Gw punya hobby travelling dan bermain make-up. Dari kecintaan tersebut akhirnya gw memutuskan berbagi cerita travelling dan membahas make-up favorit, lewat blog yang gw buat bertemakan "Fun Beauty Traveler".

Total Tayangan

Jumat, 21 April 2017

Halo .. Gw Arin
Udah lumayan lama gw gak nulis blog.

Kali gw mau review Face Contour Kit nya dari Make Over ya…


Dimulai dari Packagingnya, Face Contour Kit ini di bungkus dengan kardus berwarna hitam yang membuat terlihat elegan dengan tulisan brand Make Overnya dan isi 14 gr. Bagian belakang dusnya terdapat ingredients, cara pakai dalam 2 bahasa, yaitu inggris dan Indonesia. Kemudian ada juga tanggal kadaluarsanya dan nama perusahaan yang memproduksinya.


Lanjut bagian dalamnya, Face Contour kit ini dibuat sama persis seperti bedak two way cakenya Make Over juga. Terbuat dari plastik, tapi tetap elegan karena efek dari warna khas brand mereka yaitu hitam. Ada kaca, 1 Kontur warna coklat lumayan warm, cocok buat kulit gw yang sawo matang sih. Tapi kalo buat yang kulit terang harus agak hati-hati sih makenya, karena lumayan pigmented warnanya. 1 lagi warna putih tulang untuk highlight, tapi dia gak ada shimerinya gitu. Highligtnya matte. Nah kalo warna kulit terang mau pake konturnya takut kegelapan bisa di campur sama si highligt nya ya…

Wanginya itu wangi bedak gitu. Dia juga menyediakan flat brush gitu, tapi menurut gw terlalu kasar. Karena tekstur kontur dan highlight ini terlalu powdery banget, jadi saranku kalian harus pakai brush sendiri aja ya supaya gak terlalu sering full out dan malah jadi boros. 

(sumber : www.tokopedia.com/vavabeauty4ever)

Gw sendiri ngerasa pake ini kaya pake bedak tapi warnanya coklat dan putih tulang. Gw agak takut sih pas make, soalnya gw hampir gak pernah pakai bedak Cuma foundation aja. Karena pori-pori gw besar, kalo pake bedak malah gampang komedoan, jerawat dan bikin mhasil make up cakey gitu. Tapi pas gw coba stay 2 jam setelah pake ini, fine-fine aja dan malah bikin matte si foundation make overnya yang satin finish. Setelah cuci muka dan besoknya, gw pake ini gak komedoan sama sekali. Mungkin karena kualitas dasar si foundationnya yang juga uda bagus.

Face contour kit ini menurut gw awet banget, kelihatan natural karena bentuknya powder bukan krim. Tapi pas gw coba ambil wudhu, konturnya ilang hahaha…. jadi intinya kalo gak kena air, kontur nya awet ya. Cuma yang lainnya masih stay ko setelah kena air.

Gw itu punya berat badan 42 kg tapi pipinya chuby banget, kesel kan heuheu. jadi kalo di foto kelihatan gemuk, kalo lihat aslinya gw kurus banget heuheu.. so gw suka sih sama Face Contour kit, bikin pipi gw keliatan tirus soalnya. Kalo ilang abis ambil wudhu, tinggal di touch up lagi hehe…

Dari harga jualnya yang Rp 105.000 lumayan worth to buy lah. Btw gw juga suka pake si kontur yang coklatnya matte ini untuk eyeshadow sebagai warna transisi loh.

Make up gw tanpa Face Contour Kit

Make up gw dengan memakai Face Contour Kit

Segitu aja ya review gw, terima kasih uda baca.

Bye…bye…

Jumat, 14 April 2017

Halo gw Arin…

Kali ini gw akan berbagi jejak kata gw di Gunung Slamet dengan lintas jalur bersama teman-teman MPPA “Carya Bhuana”. Jejak kata kali ini akan lebih sedikit panjang dibanding jejak kata sebelumnya, karena pendakian gunung Slamet ini melakukan yang namanya lintas jalur. Jalur Gambuhan dan Bambangan. Naik dari jalur Gambuhan dan turun di jalur Bambangan.

Gunung Slamet Jalur Gambuhan

Pendakian ini dilaksanakan tahun 2013 dalam rangka Pendakian Wajib MPPA “Carya Bhuana” yang memang di agendakan setiap tahunnya. MPPA “Carya Bhuana” adalah organisasi Mahasiswa Pecinta Alam dari Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Oh iya, yang pasti pendakian ini disaat gunung Slamet belum ada warung-warung. Heuheu…. Masih alami lah walaupun sudah populer.

