuaikan dengan target fungsi oil ke wajah ingin seperti apa. Ingredients yang sama dikeduanya adalah semua sama-sama berbahan alami loh.


Gw punya yang Acne Facial Oil. Ingredientsnya terdiri dari Apricot kernel oil, Jojoba oil, Tea tree oil, Calendula oil,Tocopherol dan Rosemary oil. Dari pertama kali gw lihat ingredientsnya Ace Facial Oil ini tuh gw cukup takjub, dan percaya ini produk memang bagus. Gw cukup kenal dengan manfaat Apricot dan Tea Tree yang memang baik untuk mencegah timbulnya penyebab jerawat. Karena gw sendiri selama ini untuk scrub wajah pakai produk yang mengandung Apricot, dan facial wash gw juga pakai yang mengandung Tea Tree.

Untuk packagingnya, hampir sama dengan face oil pada umunya yaitu berbotol kecil karena size untuk isi 20 ml, berkaca, dan tutupnya model pipet gitu. Aromanya itu khas banget kaya dedaunan herbal gitu, tapi gw juga gatau sih namanya apa hehe. Wajar ya aromanya begini, karena ingredientsnya pun semua bahan-bahan alami.


Klaim produk ini adalah bisa membantu membunuh bakteri penyebab jerawat, meredakan peradangan dan mengontrol minyak pada wajah. Menurut gw setelah pemakaian beberapa kali, gw merasa… yap benar! dia bisa banget membunuh bakteri jerawat, karena di hari kedua gw ada beruntusan dikit di bagian dahi gw dan itu mulai berkurang. Mengontrol minyak juga bener banget.

Jangan salah yah facial oil bukan berarti menambah minyak pada wajah loh. Justru mereka membantu kelenjar minyak alami wajah kita untuk tidak memproduksi secara berlebih. Karena sebenarnya sekalipun wajah kita memiliki jenis kulit berminyak, kita tetap butuh face oil. Kalo tidak pakai face oil, kelenjar minyak wajah kita yang alami akan bekerja keras mengeluarkan minyak untuk membuat wajah kita tetap lembab, dan ketika mereka sudah mulai lelah yang ada muka kita terlihat kusam. Oleh karena itu, kita harus bantu dengan memakai face oil dari luar, supaya minyak wajah alami kita lebih terkontrol dan gak kusam kulitnya. Facial oil juga bisa berfungsi mengikat dan membantu lebih menyerap lagi si moisturizer kita ke dalam kulit wajah.  


Gw pakai Acne facial oil ini sebelum tidur 2 tetes, setelah pakai toner. Setelah pakai facial oil, baru dilanjutkan ke skincare gw berikutnya yaitu night cream. Di wajah gw, acne facial oil ini butuh waktu 5 menitan untuk benar-benar menyerap, baru bisa lanjut ke night cream. Oilnya tuh gak ada warnanya, bening gitu aja, lebih ke cair dan gak lengket. Setelah pakai facial oil dari Nuvaderma ini, gw lebih gampang gitu mengaplikasikan night cream gw. Lebih mudah diblend gitu night creamnya.

Gw merasakan beda banget sih. Biasanya bangun tidur minyak berlebih di wajah super banyak dan wajar sih kalo memang begitu. Tapi setelah pakai oil ini, wajah gw lebih terkontrol minyaknya, gak lebay banget gitu di pagi hari. Terus pas lagi mau cuci wajah di pagi hari tuh, gw pegang kulit wajah gw berasa kenyal-kenyal gitu… gw langsung kepikiran kalo gw rutin pakai ini, gw rasa bisa awet muda nih hahaha…. Siapa sih perempuan yang gak mau awet muda.


Gw sih rekomendasiin banget facial oil dari Nuvaderma ini. Lo bisa dapetin di NUVADERMA ya, disana juga tertera penjelasan lebih lengkap dan harganya. Kalo mau yang berfungsi mencerahkan, lo bisa pilih yang variant Brightening Facial Oil. Untuk Acne facial oil punya gw harganya Rp 165.000 , menurut gw lumayan worth it untuk facial oil alami dengan harga di bawah Rp 200.000.

