Gw punya hobby travelling dan bermain make-up. Dari kecintaan tersebut akhirnya gw memutuskan berbagi cerita travelling dan membahas make-up favorit, lewat blog yang gw buat bertemakan "Fun Beauty Traveler".

Total Tayangan

Senin, 30 Oktober 2017

Halooo… Gw Arin


Tiba-tiba gw excited banget deh, mau review film dokumenter yang baru aja tayang perdana kemaren pada 26 Oktober 2017, judulnya “Negeri Dongeng”. Disini gw mau review aja ya… bukan menceritakan dengan jelas bagaimana jalan cerita film Negeri Dongeng ini, karena tujuan gw disini pun hanya menyebarkan virus kebaikan yang gw dapet dari pesan-pesan moral di film ini, dan mengajak kalian semua untuk menontonnya. Diluar orang yang suka berpetualang ataupun bukan, menurut gw, semua harus tau isi atau makna di film ini dengan menontonnya.


Sebelum mereviewnya, gw mau tulisin dulu synopsis film ini : Perjalanan melihat Indonesia, melihat sahabat dan rekan-rekan seperjalanan dan juga melihat diri sendiri. 7 sineas muda Indonesia yang mendaki 7 puncak gunung tertinggi di Nusantara berbekal 7 buah kamera. “Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah, kami naik gunung”. Perjalanan panjang membuat mereka mengupas cerita pada setiap tempat yang disinggahi. Beragam emosi berkecamuk dalam perjalanan. Pertemuan dengan orang-orang  baru selama penjelajahan darat, laut dan udara. Setiap potongan kisahnya akan memperlihatkan betapa Indonesia begitu kaya dan luas untuk dijelajahi bersama-sama. Dan di ujung perjalanan itu, kita akan menemukan arti sebuah perjalanan.

Jadi pertama kali gw tau kalo tanggal 26 oktober ini tayang, gw langsung mau nonton banget, udah rencana cari-cari temen yang bisa, kalo gak bisa, gw bakal tetep nonton sendiri. Gw berasa ini film gw banget, di sisi lain gw mau mengobati rasa rindu akan perjalanan-perjalanan masa lampau yang pernah gw lakuin yaitu mendaki gunung. Di hari pertama tayang di bioskop, Negeri dongeng ini belum tayang secara keseluruhan di Bioskop yang ada di Indonesia. Di kota gw Bekasi aja, cuma ada di 2 tempat yaitu Flix Grand Galaxy Park dan XXI Mega Bekasi mall. 26 oktober ini hari kamis coy, tapi ternyata kursi hampir penuh saat gw mau beli tiketnya. Gw kebagian di barisan ketiga dari depan. Sisanya ke belakang full, gak kebayang kan kalo weekend gimana. Hemm… gw langsung inget juga si, dari jaman dulu gw suka naik gunung, dimana-mana pasti ada aja ketemu orang Bekasi, sampe-sampe gw akuin anak Bekasi banyak juga yang seorang pendaki gunung, ya wajar kalo ternyata di weekdays dan hari pertama tayang film ini, bioskopnya full.

Film bergenre Adventure ini diproduksi oleh Aksa 7, berdurasi kurang lebih 104 menit. Beberapa pemainnya diantaranya Anggi Frisca, Teguh Rahmadi, Rivan Hanggarai, Wihana Erlangga, Yohannes Christian Pattiasina, Nadine Chandrawinata, Djukardi “Bongkeng” Adriana, Mathew Tandioputra, Joel Tandionugroho, Medina Kamil, Darius Sinathrya, Ade Wahyudi, Jogie Kresna Muda Nadeak.

Setelah gw bener-bener kelar nonton film ini, gw merasa disadarkan kembali, diingatkan kembali, diperlihatkan kembali tentang banyak hal dalam kehidupan, terutama menjadi manusia yang baik kemudian bisa memanusiakan manusia. Jaman sekarang kan banyak hal-hal yang dipeributkan, pembunuhan hal sepele dan lain-lain, yang menggambarkan manusia semakin banyak yang mulai berkurang rasa empati. Di film ini sangat jelas kita di perlihatkan bagaimana perjalanan mereka banyak dihadapi masalah berbagai macam hal yang tapi intinya hanya soal empati.

