(Konten Blog : Mountaineering & Beauty) Instagram & Facebook : @Dwiariyuni

Total Tayangan

Jumat, 05 April 2019


Hai, Saya Arin.


Kali ini saya mau berbagi cerita apa yang saya alami dan saya lihat selama pendakian di Gunung Lawu ini pada tanggal 16 - 17 Maret 2019. Spesialnya pendakian ini saya melakukan Lintas jalur. Naik via Cemoro Sewu dan turun via Candi cetho. Jadi pastinya pemandangan yang dilihat naik dan turun beda dong, dan serunya juga pasti beda hehe… Secara track yang dilewati saja sudah beda banget. By the way, gunung Lawu ini sangat populer sudah begitu lama karena memang gunung ini pun juga dijadikan lokasi untuk orang-orang yang ingin berziarah khususnya di setiap malam 1 Suro. Saking populernya sudah banyak pedagang makanan yang akan pendaki jumpai genks, khususnya di jalur cemoro sewu.

Puncak Lawu - Hargo Dumillah

Gunung Lawu berada di perbatasan antara Jawa tengah dan Jawa timur. 3 kabupaten di antaranya ialah Kabupaten Karanganyar (Jawa tengah), kabupaten Ngawi dan Kabupaten Magetan (Jawa timur). Ada 3 puncak di gunung Lawu ini, yaitu Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumillah. Hargo Dumillah adalah puncak yang sering didatangi pendaki dan puncak tertinggi dari kedua puncak lainnya. Ada 3 jalur yang cukup terkenal untuk mendaki gunung Lawu ini guys, yaitu Cemoro sewu di Sarangan Jawa timur, Cemoro kandang di Tawangmangu Jawa tengah dan Candi cetho di Karanganyar Jawa tengah. Untuk 2 jalur yaitu Cemoro kandang dan Cemoro sewu, walaupun beda Provinsi yaitu Jawa tengah dan Jawa timur tapi sebenarnya, basecamp ini terpisah kurang lebih hanya 200 meter saja loh.

3 Jalur Gunung Lawu

Saya dan tim melakukan pendakian 2 jalur, yaitu Cemoro Sewu di kabupaten Sarangan Jawa timur dan turun di Candi cetho kabupaten Karanganyar Jawa tengah. 2 jalur ini sangat bedaaa banget. Untuk jalur cemoro sewu karena memang sudah menjadi jalur teramai, jalur ini sudah diberi batu-batuan yang tersusun dan sangat jelas dari basecamp hingga pos 5. Jadi bisa dikira-kira ya, kalo kaki kita melangkah dengan mau gak mau harus menyesuaikan tangganya. Jalur cemoro sewu menjadi jalur terpendek di antara 2 jalur lainnya, karena memang jalur ini juga cukup ngetrack. Sedangkan untuk jalur candi cetho adalah jalur terpanjang dari jalur lainnya. Jalurnya masih sangat alami, hanya jalan setapak seperti di gunung-gunung lainnya.

Di awal pendakian, jangan lupa untuk daftar ya ke basecamp agar namamu masuk ke dalam daftar pendaki dan rencana turun tanggal berapa juga dimana. Jangan lupa juga untuk segera laporan kembali saat sudah turun. Kalo lintas jalur, ya laporannya 2 kali, di pos kita tiba dan di pos kita awal naik. Biasanya nanti dikasih nomer Hp untuk berkabar via sms ke pos awal. Biaya pendaftaran untuk pendakian gunung Lawu dikenakan Rp 15.000 per orang. Cemoro sewu menyediakan basecamp, untuk para pendaki yang ingin istirahat setelah naik ataupun turun, bisa bermalam juga. Ada beberapa toilet yang tersedia dan warung-warung kopi juga merchandise khas gunung Lawu.

Pendakian dengan cuaca yang cerah, dari basecamp cemoro sewu menuju pos 1 kurang lebih saya mendaki dalam waktu 1 jam 10 menit. Jalurnya cukup banyak landainya tapi ada sedikit ngetracknya juga ya yang pasti. Di pos 1 terdapat shelter khusus, dan ada beberapa warung. Lanjut dari pos 1 ke pos 2, saya mendaki dalam waktu 2 jam 15 menit. Jalurnya ada beberapa bonus landai, tapi sudah mulai banyak ngetracknya. Pada pos 2 terdapat shelter khusus dan ada 1 warung. Pos 2 ini cukup luas, dan kira-kira masih bisa dirikan 2 sampai 3 tenda. Oh iya pendakian dari pos 1, saya dan tim sudah mulai ditemani 1 jenis burung.