Nah segitu aja ya review singkat gw. Terima kasih buat yang udah membaca, semoga bermanfaat.
Bye… bye…


Sabtu, 25 November 2017

Hai, Gw Arin…


Di usia 13 tahun gw pernah memutuskan berhijab dari hati, dan saat dimana waktu itu ibu gw sendiri belum berhijab.

Random talk gw ini, tentang gw pernah pakai hijab, lepas dan pakai lagi. Dulu jaman SMP gw pernah berhijab 3 tahun, konsisten atas kemauan sendiri di usia 13 tahun. Ibu gw saat itu bahkan belum berhijab. Dulu alasan gw berhijab selain gw beragama muslim adalah… gw pernah nazar, kalo gw lulus masuk di salah satu SMP Negeri favorit di Kota gw yaitu Bekasi, gw mau berhijab. Gw rasa itu adalah ucapan rasa syukur gw terhadap Allah SWT atas kebaikanNya mengabulkan Do’a gw. Karena kenyataannya perempuan yang baik saat itu di mata Allah SWT, menurut gw adalah berhijab.

Alhamdulillah do’a gw terkabul saat itu, dimana gw masih kelas 6 SD 2005, lulus SMP Negeri favorit yang emang gw pengen. Akhirnya gw memutuskan berhijab selama sekolah, bahkan keluar dan pergi-pergi gw juga berhijab, gak hanya pergi ke sekolah. Bener-bener kalo di rumah aja gw gak berhijab. Selama 3 tahun gw konsisten gak lepas hijab, gw ngerasa nyaman aja dan gak ada masalah.

Saat mau masuk SMA 2008, gw gatau kenapa mau lepas hijab. Gw cuma ngerasa saat itu adalah… gw uda melunasi nazar gw untuk berhijab selama SMP, dan SMA gw mau lepas lagi, jadi diri sendiri. Pada waktu SMA, bisa dibilang gw agak tomboy, tapi ya engga juga… Gw gak pakai hijab sampai masa kuliah. Tapi percayalah, gw tetap yakin dengan Agama gw, Islam. Ditambah dulu sering naik gunung, gw semakin yakin dengan agama gw, gw juga emang udah punya niat mau berhijab kalo sudah menikah. Karena gw berfikir saat itu adalah jika sudah menikah, gw cuma mau perlihatkan aurat gw (rambut kepala gw) hanya untuk suami gw. Gw yakin atas pernyataan itu, gw akan berhijab nanti setelah nikah.

Saat wisuda Diploma 2014, tiba-tiba ibu gw yang memang sudah berhijab, ngajak gw untuk berhijab di foto wisuda, ya gw mau aja waktu itu, dan coba belajar pakai hijab lagi setelah wisuda kelar juga. Tapi saat itu gw cuma bertahan 1 sampai 2 minggu. Gw ngerasa belum nyaman, dan gw ngerasa itu hak gw untuk belum memutuskan berhijab daripada nantinya gw buka tutup hijab dan berhijab tapi masi suka berbuat dosa seperti halnya shalat masih bolong-bolong. Gw cuma takut memalukan agama gw juga. Dan gw takut ada orang yang mau berteman hanya liat dari agama gw. Akhirnya gw buka lagi.

Berjalannya waktu…
Sampai di awal 2017, gw tiba-tiba suatu hari yakin dari bangun tidur gw, untuk berhijab. Yakin tanpa alasan. Gw sendiri bingung. Tapi gw beneran pingin. Gw itu anaknya kalo uda kepingin dari hati, gw akan mau melakukannya sepenuh hati, selama itu baik buat gw dan tidak merugikan siapapun.

Padahal sebelum momen ingin berhijab itu datang, gw lagi hobinya lari dan bahkan niat ngumpulin celana running yang pendek-pendek buat lari. Hahaha…. Tiba-tiba niat itu hilang. Alhamdulillah sih, serius… Alhamdulillah gw punya rasa menuju kebaikan tanpa gw ketahui apa alasannya, dan gw saat itu yakin aja sekalipun gak ada alasan. Alhamdulillah, mungkin karena semua berasal dari hati, gw masih bisa mencoba terus istiqomah, hampir satu tahun ini.