Pendakian gunung bisa bertujuan untuk mengenal keindahan alam Indonesia sendiri, tapi disisi lain kita juga harus mengenal warganya, adat istiadat mereka, mengenali dengan hati, bukan hanya sekedar mendaki gunung. Perjalanan pendakian memang bisa di bilang filosofi hidup, bedanya ini hanya bagaimana kita menjalani, menghadapi perjalanan yang pendek, sedangkan perjalanan hidup yang sebenarnya adalah perjalanan yang panjang.

Film dokumenter ini menggambarkan kisah perjalanan yang real dan masalahnya pun memang pada umumnya kita hadapi. Perjalanan pendakian gunung dengan tujuan melihat alam Indonesia, melihat sahabat dan melihat diri sendiri. Menurut gw… ya benar, dalam perjalanan dengan perasaan bercampur aduk, dari bahagia, capek, emosi, rindu, sedih menjadi satu lalu membuat karakter seseorang tersebut terlihat dengan jujur pada perilaku mereka selama perjalanan pendek ini. Begitu juga melihat diri sendiri, semampu apa kita memiliki sifat tabah, sabar, tangguh, berempati dan tidak egois. Jangan sampai melihat teman sedih sendirian, jangan sampai melihat teman merasakan sakit sendirian, jangan berfikir untuk diri sendiri. Dan banyak lagi…

Penduduk warga lokal di lereng gunung pun menjadi bukti dan tuntutan untuk orang kota, bahwa orang kota tidak boleh mengeluh. Orang kota dari segala fasilitas yang ada di kota sangat jauh dengan yang ada di desa. Fasilitas dalam bentuk apapun. Gw sendiri kadang kalo lagi merasa diri selalu emosi, capek, dan kurang bersyukur, larinya ya naik gunung, main-main ke desa atau rumah penduduk, atau sekedar ngobrol-ngobrol dengan warga lokal di basecamp pendakian. Dengan cara ini kita bisa melihat sesaat kehidupan mereka seperti apa, bagaimana mereka bisa survive untuk semangat tetap hidup. Dan kenyataannya manusia bahagia itu relative, beda-beda setiap orang. Jalur pendakian yang menanjak membuat kita harus sabra, tabah sampai menuju puncak. Selain itu ingat kita butuh orang lain bukan sekedar uang. Uang di hutan buat apa? Teman lebih berarti dari segalanya, jadi tahanlah emosi demi ke egoisan diri sendiri. Gw tipe orang percaya, orang-orang yang mendaki dengan tujuan baik, dan tanpa ada maksud buruk apapun, melakukan dengan hati, mereka akan pulang dengan menjadi jiwa manusia yang lebih baik lagi dari sebelumnya.

Film ini juga mengingatkan akan kebersihan lingkungan, menjaga dan melestarikan alam dengan tidak membuang sampah sembarangan. sampah yang kita buat sisa sesuatu yang kita pakai, harus benar-benar di bawa pulang lagi dan buang pada tempatnya. Di akhir film ini juga memperlihatkan es yang ada di Gunung Cartenz dan mengingatkan soal menjaga semua ini agar tetap ada untuk cucu kita. Bagaimana caranya es ini tidak menghilang, tidak mencair.



Seluruh pesan di film ini sangat tersampaikan dari caranya memberikan gambaran perjalanan yang nyata dan real. Udah deh…. Pokoknya kalian nonton yuk. Gak nyesel deh.

Oh iya… bicara tentang sebuah perjalanan dan petualangan. Baca ini juga ya…

Selasa, 17 Oktober 2017

Haloo…


Gw Arin. Seperti judulnya gw mau berbagi cerita singkat nih tentang  6 bulan Ekspedisi NKRI koridor Nusa Tenggara tahun 2015, yang pernah gw ikutin. Mulai dari awal bisa daftar, lulus, pembekalan, turun lapangan sampai pada apel terakhir perpisahan kami.

