Gw punya hobby travelling dan bermain make-up. Dari kecintaan tersebut akhirnya gw memutuskan berbagi cerita travelling dan membahas make-up favorit, lewat blog yang gw buat bertemakan "Fun Beauty Traveler".

Total Tayangan

Sabtu, 08 April 2017

Hallo semua… Gw Arin

Kali ini gw akan menepati janji gw untuk membuat Jejak kata di Gunung Inerie. Dimana waktu itu gw pernah tulis Jejak Kata Arin pada Pesona kampung Adat Bena, lo bisa buka di https://arinbeautytraveler.blogspot.co.id/2017/04/jejak-kata-arin-pada-pesona-kampung.html . Menurut penduduk kampung adat Bena, gunung Inerie merupakan tempat bersemayamnya para Dewa yang juga Dewa penjaga kampung adat mereka. Di lereng gunung Inerie memang banyak sekali kampung adat, ada 19 kampung adat, dan yang paling terkenal itu ya memang Kampung Adat Bena.


Saat itu pendakian gw bersama beberapa teman dan seorang bapak tua warga lokal sebagai guide kita. Bapak tua ini memang sudah sering mengantar wisatawan  yang ingin mendaki gunung Inerie. Maaf ya gw lupa banget nama Bapaknya, soalnya ini pendakian uda lumayan lama, tahun 2015.

Puncak Pertama 

Gunung Inerie punya arti dari namanya loh. Inerie terdiri dari 2 suku kata dari bahasa Flores sendiri, yaitu Ine dan Rie yang berarti Ine adalah Ibu dan Rie yang berarti Cantik. Gunung Inerie adalah gunung berapi yang berada di Kabupaten Ngada, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Gunung yang masih aktif ini memiliki ketinggian 2.245 mdpl dan terakhir meletus pada tahun 1970.

Tampak Gunung Inerie dari perjalanan saat masih di motor

Gunung ini sudah hampir mirip padang savana karena gundul, hanya rerumputan dan perkebunan warga yang ada. Pohon-pohonnya sangat sedikit. Dikarenakan yang melakukan pendakian ke gunung ini memang jarang, jadi jalur dari lereng menuju puncak tidak begitu jelas. Jalur yang gw lewati benar-benar kering, gak ada air. jadi lo kalo mau kesini harus persiapkan air yang sangat cukup sampai perjalanan turun ok. Batas pelawangan menuju puncak juga lumayan jauh, berbatu kerikil dan sangat licin. Jadi harus hati-hati banget ya. Perjalanan ke puncak kurang lebih 3 sampai 4 jam.

Jalur yang dilewati

Pemandangan dari garis pelawangan

Oh iya Gunung Inerie ini memiliki 2 puncak. Puncak pertama lebih rendah dari pada puncak kedua. Karena memang bentukan kawah pada puncak menurun. Perjalanan yang paling menegangkan adalah ketika dari puncak pertama ke puncak kedua, saat disana memang tidak ada jalur. Lo harus melipir kawah puncak yang lumayan jauh dengan sangat hati-hati. Gw hampir nangis sih karena pasrah kalo memang harus jatuh. Pasrah yang dimaksud bukan berarti jalan aja tanpa berhati-hati, tapi pasrah yang dimaksud adalah ketika gw uda memulai perjalanan pendakian ini, gw harus teruskan dan selesaikan, masalah apa yang terjadi harus di hadapi dan ditanggung resikonya.

Di depan kawah dan puncak kedua Inerie

Kawah puncak Inerie

Nah perjalanan menuju puncak kedua itu,lihat kebawah… jurang menuju pelawangan, lihat ke atas… langsung ke jurang kawah. Gimana gak panik coba? Tapi kita memang harus fokus, dan menjaga emosi. Jangan sampai panik apalagi nangis bisa-bisa berhenti ditengah jalan, maju engga, mundur juga engga. Banyak do’a aja sih waktu itu heuheu….

Pemandangan dari atas puncak 


Sesampainya di puncak kedua, rasanya mau duduk aja dulu dan bersyukur sambil lihat pemandangan di atas awan. By the way, gw baru kali ini loh lihat di puncak gunung ada banyak koin mata uang, bahkan dari luar negeri ada. Ya itu tadi balik ke cerita soal keyakinan warga lokal dengan adanya para Dewa yang pusatnya bersemayam di titik puncak kedua Inerie ini. Katanya sih sebagai penghargaan atau ucapan terima kasih kita dengan memberikan mata uang tersebut lalu diletakkan di atas puncak Inerie.

Puncak kedua Inerie

Puncak kedua Inerie

Gw sih percaya gak percaya. Tapi gw juga gak mau menentang, biarkan saja kalopun memang ada. Gw sebagai pendatang harus menghargai kepercayaan penduduk lokal dan mengikuti aturannya. Minimal melakukan yang pada umumnya saat pendakian di gunung yaitu tidak ada niat buruk sama sekali, jangan sombong, jangan nakal, jangan bicara kasar, yah intinya yang baik-baik aja lah. Dan Puji syukur Alhamdulillah gw bersama teman-teman selama pendakian hingga turun kembali tidak ada kejadian buruk apapun. Malah masih bisa menikmati keindahan dengan cuaca yang sangat cerah. Sayangnya memang kita gak nge camp disana, karena mengejar waktu juga untuk perjalanan ekspedisi selanjutnya. Jadi gak dapet sunset ataupun sunrise.

Istirahat di perjalanan turun

Nah begitulah sedikit cerita pendakian di Gunung Inerie pada masa itu. Bisa dibilang ini gunung terakhir yang gw naiki di tahun 2015, sampai akhirnya baru mendaki lagi tahun 2016 di Gunung Pangrango – Jawa Barat bersama teman-teman Srikandi Nusantara.

Terima kasih ya yang uda baca tulisan gw. kalo lo suka boleh banget di share. Kalo mau cobain mendaki gunung Inerie ya silahkan di coba. Komen dong dibawah gunung terakhir apa yang pernah lo daki, ok. Atau gunung apa yang pertama kali lo daki?

Okedeh, selama di alam bebas atau kampung orang tanpa ijin, jangan mengambil apapun ya selain gambar, jangan meninggalkan apapun selain jejak dan juga jangan membunuh sesuatu kecuali waktu.

Salam Lestari…


Bye … bye…

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Review Blush On by Make Over

Hai hai… Saya Arin. Kali ini saya mau lagi-lagi review tentang kosmetik, yaitu Blush on dari Make Over. Kayanya saya telat banget baru ...