(Konten Blog : Mountaineering & Beauty) Instagram & Facebook : @Dwiariyuni

Total Tayangan

Kamis, 28 November 2019


Halo, salam lestari ! Saya Arin.


Pernahkah kamu mendengar kalimat “Dimana tanah dipijak, di situ langit dijunjung.” ?. Kutipan kalimat tersebut memiliki arti untuk mengingatkan bahwa siapa pun kita sebagai pendatang harus bisa hormati dan hargai apa-apa yang ada di daerah tersebut. Mulai dari adat istiadatnya dan seluruh warga penduduknya. Tidak hanya itu, tidak mengganggu hewan liar yang ada di sana pun termasuk etika dari seorang pendaki loh ya. Karakter pendaki yang memiliki sifat dewasa berarti ia bisa beradaptasi dimanapun dan kapanpun ia berada. Nah sekiranya etika yang minimal harus disadari oleh pendaki gunung ialah :

  1. Patuhi aturan adat setempat. Sebagai pendatang, pendaki gunung biasanya akan menyiapkan diri di sebuah basecamp di desa setempat. Tentu kita harus menghargai aturan adat istiadat di desa tersebut. Apa-apa yang dilarang harus diperhatikan. Sopan santun menjadi cara pertama kita pendaki untuk mendapat keramahan dari penduduk setempat dan alam yang ada. Ikuti aturan adat desa setempat setidaknya juga dapat memperlancar kegiatan pendakian kita hingga selesai.
  2. Tegur sapa dengan penduduk setempat dan sesama pendaki. Di basecamp, biasanya kita bertemu dengan warga setempat, di pendakian bertemu juga warga yang sedang mungkin mencari kayu bakar di hutan. Dan pasti juga bertemu dengan pendaki dari daerah lain. Tegur sapa adalah cara yang tepat untuk menambah tali persaudaraan antar manusia. Dimana nanti pun kalo ada kendala, kita bisa saling membantu. Tegur sapa tidak melulu dengan usia yang lebih tua, tapi yang lebih muda juga kita boleh sapa lebih dulu sebagai contoh. Karena ini juga salah satu cara memanusiakan manusia tanpa pandang usia. Bagaimana kita bisa saling menghargai sesame manusia.
  3. Tidak vandalisme. Vandalisme menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dan sebagainya), atau perusakan dan penghancuran secara kasar dan ganas. Dalam konteks kali ini adalah perusakan dari keindahan alam yang sudah indah secara alami. Misal corat-coret di batu atau pohon. Jangan pernah ya teman-teman untuk melakukan vandalisme di alam bebas. Ngapain sih? NORAk. Buat apa kan? Biar bagus? Tanpa ada manusia,tanpa ada kamu nih,,, alam pada nyatanya sudah terbentuk indah dengan ciptaanNya. Biar ada kenangan kalo kamu pernah kesana? Yauda kalian bisa ambil gambar potret lokasi aja di sana kan, lalu dijadikan kenangan dengan memajang foto di kamar mu. Oke teman-teman, bisa kan? Bisa untuk tidak pernah melakukan vandalisme. Kalo liat ada pendaki lain seperti itu, tolong segera dihentikan ya.
  4. Tidak meninggalkan sampah. Sebagai pendaki, sudah barang tentu kita akan membawa sampah non organik sisa logistiK. Sangat diharapkan untuk kembali membawa sampah mu turun kembali. Jangan pernah ada yang ditinggal di gunung sekecil apapun sampah itu ya teman-teman. Alam mengijinkan kalian untuk bermain dengannya, jadi tolong sesuaikan diri kalian terhadap alam untuk justru tidak merusak alam dengan meninggalkan sampah-sampah di gunung.
  5. Tidak gaduh. Etika seorang pendaki salah satunya adalah tidak gaduh, baik dalam perjalanan maupun di lokasi camping. Tidak gaduh akan menghargai binatang liar di sana dan pendaki lainnya supaya mereka tidak merasa terganggu dengan kehadiran kita. Bercanda boleh, tapi tidak berlebih. Tertawa boleh, tapi tidak berlebihan. Bernyanyi boleh, tapi tidak terlalu keras. Jangan salah nih ya, Burung-burung pun bisa sangat terganggu dari getaran suara yang kita keluarkan loh teman-teman. Kasian kan… jadi jangan gaduh ya teman-teman.
  6. Tidak sembarangan dalam buang hajat. Pendakian biasanya dilakukan dalam jangka waktu 2 sampai 4 hari. Bahkan lebih tergantung lokasinya. Seorang pendaki dimana ia hanyalah seorang manusia yang juga butuh makan, sudah pasti juga perlu membuang air besar supaya pencernaan lancar. Saya menyarankan jika ingin membuang hajat untuk mencari lokasi di luar jalur pendakian, dan tertutup. Pastikan kamu juga didampingin teman dari jauh ya tapi tetap terpantau, supaya tidak tersesat untuk kembali ke lokasi camp. Gali lah tanah dengan dalam, sebagai wadah penampung kotoran kalian, usai itu ditutup kembali dengan tanah. Supaya aroma tidak menganggu yang lain. Sisa tissue basah bekas pakai bersih-bersih, masukan ke kantong sampah plastik kalian ya, jangan pernah ditinggal. Kalo ditinggal sama saja melanggar etika sebelumnya yaitu membuang sampah sembarangan.
  7. Tidak merusak Flora dan Fauna. Flora fauna di setiap gunung pasti ada beberapa yang termasuk langka. Biasanya yang langka dilindungi undang-undang loh ya. Kalo kalian merusak flora fauna yang langka, bisa dikenakan sanksi loh. Coba cari tau dulu ya apa saja daftar flora fauna yang langka. Kemudian bagaimana dengan flora fauna yang tidak langka??? Tentu jangan dirusak juga, buat apa sih yakaaan? Mereka sudah indah pada tempatnya, tidak perlu juga diganggu. Oke teman-teman… Dalam ilmu survival lain lagi ya, alasan memakan sebagian jenis tumbuhan atau hewan demi bertahan hidup seorang survivor, tentu tidak disalahkan.
Nah demikian Etika seorang pendaki gunung, sedikit banyak yang saya tahu. Semoga bisa saling mengingatkan selalu jika ada yang lupa. Terima kasih buat yang sudah membaca, semoga bermanfaat.