Nah… dari singkat cerita gw di atas tadi, pakai.. lepas.. pakai hijab, sebenarnya ada banyak opini gw yang berubah-ubah selama proses gw itu, tentang perempuan berhijab. Mungkin bisa dibilang anak muda masih masa pencarian. Mencari sebuah keyakinan, dilanjut mencari ketetapan hati untuk semakin yakin pada keyakinan itu sendiri.

Opini gw saat ini adalah… hijab itu ternyata bukan sebuah pilihan pribadi seorang perempuan muslim, tapi sebuah kewajiban, sekalipun dia sudah baik ataupun belum pribadinya. Ini soal dia beragama Muslim, Islam. Opini gw tentang “kalo belum bisa shalat tanpa bolong-bolong itu mending gak usah berhijab”, ternyata salah, gw akuin salah opini gw saat itu. Sekali lagi, berhijab itu kewajiban seorang perempuan muslim, bukan pilihan.

Selama gw berhijab hampir setahun ini, Alhamdulillah gw semakin yakin. Gw semakin bersyukur punya rasa untuk ingin sendiri berhijab. Menurut gw, gw merasa karena berhijab pula gw semakin ingin menjaga sikap gw, moral gw, tanpa seenaknya ke sesama manusia, sekalipun dia jahat sama gw. Gw merasa tanpa kita tahu apa tujuannya, semisal kita yakin memilih jalan yang memang benar, gw ngerasa gw selalu menuju kearah yang benar. Semakin gw yakin dengan agama gw, semakin gw selow menghadapi hidup ini, tanpa ada rasa resah, gelisah, bingung. Karena gw merasa lebih pasrah berserah diri kepada Allah SWT, untuk menjalankan hidup yang sudah di atur olehNya. Gw cuma cukup menjalani dengan sabar, tabah tanpa boleh mengeluh. Gw semakin yakin maut, rezeki dan jodoh memang ditanganNya. Gw gak perlu mengeluh. Gw hanya perlu tunggu masanya gw mendapat rezeki, jodoh maupun maut gw, sambil terus berjalan menyelesaikan hidup ini dengan mengisi kegiatan yang baik-baik aja.

Saat ini, di jaman modern seperti ini, gw cuma berpikir “Menjadi manusia yang biasa-biasa aja, adalah yang terbaik”.

Opini selanjutnya dari gw tentang perempuan berhijab adalah sebuah proses. Orang lain memang harus menghargai proses perempuan berhijab. Dan selalu berdo’a proses itu sudah bukan mencari sebuah keyakinan, tapi mencari ketetapan hati untuk lebih yakin lagi. Menurut gw, udah gak jaman lagi membicarakan sesuatu yang buruk terhadap perempuan yang lepas pakai lepas hijabnya. Dan menurut gw, kita juga tetap gak boleh menyebutnya itu pilihan, tapi itu proses hidupnya.

Terima kasih.
Bye…bye…


Jumat, 24 November 2017

Gw tau sih ini udah telat banget. Orang-orang beauty enthusiast pasti udah tau ini lama banget, bahkan ini hal dasar yang harus diketahui juga, untuk make up lebih bagus. Beauty sponges yang memang digunakan untuk pengaplikasian foundation juga concealer bahkan bedak, Ya pokonya untuk make up bagian complexion lah ya…


Makanya mungkin, sponges ini diberi nama Base miracle complexion sponges. Beauty sponges dari Real Techniques ini gw dapetin di beautyhaulindo.com



Pertama kali dibuka, gw pegang ini super halus dan lembut banget. Bentuknya tuh hampir mirip telur ayam tapi di sisi bawah dibuat flat. Nah ternyata itu juga memang sudah disesuaikan untuk apa aja. Seperti yang tertera pada packagingnya, yaitu tertulis :
  • Flat edge : Contours around & eyes. Jadi dibagian flat sponges ini biasanya digunakan untuk ngeblend kontur, karena kadang disitu butuh space dan penekanan yang lebih. Ini menurut gw ya…
Flat edge

