Gw punya hobby travelling dan bermain make-up. Dari kecintaan tersebut akhirnya gw memutuskan berbagi cerita travelling dan membahas make-up favorit, lewat blog yang gw buat bertemakan "Fun Beauty Traveler".

Total Tayangan

Senin, 30 Oktober 2017

Halooo… Gw Arin


Tiba-tiba gw excited banget deh, mau review film dokumenter yang baru aja tayang perdana kemaren pada 26 Oktober 2017, judulnya “Negeri Dongeng”. Disini gw mau review aja ya… bukan menceritakan dengan jelas bagaimana jalan cerita film Negeri Dongeng ini, karena tujuan gw disini pun hanya menyebarkan virus kebaikan yang gw dapet dari pesan-pesan moral di film ini, dan mengajak kalian semua untuk menontonnya. Diluar orang yang suka berpetualang ataupun bukan, menurut gw, semua harus tau isi atau makna di film ini dengan menontonnya.


Sebelum mereviewnya, gw mau tulisin dulu synopsis film ini : Perjalanan melihat Indonesia, melihat sahabat dan rekan-rekan seperjalanan dan juga melihat diri sendiri. 7 sineas muda Indonesia yang mendaki 7 puncak gunung tertinggi di Nusantara berbekal 7 buah kamera. “Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah, kami naik gunung”. Perjalanan panjang membuat mereka mengupas cerita pada setiap tempat yang disinggahi. Beragam emosi berkecamuk dalam perjalanan. Pertemuan dengan orang-orang  baru selama penjelajahan darat, laut dan udara. Setiap potongan kisahnya akan memperlihatkan betapa Indonesia begitu kaya dan luas untuk dijelajahi bersama-sama. Dan di ujung perjalanan itu, kita akan menemukan arti sebuah perjalanan.

Jadi pertama kali gw tau kalo tanggal 26 oktober ini tayang, gw langsung mau nonton banget, udah rencana cari-cari temen yang bisa, kalo gak bisa, gw bakal tetep nonton sendiri. Gw berasa ini film gw banget, di sisi lain gw mau mengobati rasa rindu akan perjalanan-perjalanan masa lampau yang pernah gw lakuin yaitu mendaki gunung. Di hari pertama tayang di bioskop, Negeri dongeng ini belum tayang secara keseluruhan di Bioskop yang ada di Indonesia. Di kota gw Bekasi aja, cuma ada di 2 tempat yaitu Flix Grand Galaxy Park dan XXI Mega Bekasi mall. 26 oktober ini hari kamis coy, tapi ternyata kursi hampir penuh saat gw mau beli tiketnya. Gw kebagian di barisan ketiga dari depan. Sisanya ke belakang full, gak kebayang kan kalo weekend gimana. Hemm… gw langsung inget juga si, dari jaman dulu gw suka naik gunung, dimana-mana pasti ada aja ketemu orang Bekasi, sampe-sampe gw akuin anak Bekasi banyak juga yang seorang pendaki gunung, ya wajar kalo ternyata di weekdays dan hari pertama tayang film ini, bioskopnya full.

Film bergenre Adventure ini diproduksi oleh Aksa 7, berdurasi kurang lebih 104 menit. Beberapa pemainnya diantaranya Anggi Frisca, Teguh Rahmadi, Rivan Hanggarai, Wihana Erlangga, Yohannes Christian Pattiasina, Nadine Chandrawinata, Djukardi “Bongkeng” Adriana, Mathew Tandioputra, Joel Tandionugroho, Medina Kamil, Darius Sinathrya, Ade Wahyudi, Jogie Kresna Muda Nadeak.

Setelah gw bener-bener kelar nonton film ini, gw merasa disadarkan kembali, diingatkan kembali, diperlihatkan kembali tentang banyak hal dalam kehidupan, terutama menjadi manusia yang baik kemudian bisa memanusiakan manusia. Jaman sekarang kan banyak hal-hal yang dipeributkan, pembunuhan hal sepele dan lain-lain, yang menggambarkan manusia semakin banyak yang mulai berkurang rasa empati. Di film ini sangat jelas kita di perlihatkan bagaimana perjalanan mereka banyak dihadapi masalah berbagai macam hal yang tapi intinya hanya soal empati.