Tim1 Bambangan dan Tim 2 Gambuhan

Rombongan dibagi 2 tim, tim pertama mendaki melewati jalur Bambangan dan turun  di jalur yang sama. Tim kedua (5 orang) mendaki melewati jalur Gambuhan dan turun di jalur Bambangan. Gw masuk ke dalam tim kedua saat itu. Tim 1 dan tim 2 membuat perencanaan untuk menuju puncak Slamet secara bersamaan. Dan bertemu di titik puncak Slamet dari sisi jalur Bambangan.

Tim 2. Gambuhan

Seperti biasa gw akan lebih banyak taro foto-foto disini yaa… dan jejak kata gw akan lebih banyak menceritakan perjalanan tim 2 saja. Karena gw memang ada di tim 2 J .

Gunung Slamet adalah gunung tertinggi di Provinsi Jawa Tengah dengan ketinggian kurang lebih 3.428 meter di atas permukaan laut (mdpl). Gunung berapi ini terletak di antara 5 Kabupaten yaitu Kabupaten Brebes, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Pemalang. Gunung Slamet ini sudah semakin populer di kalangan pendaki, khususnya jalur Bambangan. Jalur Bambangan berada di Kabupaten Purbalingga.

Gunung Slamet ada cerita legendanya loh bagi warga lokal. Seperti biasa warga lokal akan punya kepercayaan sendiri dimasing-masing daerahnya, apalagi daerah Gunung. Dari nama Slamet pada gunung ini diartikan dari bahasa Jawa yaitu Selamat. Warga lokal percaya gunung ini tidak akan pernah meletus besar dan selalu memberikan rasa aman selamet bagi warga sekitar. Karena menurut mereka pula, jika gunung Slamet ini meletus besar, maka Pulau Jawa akan terbelah dua. Serem banget kan…. Jangan sampe deh. Heuheu….

Oke…kita mulai jejak kata pendakiannya ya. Gw di Tim 2 melewati jalur Gambuhan yang berada di Kabupaten Pemalang . Tim 2 terdiri dari 5 orang, 2 laki-laki dan 3 perempuan. Jalur Gambuhan lebih rimbun dan lebih setapak jalurnya dibanding jalur Bambangan. Jalur ini lebih ekstrim dan banyak pohon besar tumbang.

Pos 1 sampai pos 4 merupakan hutan yang cukup lebat rimbun, sehingga masih sangat adem dan segar udaranya.  Hampir setiap pos dibuat lumayan sedikit luas, cocok untuk yang ingin sekedar istirahat dan makan di waktu perjalanan. Kita sempat dilanda hujan deras sih, jadi perjalanan kami mengenakan pakaian lapangan dengan luaran Raincoat/jas hujan. Tips juga ya.. selalu bawa Raincoat untuk setiap pendakian. Kalo gw sih setiap traveling kemana pun pasti bawa raincoat sama payung. Jadi diperjalanan gak akan terlalu terkendala sama cuaca gimana pun.

Perjalanan menuju pos 1 Gambuhan

Pos 1 Gambuhan

Pos 2 Gambuhan

Tiba-tiba hujan dan segera pakai Raincoat

Pos 3 Gambuhan

Perjalanan yang masih tersimpan di memori gw adalah ketika perjalanan dari pos 3 menuju pos 4 saat hujan lebat, dan kita sedang melewati batang pohon tumbang yang besar. Ketika harus menaiki batang pohon tumbang itu cukup beresiko karena licin dari hujan lebat, akhirnya kita memutuskan merangkak dibawah pohon-pohon tumbang. Dan itu lumayan panjang coy. Gw sempet pegel juga pas merangkak. Heuheu….

Pos 4 Gambuhan

Akhirnya sampai juga kita di pos 4 disaat hujan mulai reda, tapi masih gerimis. Kita  mendirikan tenda untuk bermalam di pos ini. Di pos 4 ini, kita sudah mulai di hadiahi pemandangan yang indah. Pemandangan yang ada di kaki gunung Slamet yang pastinya. Jadi kita masih akan terus semangat menuju puncak Slamet untuk bertemu tim 1. Pos 4 ini bisa dibilang hampir mendekati batas pelawangan, karena hutannya sudah mulai terbuka.