Jalur menuju pos 1 Cemoro Sewu

Pos 1 - Cemoro Sewu

Jalur menuju pos 2 - Cemoro Sewu

Pos 2 - Cemoro Sewu

Pendakian dari pos 2 ke pos 3, saya berjalan memakan waktu kurang lebih 1 jam saja, tapi jalurnya ngetrack terus sih hehe… Pada pos 3 terdapat shelter tanpa ada warung. Di pos 3 juga kamu bisa dirikan tenda 1 hingga 2 tenda. Saran aja sih ya, jangan pernah dirikan tenda di dalam shelter, itu namanya egois genks. Karena shelter didirikan untuk peristirahatan sementara para pendaki yang masih ingin melanjutkan perjalanannya. Kalo ada tenda di dalam shelter, bagaimana pendaki lain mau istirahat atau berteduh kan ya…

View menuju pos 3 - Cemoro Sewu

Pos 3 - Cemoro Sewu

Lanjut pendakian pos 3 ke pos 4, saya mendaki dengan waktu 1 jam 20 menitan. Jalurnya tangga! Dan terus ngetrack. Perjalanan menuju pos 4 sudah mulai ada tumbuhan Edelweiss, namun saat itu saya lihat belum ada yang berbunga. Pada pos 4, tidak ada sama sekali shelter. Karena memang disarankan untuk segera naik ke pos 5 yang tidak begitu jauh dari pos 4 ini. Di pos 4 pun juga tidak bisa mendirikan tenda, karena terlalu bahaya walapun pemandanganya sangat bagus. Lokasinya cukup sempit dan terjal. Pos 4 menuju pos 5 cukup dekat, dan banyak bonus landainya. Perjalanan saya memakan waktu hanya 10 menit.

Jalur menuju pos 4 - Cemoro Sewu


Pos 4 - Cemoro Sewu

Pos 5 lumayan luas dan ada beberapa warung di sana. Pendaki juga bisa mendirikan banyak tenda di sana. Hanya saja di pos 5 terasa tiba-tiba sangat dingin. Bahkan tangan saya mulai kaku. Ternyata semua itu dikarenakan, pos 5 sangat dekat dengan 2 lembah, yang artinya akan ada sumber angin dari 2 arah yang berkumpul di pos 5 ini. Saranku jangan terlalu lama beristirahat jika tidak ingin mendirikan tenda di sana. Segera lanjutkan perjalan ke pos bayangan (pos sebelum puncak) atau biasa di sebut sendang derajat. Perjalanan dari pos 5 ke sendang derajat, sangat landai dan dekat yaitu kurang lebih 10 menit. Pemandangannya juga begitu indah. Tapi jangan terlena ya, kita benar-benar melewati jalur di antara 2 lembah. Kita menyebrangi 2 lembah yang sangat dingin di jam 17:30 WIB. Saya pun sempat beberapa kali menjatuhkan trekking pole saya tanpa sengaja, saking tangannya mulai kaku.

Pos 5 - Cemoro Sewu

Di sendang derajat terdapat 1 warung yang cukup luas, sehingga pendaki pun bisa bermalam di sana tanpa mendirikan tenda. Makanan yang dijual pun cukup lengkap. Ada Karbohidratnya, protein, vitaminnya juga dari sayuran pecelnya. Pastinya yang mau ngopi juga bisa. Di sendang derajat terdapat lokasi khusus yang ingin beribadah untuk orang-orang kejawen gitu. Mohon maaf gak sempat foto karena sudah malam saat itu. Lokasi sendang derajat juga sangat persis berada di punggungan dan tanpa vegetasi. Jadi pinter-pinter cari spot kalo mau buang air kecil ya beb.

Sejak jam 2 pagi, hujan tiba-tiba turun dengan deras, hingga matahari terbit. Jam 5 saya dan tim sudah bangun dan bersiap packing untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Karena kita akan pindah jalur, ya otomatis saat ke puncak bawa semua barang. Saat itu saya belum sarapan, hanya makan snack. Ketika hujan mulai reda, namun gerimis yang cukup terasa, kita harus segera berangkat. Jadi tetap mau gak mau pakai rain coat. Perjalanan ke puncak Hargo dumillah cukup dekat dari warung sendang derajat, kurang lebih memakan waktu 20 menit. Tracknya berbatuan, tapi masih di ada vegetasi kok. So , tetep hati-hati juga, ditambah saat hujan turun. Tibanya di puncak yang sangat dingin saat itu, saya ambil dokumentasi beberapa spot dengan cuaca yang masih berawan dan Kabut. Namun Alhamdulillah tidak lama kemudian, perlahan cuaca cerah bahkan panas. Jadi pemandangan dari puncak terlihat sangat jelas. I’m so happy!!!

Suasana puncak saat masih hujan

Puncak setelah cuaca berubah menjadi cerah

Setelah kurang lebih 2 jam di puncak menikmati pemandangan, kami turun langsung ke arah warung mbok Yem dengan waktu hanya 10 menitan. Tibanya di mbok yem, kabut tipis kembali turun tapi tidak begitu gelap. Saya juga sempat makan di warung mbok Yem, sebelum melanjutkan perjalan ke Candi Cetho. Menu nasi pecel pake telor dikenakan harga Rp 15.000 guys. Hujan sempat turun saat masih di mbok Yem, dan kita masih menunggu hujan lebih reda. Hujan mulai reda, kami melanjutkan perjalanan ke jalur candi cetho menuju pos 5 dengan kurang lebih 1  jam 20 menit. Jalurnya sangat landai dan panjang. Selama perjalanan saya ditemani dengan pemandangan sabana yang sangat indah, tenang, sunyi, sedikit terasa misterius karena suasananya yang sepi juga berkabut tipis. Tapi asli saya saja jatuh cinta banget sama lokasi ini. Saya selalu bersyukur diberi cuaca yang terang saat turun. Perjalanan menuju pos 5 juga ada sedikit kubangan air, yang cukup luas. Kubangan tersebut bisa jadi sumber air saat hujan turun.