  • Sides : Blend large area of the face. Bagian ini untuk ngeblend foundation dan bisa juga bedak. Caranya dengan di tap-tap pelan-pelan aja ya. By the way, untuk ngeblend foundation kalian harus sabar sih emang, jangan buru-buru, jangan ditekan banget dan jangan digeser kalo mau hasilnya flawless. Karena hasil make up yang bagus kuncinya ada pada make up di bagian complexion.
Sides
  • Tip : Cover imperfections. Bagian ujung ini lebih menyudut, pas banget untuk ngeblend concealer yang memang hanya dipakai pada titik-titik tertentu pada wajah. Seperti darkspot, bekas jerawat atau jerawat yang memang belom tercover sama foundation.
Tip

Nah, untuk memakai sponges dari Real Techniques ini hampir mirip dengan yang lain, yaitu dengan cara dibasahi dahulu, supaya lebih lembab. By the way lagi ni… setelah dibasahi, Sponges Real Techniques yang original pasti mengembang, lebih besar dari waktu kondisi pertama baru dibuka dari packaginya. Dibasahi, teken-teken, peras pelan-pelan sampai gak ada lagi air yang menetes ya, bukan sampai kering lagi. Karena pengguna sponges untuk ngeblend foundation harus lembab, supaya lebih gampang ngeblendnya, khususnya liquid foundation.

sebelum dibasahi 

Pas gw pake, ini bener-bener terasa lembut juga di muka gw. Hasil foundation emang lebih flawless sih menurut gw dibanding pake sponges yang biasa tanpa merk. Emang jauh banget kualitasnya. Gw juga ngerasa, jadi gak harus ditekan banget untuk ngeblend foundationnya, gw jadi berasa ringan banget buat ngeblend. Super empuk busanya, sumpah gw gatau sih ini nama bahan spongesnya apa.

setelah dibasahi

Gw super I love this so much!!! Harga Rp 185.000 isi 2, memang udah paling affordable si dengan kualitas kaya gini. Ada kan merk lain yang lebih bagus, tapi harganya juga lebih mahal, bisa 3 kali lipatnya. Ini gw rekomendasiin banget deh pokoknya.

Nah segitu aja ya review singkat gw, semoga bermanfaat. Terima kasih yang uda baca.
Bye…bye…


Rabu, 15 November 2017

Hai, gw Arin…


Pernah nangis pas lagi naik gunung gak? Biasanya sih perempuan pernah. karena curamnya jurang yang dilewati? Atau pergejolakan batin yang kuat antara diri lo dengan alam atau hanya sekedar capek?

Belakangan ini gw mau random talk di blog gw, nulis yang pingin gw tulis diluar konten blog gw. Sebenernya mepet dikit sih sama konten traveller. Hanya aja ini bukan catatan perjalanan, tapi gw mau berbagi cerita gunung apa aja yang uda buat gw nangis dijalan bahkan sampai uda pulang, nangis berhari-hari. Dan kenapanya gw bisa sampe nangis.


Kenyataannya perjalanan pendakian gunung, harusnya selalu bisa menjadi pembelajaran apapun itu, terutama pembentukan karakter manusia. Hakikatnya seorang manusia.

Oke… gw mulai dari gunung pertama yang bikin gw nangis pertama kali adalah Gunung Slamet di Jawa Tengah. Yaiyalah, gw bisa nangis… secara pertama kali gw naik gunung, langsung ke Slamet dengan bawa beban 21 kg, sedangkan saat itu berat badan gw cuma 42 kg. Diluar persiapan matang gw bersama teman-teman seperti persiapan fisik, tetep aja gw kurus bawa beban berat yang baru gw bawa dan naik gunung yang jalurnya nanjak terus. Gw akan merasa beban, gimana kalo gak latihan fisik, boro-boro nanjak si, gendong beban seberat itu belum tentu kuat. Gunung Slamet bukan gunung jalan-jalan yang kalo selama perjalanan kadang ada pemandangan indah. Harus punya persiapan yang matang untuk bisa safety mendaki gunung itu. Hutan disana masih sangat rimbun, jalur benar-benar setapak, bau hutan masih sangat kuat pada masa itu tahun 2012. Gw latihan fisik bersama tim untuk menyiapkan fisik gw saat pendakian. Membiasakan kaki bergerak lebih dari biasanya. Gw lari hampir setiap hari saat itu. Tetep j gw merasa beban gw sangat berat, diluar kaki gw emang uda kuat dan masih mau jalan. Punggung gw berasa sakit banget saat itu, sampe di pos 2 gw uda gak tahan akhirnya nangis, diem-diem. Gw cuma kebayang waktu itu, kalo naik gunung katanya sebuah filosofi hidup, apa kehidupan sebenarnya setelah gw selesai kuliah akan seberat ini, sampe gw gak tahan hadapin sendiri dan akhirnya nangis, pasrah dan harus tetap bisa melanjutkan perjalanan ini.  “Gw baru 2 pos, masih ada 7 pos lagi dan setelah itu turun melewati pos yang sama, apa gw bisa sampai akhir?”