Pemandangan dari Pos 4

Esok dini harinya kita membongkar tenda dan packing kembali untuk melanjutkan pendakiannya. Dari pos 4, kita langsung menuju puncak Slamet. Perjalanan menuju puncak, kita melalui jalur yang ada. Kita sempat berhenti karena jalurnya terpotong akibat longsor. Bisa jadi ini longsor saat hujan badai di kemarin hari. Karena menurut teman gw yang sebelumnya sudah survey, jalur ini belum longsor. Akhirnya kita membuka jalur sedikit melambung guna menghindari longsoran aja, sampai bertemu kembali dijalur yang seharusnya.

Jalur yang terpotong akibat longsor

Pemandangan saat menuju puncak

Setibanya di batas pelawangan. Kita beristirahat sebentar untuk mempersiapkan tenaga menuju puncak. Tim kita hampir semua baru pertama kali kepuncak Slamet dengan membawa carier. Jadi otomatis kita bersiap-siap terlebih dahulu, dan baca do’a yang pasti.

Menuju puncak dari batas Pelawangan

Setibanya kita dipuncak. Kami baru sedikit bersyukur karena memang sebenarnya belum selesai perjalanan kita. Kita harus melewati lereng puncak Slamet. Puncak Slamet yang sangat luas ini harus kita lewat dari puncak Gambuhan dengan hati-hati menuju titik temu dengan tim 1 di puncak jalur Bambangan. Berbatuan dan tanpa jalur. Menuruni dan menaiki kembali bebatuan. Karena tidak ada jalur khusus, jadi kita hanya berfokus dititik bendera Hijau, bendera kebesaran MPPA “Carya Bhuana” dan memilih jalan sendiri. Memilih batu yang sekiranya dipijak tidak akan longsor parah. Menginjak dan berpegangan batu saat membawa carier adalah hal yang cukup menegangkan. Heuheu…

Puncak Slamet Via Gambuhan

Menuju Puncak Bambangan melewati Segoro Wedi

Segoro Wedi

Dan pada akhirnya kita bertemulah dengan tim 2. Kita sangat bersyukur dan segera bersujud. Dan tak lupa berpelukan dengan teman-teman dari rombongan tim 1.

Tiba di puncak Slamet (Bambangan)

Bersama sebagian dari Tim 1 Bambangan

Pemandangan yang terlihat dari puncak ada beberapa gunung, seperti sindoro, sumbing dan kawasan pegunugan disekitarnya. Karena saat itu dipucak cukup berkabut jadi tidak seluruh pemandangan terlihat jelas. Tapi walaupun begitu kita uda sangat bersyukur dengan diberinya keselamatan.

Pos 5 Bambangan

Pemandangan dari Pos 5 Bambangan

Dari puncak Slamet via Bambangan, kita semua turun bersama-sama menuju pos 5 Bambangan untuk mendirikan tenda kembali dan bermalam disana. Di pos 5 Bambangan sangat ramai pendaki lain diluar tim kita. Dan kita juga sempat berfoto dengan mereka saat sebelum turun dari pos 5 menuju basecamp Bambangan.

Bersama pendaki lain di Pos 5 Bambangan

Dari pos 5, kita langsung turun menuju basecamp tanpa ngecamp lagi. Kita juga sempat beristirahat untuk makan siang di pos 2. Dan lanjut lagi menuju basecamp. Sampai pada akhirnya kita tiba di basecamp bambangan yang super ramai…  

Makan siang di Pos 2 Bambangan

Basecamp Bambangan

Nah itu dia, sedikit banyak jejak kata dari gw di Gunung Slamet ya. Udah banyak pendaki yang naik gunung ini, pasti punya juga cerita masing-masing, walaupun kadang sulit diungkapkan apalagi ditulis.
Terima kasih ya yang uda baca… kalo lo suka boleh di share, dan kalo ada yang ingin ditanya atau kritik saran juga boleh banget dikomen. Komentar ya dibawah.

Jangan lupa bawa kembali turun sampahnya ya

Oh iya selama di alam bebas atau kampung orang tanpa ijin, jangan mengambil apapun ya selain gambar, jangan meninggalkan apapun selain jejak dan juga jangan membunuh sesuatu kecuali waktu.

Salam Lestari…

Bye.. bye…

Rabu, 12 April 2017

Hallo semua…

Gw Arin, mau berbagi sedikit jejak kata gw di Gunung Merbabu. Pasti udah banyak kan ya yang kesana. Jangan samakan perjalanan gw ini tahun 2013 sama di tahun sekarang ya, mungkin ada banyak perubahan disana. Karena minat jadi pendaki gunung semakin banyak saat ini, bisa jadi ada banyak warung di setiap pos seperti di beberapa gunung lainnya. Dulu sih perjalanan gw saat itu gak ada warung disetiap pos, masih alami bro… dan gw lebih suka kalo di Gunung ya gak ada warung.