Warung Mbok Yem

Persimpangan diantara 3 jalur Candi cetho, Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu

Sabana di perjalanan menuju pos 5 - Candi Cetho

Kubangan air yang bisa dimanfaatkan

Tibanya di pos 5 yang masih berada di sabananya Lawu yang luas dan indah. Ada beberapa tenda yang didirikan di sana. Pada pos 5 tidak ada shelter sama sekali. Hanya sabana luas, yang dimana kalian bisa dirikan tenda dimanapun, kecuali jangan di jalur ya hehe. Perjalanan terus dilanjutkan menuju pos 4, dengan jalur mulai masuk ke dalam hutan dan jalan setapaknya. Perjalanan pos 5 ke pos 4 saya memakan waktu kurang lebih 1 jam. Tracknya lumayan terjal. Pada pos 4 terdapat shelter kok tanpa ada warung. Oh iya untuk seluruh pos di jalur candi cetho ini, tidak ada warung sama sekali loh ya. Jadi persiapkan logistik kalian. Lanjut dari pos 4 ke pos 3, saya memakan waktu perjalanan turun sekitar 45 menitan. Tracknya sama dengan sebelumnya, lumayan terjal dan cukup licin. Pada pos 3 juga terdapat 1 shelter, di sana saya sempat beristirahat untuk makan.

Sabana di dekat pos 5 - Candi Cetho

Pos 5 - Candi Cetho

Jalur menuju pos 4 - Candi Cetho

Pos 4 - Candi Cetho

Di pos 3 tiba-tiba hujan turun dengan cukup deras. Jalur pendakian pun menjadi seperti jalur air. Saya dan tim melanjutkan perjalanan menuju pos 2 dengan menggunakan raincoat. Perjalanan memakan waktu 50 menit dengan track yang cukup licin karena dialiri air hujan. Pada pos 2, terdapat 1 buah shelter. Di pos 2, saya dan tim bertemu dengan rombongan yang beranggotakan 6 orang. Akhirnya kita memutuskan turun bersama-sama. Dengan hujan yang mengiringi perjalanan hingga sampai basecamp candi cetho, dan sudah malam. Perjalanan jadi lebih lama dari biasanya ditambah ada salah satu anggota yang cidera pada kakinya. Jadi saya juga tidak mecatat waktu saat tiba di pos 1. Setelah pos 1 juga kami kembali bertemu dengan rombongan lainnya yang beranggotakan 5 orang. Namun 3 orang dari tim tersebut sudah ada yang tidak kuat dan memutuskan mendirikan camp. 2 lainnya memutuskan turun bersama kami semua.

Track yang dialiri air hujan 
Pos 3 - Candi Cetho

Waktu perjalanan saya hanya mentotal keseluruhan dari pos 2 hingga basecamp Candi cetho genks, yaitu memakan waktu kurang lebih 3 jam. Sekitar jam 22.30 WIB saya dan rombongan tiba di pos pendakian untuk melaporkan ke pos jaga bahwa pendaki tiba dengan lengkap dan aman. Perjalanan dari pos 1 ke basecamp, sebenernya terdapat Candi cetho itu sendiri, terasa juga aroma-aroma sesuatu. Namun saya tidak sempat medokumentasikan candinya karena sudah larut malam. Huhu… Tibanya di basecamp saya pun bergegas lepas sepatu dan raincoat dilanjutkan mandi, agar bisa segera ganti baju kering supaya lebih hangat. Tidak lupa juga saya melaporkan ke pos Cemoro sewu via sms.

Posko Candi Cetho

Basecamp Candi Cetho

Finally perjalanan diakhiri dengan selamat semua yang penting. Pendakian dengan lintas jalur ditambah belum ada yang pernah ke gunung Lawu, menjadi tantangan tersendiri. Tips saya yang penting jangan sombong, dan banyak tegur sapa dengan pendaki lain. Karena di alam bebas, kita butuh kebersamaan antara manusia, saling tolong menolong jika ada yang butuh bantuan. Jangan pernah terpisah dari rombongan, dan jaga juga seluruh partner mendaki kalian. So, thank you buat semua yang uda baca, semoga bermanfaat ya… Keesokan harinya saya melanjutkan perjalanan menuju stasiun Purwosari yang ada di Solo.

Bye…bye…

1 komentar:

Popular Posts

Etika Dalam Mendaki Gunung

Halo, salam lestari ! Saya Arin. Pernahkah kamu mendengar kalimat “Dimana tanah dipijak, di situ langit dijunjung.” ?. Kutipan ka...