Sesaat sebelum pendakian gunung Slamet. Didepan gerbang Slamet jalur Bambangan
(Pendakian perdana gw)
Gw

Akhirnya gw beneran minta istirahat sejenak. Tim gw sebagian ada yang memotivasi untuk “Yakin Bisa”. Tiba-tiba dari kata-kata itu gw keinget sama kalimat “Semua sugesti, kalo lo yakin bisa, lo bisa. Kalo lo bilang capek, lo akan merasakan tubuh lo capek.” …Akhirnya gw coba yakinkan kalimat itu benar kedalam diri gw, dan gw mensugestikan diri gw …“Bisa sampai puncak dan turun kembali dengan selamat. Semoga Alam merestui perjalanan ini.” Percaya gak sih… setelah itu gw sama sekali gak merasakan beban berat yang tadi gw rasain sampe nangis. Gw mulai bisa menikmati perjalanan, menghirup oksigen gratis ini sedalam-dalamnya. Gw tiba-tiba merasa ternyata main di hutan senikmat ini, sesejuk ini, setenang ini. Gw penasaran puncak gunung seperti apa, dan gw bertekad berjalan sampai puncak saat itu. Tanpa terasa gw uda tiba di pos 5. Lalu melanjutkan kepuncak dan kembali turun dengan selamat.

Tiba di puncak Slamet (Gw jaket kuning)

Gunung kedua yang bikin gw nangis adalah gunung Semeru Jawa Timur. Uda bukan soal beban ransel yang ditangisin, tapi gw gagal muncak di saat gw uda ada di pasir mahameru. Gw uda berjalan di atas pasir mahameru yang sangat sulit dilewati. Betapa lo harus tabah dan tangguhnya melewati itu. Saat dimana lo jalan mendaki satu langkah di pasir itu, tapi pasir itu merosok kebawah lagi 2-3 langkah mundur. Selain fisik dan kaki lo kuat adalah soal ketabahan hati lo menghadapi itu. Gw uda berjalan 3 jam di pasir mahameru, tapi belum berujung juga. Gw menggigil parah dan kaki gw seperti ga bisa jalan lagi. Akhirnya gw memutuskan yakin untuk berhenti sampai sini, dan lebih memilih pulang dengan selamat tanpa merepotkan temen-temen lain.

Sesaat sebelum pendakian gunung Semeru di mulai
(Gw pakai celana lapang putih tulang, carier hitam)

Dari perjalanan pendakian gunung yang uda gw lakukan, hanya di Semeru yang mampu membuat gw benar-benar putus asa sejenak dan berniat kembali mendaki gunung ini lagi lain waktu. Gw akhirnya nangis, tapi bukan saat perjalanan itu, justru setelah gw tiba di kamar kos gw yang kecil di Purwokerto. Gw berpikir keras, “ada apa? Kenapa gw memilih berhenti waktu itu?” (Gw merasakan kesedihan yang sangat dalam) Gw nangis berhari-hari. Gw adalah tipe orang yang percaya sejak pendakian pertama, bahwa Jika pendakian gunung gw sukses, berarti alam merestui perjalanan gw. Secara alam juga makhluk hidup. Semeru gw akuin adalah perjalanan yang gagal. Disanalah titik gw mencari alasan kenapa alam tidak merestui gw sampai puncak, kenapa? Apa salah gw? apa gw pernah berdosa dengan seseorang, atau gw pernah melakukan hal buruk di gunung? Berhari-hari gw memikirkan hal itu, tapi gw belum bisa menemukannya, dan akhirnya gw terus menangis. Sebegitunya sedih gw takut melukai apa yang ada di kehidupan ini. Apa gw melakukan kesalahan selama pendakian di Gunung Semeru? Gw pernah dalam hati, terus berkata “Maafkan aku kalo punya salah wahai Gunung Semeru”. Selebay itu gw…. Gw masih terus berifikir sampai detik ini. Ditambah gw belum bisa kesana lagi.