Salam Lestari !!!


Jumat, 08 November 2019


Hai, para skincare enthusiast… Saya Arin.

Saya ingin sharing nih pengalaman pribadi yang belum lama terjadi di kulit wajah saya. Sekitar 3 bulanan yang lalu saya mengalami breakout yang bisa dibilang parah. Beruntusan di seluruh wajah saya, dan itu juga ada isinya putih-putih gitu. Semua itu disebabkan oleh diriku yang memiliki alergi obat antibiotik. Cukup bikin stress sih huhu… karena saya juga sudah lama tidak jerawatan banyak lagi.


Alhamdulillah, saya bisa mengatasinya sebelum memutuskan untuk pergi ke dokter kulit. Beruntusan ini karena sudah diketahui apa penyebab munculnya yaitu alergi obat, akhirnya step pertama yang saya lakukan adalah stop penggunaan obat tersebut. Lalu saya banyak minum air putih, bahkan sampai bolak-balik ke kamar mandi untuk buang air kecil. Karena dengan begitu saya bisa membuang racun si obat yang ada di dalam tubuh saya. Wajah saya saat itu terasa gatal, efek dari alergi itu juga, jadi saya juga sempat minum obat anti alergi yaitu CTM, sampai gatalnya mereda. Selama 2 hari beruntusan masih sama, tidak nambah lagi dan tidak pun berkurang. Hari ke 2 namun gatalnya sudah sangat berkurang. Saya berpikir jika sampai hari ke 4 tidak ada perubahan di beruntusannya, mungkin saya akan memutuskan untuk pergi ke dokter kulit.