Pendakian gunung bisa bertujuan untuk mengenal keindahan alam Indonesia sendiri, tapi disisi lain kita juga harus mengenal warganya, adat istiadat mereka, mengenali dengan hati, bukan hanya sekedar mendaki gunung. Perjalanan pendakian memang bisa di bilang filosofi hidup, bedanya ini hanya bagaimana kita menjalani, menghadapi perjalanan yang pendek, sedangkan perjalanan hidup yang sebenarnya adalah perjalanan yang panjang.

Film dokumenter ini menggambarkan kisah perjalanan yang real dan masalahnya pun memang pada umumnya kita hadapi. Perjalanan pendakian gunung dengan tujuan melihat alam Indonesia, melihat sahabat dan melihat diri sendiri. Menurut gw… ya benar, dalam perjalanan dengan perasaan bercampur aduk, dari bahagia, capek, emosi, rindu, sedih menjadi satu lalu membuat karakter seseorang tersebut terlihat dengan jujur pada perilaku mereka selama perjalanan pendek ini. Begitu juga melihat diri sendiri, semampu apa kita memiliki sifat tabah, sabar, tangguh, berempati dan tidak egois. Jangan sampai melihat teman sedih sendirian, jangan sampai melihat teman merasakan sakit sendirian, jangan berfikir untuk diri sendiri. Dan banyak lagi…

Penduduk warga lokal di lereng gunung pun menjadi bukti dan tuntutan untuk orang kota, bahwa orang kota tidak boleh mengeluh. Orang kota dari segala fasilitas yang ada di kota sangat jauh dengan yang ada di desa. Fasilitas dalam bentuk apapun. Gw sendiri kadang kalo lagi merasa diri selalu emosi, capek, dan kurang bersyukur, larinya ya naik gunung, main-main ke desa atau rumah penduduk, atau sekedar ngobrol-ngobrol dengan warga lokal di basecamp pendakian. Dengan cara ini kita bisa melihat sesaat kehidupan mereka seperti apa, bagaimana mereka bisa survive untuk semangat tetap hidup. Dan kenyataannya manusia bahagia itu relative, beda-beda setiap orang. Jalur pendakian yang menanjak membuat kita harus sabra, tabah sampai menuju puncak. Selain itu ingat kita butuh orang lain bukan sekedar uang. Uang di hutan buat apa? Teman lebih berarti dari segalanya, jadi tahanlah emosi demi ke egoisan diri sendiri. Gw tipe orang percaya, orang-orang yang mendaki dengan tujuan baik, dan tanpa ada maksud buruk apapun, melakukan dengan hati, mereka akan pulang dengan menjadi jiwa manusia yang lebih baik lagi dari sebelumnya.

Film ini juga mengingatkan akan kebersihan lingkungan, menjaga dan melestarikan alam dengan tidak membuang sampah sembarangan. sampah yang kita buat sisa sesuatu yang kita pakai, harus benar-benar di bawa pulang lagi dan buang pada tempatnya. Di akhir film ini juga memperlihatkan es yang ada di Gunung Cartenz dan mengingatkan soal menjaga semua ini agar tetap ada untuk cucu kita. Bagaimana caranya es ini tidak menghilang, tidak mencair.



Seluruh pesan di film ini sangat tersampaikan dari caranya memberikan gambaran perjalanan yang nyata dan real. Udah deh…. Pokoknya kalian nonton yuk. Gak nyesel deh.

Oh iya… bicara tentang sebuah perjalanan dan petualangan. Baca ini juga ya…

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Review Bulu Mata Palsu dari Blink Charm

Halo… Saya Arin. Kalian pernah gak, pakai bulu matu palsu tapi dikira bulu mata asli atau dibilang pakai eyelahs extention sangking...