Puncak Merbabu

Okeh,,, seperti biasa gw akan lebih banyak taro foto-foto disini, supaya lebih menggambarkan lagi.

Saat itu gw naik gunung Merbabu di akhir 2013 bersama teman-teman dari Phsychopala. Phsychopala adalah Organisasi Mahasiswa Pecinta Alam dari Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Jalur yang kita lewati ialah Jalur Selo yang juga berdekatan dengan jalur pendakian Gunung Merapi.


Gunung Merbabu juga merupakan Taman Nasional, yang dinamakan Taman Nasional Gunung Merbabu. Lokasi gunung api ini berada di Provinsi Jawa Tengah yang lerengnya mencakup Boyolali (lereng timur dan selatan), Magelang (lereng barat) dan Semarang (lereng utara).  Jalur Selo yang gw lewati berada di Kabupaten Boyolali. Gunung ini memiliki ketinggian kurang lebih 3.145 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan terakhir meletus pada tahun 1797.

Basecamp Jalur Selo

Jalur selo memang sudah menjadi jalur yang relatif lebih rame dari jalur lainnya, karena ada pemandangan yang indah dengan sabana yang menghampar dan jalur ini berdeketan dengan jalur Merapi, sehingga pemandangan Gunung Merapi terlihat sangat jelas loh.

Pemandangan depan Basecamp

Perjalanan kita dimulai sekitar jam 13:00 WIB dari basecamp Selo dan berakhir di pos 4 Sabana 1. Pada perjalanan dari basecamp menuju pos 1 yang diberi nama Dok Malang, kita memasuki hutan dengan pohon lebih banyak jenis pinus dan lamtaro. Masih terasa sejuk di perjalanan ini karena rimbunnya pepohonan. Lalu dilanjutkan perjalanan selanjutnya pos 2 yang diberi nama Pandean.

Pos 1. Dok Malang

Pos 2. Pandean

Perjalanan pos 1 ke pos 2 lebih panjang dibanding dari basecamp ke pos 1, dengan trek yang tidak terlalu curam. Oleh karena jalur pos 1 sampai pos 2 panjang, maka diberi pos bayangan untuk beristirahat sejenak. Setiap pos kita memang sempatin berfoto sebagai dokumentasi perjalanan, juga sambil beristirahat sejenak yang pastinya. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju pos 3 yang juga diberi nama yaitu Watu tulis. Di pos 3 mulai terlihat bunga abadi nya yaitu Edelweis… eits jangan dipetik atau diapa-apain ya…

Pos 3

Oke dilanjut menuju pos 4, dimana trek mulai curam dan bikin nafas sedikit tersendat. Tapi ada yang bikin semangat kok, yaitu pemandangannya yang terlihat jelas karena kita mulai memasuki Sabana. Sabana yang berumput, berbatu dan berpasir, membuat kita harus ekstra hati-hati loh supaya tidak tergelincir. Gunung Merapi juga terlihat sangat jelas. Oh iya Pos 4 ini diberikan nama Sabana 1.

Trek menuju pos 4

Pemandangan di jalur menuju pos 4

Sabana 1 merupakan tempat yang pas dijadikan tempat berkemah. Biasanya pendaki juga mendirikan tenda disini dan meninggalkannya ketika ingin menuju puncak Merbabu. Gw juga dirikan tenda bersama teman-teman disini. Sayangnya karena ini padang sabana, jadi harus hati-hati juga, selalu siap siaga karena anginnya lumayan kencang, apalagi kalo badai jadi cukup lumayan rawan kalo dirikan tenda disini. Untungnya sih perjalanan kami sangat cerah, sangat panas sampai perjalanan turun kembali.

Pos 4. Sabana 1

Pemandangan puncak Gunung Merbabu dari Sabana 1

Saat itu gw sama teman yang lain tidak lihat sunrise di puncak, tapi cukup di sabana 1 yang udah lumayan indah kok. Disana terlihat gunung Merapi juga Gunung Lawu. Setelah agak siangan, kita baru deh kepuncak.

Camp kita di pos 4. Sabana 1

Sunrise dengan siluet Gunung Lawu

Saat menuju puncak kita hanya berempat, tidak semuanya naik. Teman-teman yang tidak naik, menunggu dan masak-masak di pos 4. Untuk kita yang naik menuju puncak, hanya membawa daypack berisikan air, makanan juga jas hujan., jadi tidak semua peralatan camping dibawa. Dari pos 4 Sabana 1, kita harus melewati pos 5 yaitu Sabana 2 dengan trek lumayan terjal, yaitu menaiki bukit pertama, dan bukit kedua untuk menuju puncaknya. Puncaknya diberi nama Puncak Kentheng Songo.