Di hari ke 3, rasa gatalnya alhamdulillah sudah berhenti dan isi putih-putih si beruntusan mulai mereda. Jadi sisa merah-merahnya aja di kulit wajah saya. Saya masih melakukan step yang sama yaitu banyak minum air putih girls. Seyakin itu saya sama air putih bisa sembuh lagi. Sembari itu saya memakai skincare yang memang ajib banget sih. Ngebantu dalam perbaikan kulit wajah saya. Skincare yang saya pakai ini bukan dari klinik kecantikan ya.


Skincare yang saya pakai pada saat itu dan hingga sekarang ialah,

  1. Facial wash dari The Body Shop yang Tea Tree Skin Clearing Facial Wash. Review : http://www.arinbeautytraveler.com/2017/03/review-tea-tree-skin-clearing-facial.html
  1.  Toner hydrating dari Hadalabo yang Ultimate Moisturizing Lotion. Review : http://www.arinbeautytraveler.com/2018/10/night-skincare-routine-sensitive-skin.html
  1. Madagascar Centela Asiatica Ampoule. Review : http://www.arinbeautytraveler.com/2019/09/review-madagascar-centella-asiatica.html
  1. Face Mask Carrot Tomato dari Velrose Secret
Semua itu saya pakai rutin pada pagi, siang dan malam hari. Khusus untuk penggunaan Face masknya, saya gunakan hanya sehari sekali pada sore hari aja guys. By the way, untuk review masing-masing produk di atas sudah saya tulis secara terpisah ya. Tinggal klik aja link di bawahnya jika ada yang ingin melihat review pribadi dari saya. Perkembangannya dalam sehari cukup cepat hitungannya. Dari mulai mereda kemerahannya, lalu mulai mengelupas si kulit merah yang seperti terbakar. Lanjut perbaikan tekstur kulit wajah. Alhamdulillah kembali lagi dengan normal kondisi kulit wajah saya. 

Sekarang

Sekian sharing acne story saya, semoga tidak ada kejadian ini lagi. Buat yang punya pengalaman yang sama, semoga bisa membantu dengan sharing ini. Karena sharing is caring. Terima kasih sudah buat yang sudah membaca.

Bye...bye...

Minggu, 03 November 2019

Lokasi. Pos 5 Gunung Slamet (Bambangan)

Musim hujan sudah mulai nyata adanya ya, akhirnya Alhamdulillah… Setelah sekian lama melewati masa musim kemarau hingga sering terjadinya kebakaran hutan di beberapa gunung hingga mulai keringnya ketersediaan air untuk kebutuhan rumah tangga. Bagi pendaki, cuaca panas dan cerah memang sangat mendukung dalam kelancaran dalam sebuah pendakian. Musim panas memang juga menjadikan seseorang selalu cerah menjalani hari-harinya, karena sebagian orang menganggap hujan bikin suasana menjadi mellow gitu aja.

Tapi sepertinya, setelah beberapa minggu belakangan ini kita baru saja mengalami suhu yang terlalu ekstrim panasnya, semua orang mendadak berharap turun hujan segera datang. Dan do’a seluruh makhluk bumi akhirnya terkabulkan. Bagi para pegiat outdoor, kadang hujan tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti dalam berkegiatan. Siapa sih yang mau berhenti berkarya hanya karena faktor cuaca, karena ketika memang kondisi masih bisa diatasi, pasti bisa diantisipasi segala resikonya. Saya akan bahas di dunia mountainnering, bagaimana tips mendaki gunung di musim hujan.

Di dalam perjalanan alam bebas khususnya gunung hutan kadang kita gak bisa pastikan bagaimana cuaca di sana. Bisa jadi di kota cuacanya panas, sedangkan di hutan gunung cuacanya tiba-tiba hujan deras. Persiapan seperti itu harus selalu ada ya… baik di musim panas dan apalagi di musim hujan. By the way… biasanya di musim hujan yang cukup ekstrim seperti seringnya angin kencang, badai hingga membuat pohon-pohon mudah tumbang, beberapa gunung di Indonesia biasanya akan ditutup pintu gerbang pendakian sementara waktu. Bukannya apa-apa, tapi memang demi keselamatan pendaki juga. Jadi kalau aturannya sudah begitu mending diikuti saja ya, karena memang itu sudah perhitungan ahlinya orang kebencanaan, cukup bahaya, resiko pun sulit diantisipasi. Jangan coba-coba nekat mendaki lewat jalur illegal loh ya.