Gw yang berada dititik terakhir pendakian puncak Mahameru
(Pemandangan ke bawah)

 (Pemandangan ke samping)

Perjalanan turun (Gw pakai kaos dan celana hitam, mulai galau gagal muncak)

Gunung ketiga dan terakhir untuk saat ini yang bikin gw nangis pula adalah gunung Inerie yang berada di Kabupaten Ngada – Flores – NTT . Gw nangis pada saat gw berada dititik kepasrahan akan perjalanan ekspedisi gw. Bisa dibilang, lengah satu detik aja, gw bisa terperosok ke jurang yang ujungnya gak keliatan. Puncak gunung Inerie ada 2. Puncak kedua lebih tinggi dari puncak pertama kita datangin. Dari puncak pertama, gw sama beberapa orang melanjutkan perjalanan ke puncak kedua Inerie. Jalurnya berbatu kerikil miring, kita gak ada celah untuk melewati jalur dengan wajar meletakkan telapak kaki. Gw harus melipir. Ternyata lumayan jauh, saat gw uda mulai cape, gw hampir lepas tangan dari pegangan gw. Kalo gw gak berjuang menggapai sesuatu apa yang gw pegang , mungkin saat ini gw uda gak ada. Di detik itu juga gw lemes tapi gw gak boleh lengah. Kaki gw kaku, karena otak gw lagi gak singkron, bingung mau ngapain. Gw cuma pasrah saat itu dan ingat Sang Pemilik Hidup untuk berserah diri. Gw udah siap dari awal ikut ekspedisi, gw siap menerima resiko apapun perjalanannya saat itu. Titik kepasrahan itulah gw nangis, mundur sama maju sama aja jalurnya, akhirnya gw tetep milih maju.

Puncak gunung Inerie

Gunung Inerie di balik kampung adat Bena

Bacaan rekomendasi :
Jejak Kata Arin di Gunung Inerie - NTT


Gw gak tau berfaedahkah gw menceritakan ini? Semoga dengan berbagi pengalaman ini bisa berguna sekalipun hanya sekecil batu kerikil, diantara ribuan batu kerikil yang berada di puncak gunung.