Perjalanan menuju pos 5. Sabana 2


Trek menuju Puncak dari pos 5. Sabana 2

Pemandangan yang terlihat diatas puncak berupa gunung Merapi, Lawu, Sindoro dan Sumbing. Indah banget kan, bersyukur banget sampai puncak kita juga diberikan cuaca yang sangat cerah. Dipuncak juga ada beberapa memoriam pendaki yang meninggal disana. By the way… jangan terlalu terlena juga ya sama pemandangan yang ada disana, sampai kita lupa menjaga kondisi kesehatan badan kita. Perjalanan di padang sabana yang sangat terbuka, panas namun dingin di ketinggian 3.145 mdpl ini bisa membuat kulit kita sangat kering dan pecah-pecah. Jadi jangan lupa pakai sunblock, ya minimal pakai topi deh.

Tiba di Puncak Merbabu dengan background Gunung Merapi

Salah satu Memorian meninggalnya seorang pendaki Gunung Merbabu

Gw selama pendakian di gunung Merbabu ini, saat itu tidak memakai pelindung kepala sama sekali. Gak tahu kenapa ya… Setelah pulang dari perjalanan ini, gw mengalami yang namanya mimisan berhari-hari. Mimisannya juga gak sedikit, tapi banyak dan setiap hari bisa beberapa kali. Sampai-sampai mengganggu waktu gw kuliah yang akhirnya dibawalah gw ke klinik sama anak kampus. Mungkin efek terlalu panasnya dari paparan sinar matahari di kepala gw. Jadi saran gw pakailah topi ya, juga sunblock supaya kulit lo gak mengelupas parah. Baru pertama kalinya sih gw turun gunung terus mimisan, dan mimisan juga memang baru sekali ini seumur hidup, langsung berhari-hari lagi. Heuheu…

Puncak Kentheng Songo

Nah segitu aja dulu ya jejak kata gw di Gunung Merbabu. Terima kasih yang udah mau baca. Jangan lupa juga, dibawa turun kembali sampah-sampah kalian saat mendaki. Salam Lestari…

Bye… bye…


Senin, 10 April 2017

Hai… Gw Arin

Kali ini gw akan review eyeliner pensil by Make Over…

Sumber foto : Instagram @Makeoverid

Eyeliner Pencil dari Make Over ini ada berbagai macam warna. Tepatnya 11 warna eyeliner. Dari yang netral seperti hitam dan coklat sampai ke emas, putih, hijau dan biru. Cuma gw saat ini baru punya yang warna coklatnya aja. Namanya Brown Latte.

Eyeliner pribadi yang udah 3 kali diraut

Karena warna-warnanya super nyata, alias kalo lo aplikasiin tanpa ditekan aja uda keluar warnanya. Jadi gw pilih coklat bukan yang hitam. Mata gw yang uda cukup besar kalo pakai eyeliner warna hitam takut terlalu intens aja, Jadi gw beli warna coklat supaya bisa tetap keliatan natural kalo siang hari.

Tekstur pensilnya creamy banget jadi gampang banget dipakai khususnya di water line tanpa harus ditekan. Warnanya sangat intens. Kalo lo mau blend juga bisa pakai brush sebelum kering. Biasanya kalo buat pergi sehari-hari gw cuma pakai di outer corner abis itu di blend dikit biar gak kaku aja garis eyelinernya.

Terakhir yang gw suka adalah, waterproof !!! jadi setelah dipake nunggu kering seeeebentar aja dan kalo uda kering jadi bisa awet banget deh, g usah takut bleber karena keringet atau nangis. Eyeliner pensil ini bisa kok hilang kalo pakai make up remover ya…

Harganya Rp 80.000 netto 1,2 g. Worth to buy kok. Walaupun brand lokal dia gak kalah sama kualitas brand luar. Udah banyak banget beauty blogger maupun vlogger yang sangat merekomendasikan eyeliner ini. Bahkan ada yang bilang ini eyeliner terbaik untuk brand lokal.  Cobain aja deh.

Segitu aja ya singkat review gw buat eyeliner pensil dari Make Over. Terima kasih uda baca, kalo lo suka boleh di share. Kalo ada yang ingin ditanya boleh komen ya di bawah.


Bye.. bye…

Popular Posts

Morning Skincare Routine ( Kulit Sensitif )

Haii,,, udah lumayan lama gak nulis. Akhirnya saya memutuskan untuk menulis lagi tentang skincare. Kali ini saya mau sharing khusus mor...