Alat-alat yang harus siap sedia pakai ketika hujan turun dalam pendakian adalah trashbag, rain coat, cover bag, sepatu gunung dan payung. Simple kan… gak ada yang berat kan demi keselamatanmu juga. Oke baik mari kita bahas satu-satu apa saja fungsinya.

  1. Trashbag atau kantong plastik yang cukup besar, biasanya digunakan untuk menampung sampah. Kita gunakan sebagai lapisan dalam carier kita, supaya menjamin tidak basahnya barang-barang bawaan kita ketika hujan deras turun. Dalam pengelompokan logistic juga bisa dengan memisahkan dengan double plastik lagi ya. Terkadang hanya menggunakan cover bag, tapi hujan terlalu deras dan cukup lama, bisa merembas ke dalam tas juga pada akhirnya. Bagaimana kalo seluruh isi logistik kita basah semua ? bahaya… bisa sangat bahaya loh teman-teman. Serius deh. Kebayang gak, jaket basah, pakaian basah, alat masak basah, makanan basah. Bagaimana kamu akan mengahangatkan tubuhmu di saat hujan, dan lokasi yang sudah ada di ketinggian. Terlalu dingin dan kamu bisa terkena hipotermia bahkan kematian jika terlalu lama tidak ditindaklanjuti.
  2. Raincoat atau jas hujan sudah jelas sangat dibutuhkan untuk melindungi tubuh kita ya teman. Menghidari basahnya pakaian lapangan yang sedang kita pakai pastinya. Dengan begitu terjaganya suhu tubuh kita dari air hujan, bisa menjaga kestabilan dalam kefokusan perjalanan pendakian kita.
  3. Cover bag digunakan sebagai perlindungan terluar untuk logistic yang kita bawa ya, Ingat dalam pendakian gunung hutan, pentingnya logistik tetap terjaga dengan baik berarti pula menjaga keselamatan si pendaki. Logistik memang menjadi salah satu pentingnya syarat  hidupnya pendaki.
  4. Sepatu gunung syarat mutlak pendaki menggunakannya. Apalagi di musim hujan, menghindari cidera kaki karena licinnya jalur pendakian yang disebabkan air hujan. Kaki bagian krusial para pendaki untuk mencapai tujuan. Setidaknya memakai sepatu trekking, membantu meminimalisir terjatuhnya pendaki. Cidera pun bisa kita hindari.
  5. Payung biasanya bisa kita gunakan pada saat di tempat camp. Untuk supaya lebih taktis dalam bergerak di wilayah camp. Kita tidak perlu repot pakai rain coat jika ingin buang air kecil, buang air besar atau pun sekedar memperbaiki flysheet tenda yang bocor.
Sesimpel itu kan sebenernya. Kalo merasa 5 hal ini aja bikin kamu ribet, saranku udah deh gak usah mendaki gunung, ngerepotin tim SAR hehe… Saya pernah loh jadi tempat curhat salah satu relawan pos pendakian, mereka cukup kurang tidak suka pendaki yang terlihat jelas kurang safety. 

Ingat gunung hutan adalah bukan biasa tempat kita bermain, sangat beda dengan di kota. Kamu bisa apa ketika hujan turun dan badai jika tidak membawa ke lima peralatan di atas??? Resiko sulit diantisipasi. Nyawa mu sunggu berharga melebihi apapun guys.

Oke, itu aja tips dari saya, semoga membantu dan bermanfaat. Terima kasih bagi yang sudah membacanya. Bye… bye…

Popular Posts

Etika Dalam Mendaki Gunung

Halo, salam lestari ! Saya Arin. Pernahkah kamu mendengar kalimat “Dimana tanah dipijak, di situ langit dijunjung.” ?. Kutipan ka...