Selasa, 14 November 2017

20 Random Facts about me...


  1. Anak bontot. Anak ke 2 dari 2 bersaudara
  2. Gw terlahir  tahun 1993 dengan bibir sumbing. operasi 2 kali, masih bayi dan kelas 6 SD terakhir operasi. Kata nyokap sih gw gak minum ASI. Gw disuapin susu apa gatau dari dokter, minum telur ayam kampung dan gatau lagi. Gw operasi di Rumah sakit Angkatan Darat, Gatot Subroto. Sakit dok,,, lepas jahitan gak pake bius.
  3. Selalu Rangking 1 jaman TK, dibalik itu gw juga sering dibully karena gw sumbing dulu. setelah itu SD menurun dan menurun, kebanyakan main.
  4. SMP gw mulai pakai kerudung full, dari sekolah, main dan dirumah. SMA buka lagi hehehe… maklum yaa…
  5. Ikut ekskul Paskibra di SMP dan pernah jadi pasukan pengibar bendera upacar Agustusan se-Kecamatan (SMP)
  6. Pernah jadi BASIS di sebuah band
  7. Dari kecil sampai SMA, penakut tapi mandiri. Sok berani padahal gw penakut banget dulu. Kenyataannya gw lebih takut jalan sendirian di kota besar daripada ke daerah.
  8. Kuliah D3 Manajemen Agrobisnis di UNSOED Purwokerto, 2011. Februari 2014 Magang di tawangmangu,Surakarta 2 bulan sendirian di Kebun benih hortikultura. Wisuda September 2014.
  9. Tahun 2012-2014 naik gunung setahun bisa 4 kali. Jaman kuliah suka cari uang dari dagang-dagang alat outdoor, dan hasilnya dihabiskan untuk keluar kota naik gunung.
  10. Gunung pertama yang didaki gunung Slamet, Jawa tengah tahun 2012
  11. Gunung yang pernah didaki, Slamet, cikuray, papandayan, Semeru, Merbabu, Gede, Argopuro, sindoro, Iya, Inerie, Kelimutu.
  12. Pernah ikut ekspedisi NKRI 2015 keliling Flores setengah tahun. Pengalaman hidup yang WOW buat gw, dan gw gatau kapan bisa kesana lagi
  13. Pernah minggat dari rumah tanpa ijin selama 4 bulan, buat kerja di luar kota
  14. Pakai hijab sejak Januari 2017
  15. Pernah pelihara 9 kucing di rumah
  16. Baru pacaran sekali, dan itu beda agama. Akhirnya memutuskan untuk tidak pacaran lagi sampai sekarang, cari yang serius aja
  17. Sangat mencintai hutan. kalo liat hutan tuh hati gw kaya merasa tenang, happy dan lebih kalem melihat hidup. Hutan dimana pun.
  18. Kopi favorit… Mochacino. Percampuran kopi dan coklat, I love this so much!
  19. Beauty enthusiast sejak akhir 2016. Ternyata make up tidak melulu hanya karena ingin dilihat laki-laki tapi soal estetika yang ada pada diri perempuan.
  20. Phobia kedalaman air. Di bak kamar mandi yang besar, gw bisa berhalusinasi ada hiu didalemnya.


SMP, 2005-2008

Narsis setelah usai Upacara

Acara 17 agustusan 2008

SMA, 2008-2011

Disini gw merasa jelek banget! bondol, item, jerawat!

Kegiatan kuliah, 2011-2014

Magang, di Tawangmangu, Surakarta 2014

Puncak gunung Slamet, 2012

Oro-oro Ombo, Semeru 2013

Gunung Cikuray, 2012

Ekspedisi di Danau Kelimutu, Ende, Flores-NTT

Acara penutupan ekspedisi di Labuan Bajo, NTT

Make up by Me

2017



Kamis, 02 November 2017

Hai, Gw Arin…



Udah pada tau ya Indonesia memiliki banyak gunung hutan tropis. Dan jaman sekarang lagi banyak banget yang pada suka naik gunung. Diantara mereka yang sudah bisa menikmati perjalanan pendakian gunung hutan akan merasa ketagihan, jadi mau naik lagi dan pindah-pindah gunung.


Pendakian gunung hutan pertama yang gw lakukan adalah gunung Slamet, Jawa Tengah pada tahun antara akhir 2011 atau awal 2012, gw agak lupa sih. Setelah itu, gw naik lagi, dan naik lagi sampai terakhir 2016 di gunung Gede, Jawa Barat. Gunung tertinggi yang gw naikin versi gw adalah gunung Semeru, Jawa Timur pada tahun 2013, gunung terjauh dari rumah gw yang pernah gw naikin adalah gunung Inerie, gunung Iya di Flores, pada tahun 2015.


Dari semua perjalanan yang gw lakuin, hampir semua peralatan pendakian yang gw bawa itu sama. Nah sekarang gw mau berbagi informasi tentang peralatan apa aja yang musti dibawa untuk melakukan pendakian gunung hutan ini, versi gw.

Peralatan pendakian gunung hutan tropis sudah sewajarnya diketahui oleh penggiat alam bebas. Agar perjalanan bisa tetap safety prosedur. Dengan mengutamakan keselamatan, kita akan bisa lebih menikmati perjalanan dengan aman dan nyaman. Jangan lupa, tujuan akhir perjalanan memang bukan puncak gunung, tapi bisa kembali selamat sampai rumah.

Peralatan pendakian gunung hutan bisa di bagi beberapa kelompok. Seperti peralatan perjalanan, peralatan Navigasi, peralatan tidur, peralatan masak dan makan, kemudian terakhir peralatan tambahan.

  1. Peralatan perjalanan
Ø  Pakaian dan celana lapangan yang ringan, nyaman dan gampang kering kalo basah
Ø  Sepatu trekking yang waterproof, dan dalemannya empuk, nyaman dipakai saat naik atau pun turun pendakian. Jangan lupa pakai kaos kaki lebih panjang dari sepatu, agar menghindari lecet pada kaki.
Ø  Jam tangan wateresist
Ø  Topi untuk melindungi kepala dari terik matahari
Ø  Ransel yang kuat tapi ringan
Ø  Cover bag, melindungi tas dari basah
Ø  Raincoat atau jas hujan, supaya bisa tetap melanjutkan perjalanan dengan aman dan nyaman di saat hujan
Ø  Headlamp untuk perjalanan malam


  1. Peralatan Navigasi
Ø  Peta topografi, bawa peta lokasi yang sedang kita datangi
Ø  Kompas bidik atau kompas orientasi
Ø  Pensil


  1. Peralatan Tidur
Ø  Pakaian tidur, pakaian tidur harus dibedakan ya dengan pakaian lapangan, supaya tidur kita juga nyenyak, istirahat jadi lebih maksimal. Besoknya bisa pakai baju lapangan yang sama dengan sebelumnya saat perjalanan kembali.
Ø  Sleeping bag dan jaket, menghindari penyakit hipotermia yaitu kedinginan. Tidur juga lebih hangat di gunung.
Ø  Matras
Ø  Tenda atau Flysheet


  1. Peralatan Masak dan Makan
Ø  Kompor gasmet / kompor lapangan
Ø  Tabung gas kecil / parafin
Ø  Nesting atau bisa trangia
Ø  Piring, sendok dan gelas


  1. Peralatan tambahan
Ø  MCK terdiri dari sabun, pasta gigi, sikat gigi dan handuk
Ø  P3K biasanya yang dibawa sesuai kebutuhan si pendaki, lebih tepatnya obat pribadi. Sekiranya penyakit apa yang sering di derita, dan bawa juga plester perban serta obat merah yang bisa terjadi pada siapa saja saat perjalanan.
Ø  Survival Kit itu lebih ke barang-barang yang kita butuhin kalo lagi urgent, seperti alat jahit semisal ransel atau baju ada yang robek, korek api, cermin, tali prusik, pisau. Biasanya survival kit dipacking pada wadah anti air.
Ø  Botol air, untuk menamoung air dan mengurangi sampah botol plastik
Ø  Kantong Plastik untuk membawa pakaian kotor juga sampah-sampah kecil sisa kita masak atau lain-lain, kemudian dibawa turun kembali.
Ø  Sandal, pengganti sepatu saat camp
* Golok, biasanya dipake untuk gali tanah kalo mau buang air besar dan menebas pohon jika dijalur yang kita lewati tertutup, sehingga harus membuka jalur baru
* Kamera untuk dokumentasi perjalanan


Nah untuk jumlah masing-masing peralatan biasanya disesuaikan dengan jumlah hari perjalanan. Ada peralatan yang cukup bawa satu dan ada juga peralatan harus dibawakan juga cadangannya. Peralatan ini juga ada beberapa yang merupakan peralatan tim, atau bisa dibilang dipakai secara bersamaan seperti tenda dan alat masak.


Secara umum ini peralatan bukan versi gw aja sih, tapi kaya emang seharusnya di bawa oleh pendaki gunung hutan, guna menghindari kecelakaan subjektif. Kecelakaan subjektif adalah kecelakaan yang terjadi disebabkan oleh manusianya, dirinya sendiri, seperti memakai alat yang kurang safety. Lo bisa bawa peralatan tambahan lainnya selain disini. Peralatan yang dibawa yang terpenting adalah aman, nyaman dan tepat guna.

Terima kasih buat yang uda baca, semoga berguna ya….

Bye…bye…







Popular Posts

Brush Makeup yang Harus dimiliki Pemula

Haii,, Saya Arin. Saya sebagai makeup pemula, yang baru senang makeup 2 tahun ini, mau coba sharing berapa dan apa aja sih brush ya...