Ekspedisi NKRI ialah kegiatan yang diadakan setiap tahunnya oleh TNI Angkatan Darat melalui Kopassus (Komando Pasukan Khusus). Jadi Lokasi, pelatih sampai panitia yang pegang orang-orang Kopassus. Kegiatan ini sudah ada sejak 2011, namanya “Ekspedisi Bukit Barisan” (Sumatera). Nah yang 2015 ini di beri nama Ekspedisi NKRI Koridor Nusa Tenggara, menjangkau dari Bali sampai Kupang. Tema kegiatan ini adalah Peduli dan lestarikan alam. Acaranya tuh melibatkan banyak komponen, seperti TNI, POLRI, Kementerian lembaga terkait, Pemda, Perguruan tinggi, Pecinta Alam, pramuka dan banyak lagi dari sipilnya. Nah gw waktu itu jelaslah masuknya sipil, dan bawa nama Organisasi Pecinta Alam MPPA”Carya Bhuana”.Tujuan ikut selain mencari pengalaman adalah, gw merasa ini kesempatan gw berkontribusi untuk Mapala gw yang dirasa sangat kurang waktu masih jadi mahasiswi, ditambah masa kuliah D3 gw hanya 3 tahun. Awalnya gw tahu ini juga dari senior Mapala gw yang uda pernah ikut ini ditahun 2013, mereka koridor Sulawesi. Dulu gw mau ikut, tapi nanggung karena mau wisuda dulu target 2014, akhirnya gw baru bisa daftar yang 2015.

Gw wisuda September 2014, sedangkan pendaftaran Ekspedisi ini di bulan Desember 2014. Setelah wisuda gw emang uda rencana mau daftar Ekspedisi semisal belum dapet kerjaan. Saat itu gw masi terlalu betah di Purwokerto, selama 3 bulan dari September-Desember gw cari kerja di Purwokerto. Wkwkwk…. Mulailah berasa beban, 3 bulan gw coba merantau, duit abis dan kerjaan blm dapet . Pas masuk Desember, mulailah gw iseng buka website Ekspedisi Nkri, mau lihat kira-kira gw bisa gak nih memenuhi persyaratannya. Karena pasti ada ribuan pendaftar yang mau masuk, sedangkan yang lolos dari sipil cuma ratusan. Setelah gw lihat, gw merasa gw bisa penuhi semua persyaratannya untuk seleksi online terlebih dahulu. Setelah seleksi online, masih ada seleksi selanjutnya, yaitu di Markas Kopassus, Batujajar, Bandung, sekaligus verivikasi berkas-berkas online. Ya waktu itu gw emang beneran mau ikut sih,… tapi daftarnya iseng-iseng berhadiah j, karena gak mau sakit ati kalo semisal gak lolos. Wajar sih sedih misal gak lolos, gw uda targetin ikut ini dari tahun 2013 soalnya. Disitu gw coba memenuhi surat-surat untuk seleksi online, mulai dari surat ijin orang tua, organisasi Mapala, dan surat kesehatan. Selain itu juga kita membuat artikel dan memasukan sertifikat apapun yang gw punya guna mendukung hasil dari pertimbangan hasil seleksi. Gw ngerasa disini selama ngurus berkas-berkas kaya dikasi jalannya, lancar banget gitu deh. Apalagi waktu minta surat kesehatan, di salah satu Rumah sakit besar di Purwokerto, gw masuklah sendirian nanya-nanya mau bikin surat kesehatan dimana yaa. Gw ditunjukin sama pegawai RS tersebut, dan sampai pada akhirnya gw ketemu Pak Dokter. Pas pak dokternya tau tujuan membuat surat keterangan sehat  gw karena mau ikut Ekspedisi NKRI, eh dibikinin langsung dengan cepat dan didoakan lulus seleksinya oleh beliau. Di gratisin pula… gw uda siapin uang padahal, karena setau gw bikin surat keterangan sehat di rumah sakit tuh bayar. Tapi kayanya si efek rumah sakit angkatan juga mungkin, hehe… ya pokonya bapaknya baiiik banget, padahal gak kenal gw. uda dilancarain, di doain pula. Alhamdulillah ya…

Pas pengumuman di bulan Januari 2015, posisi gw uda balik ke rumah, uda gak di purwokerto lagi. Suatu hari gw lagi main, tiba-tiba temen gw namanya Teh Dini (Ketua Srikandi) yang mengabarkan kalo gw lulus ekspedisi NKRI. Disitu gw percaya gak percaya sih… gila aja gw yang daftar tapi gw malah belum mantau hasil kelulusan. Akhirnya gw disuruh dateng sama teh Dini, ketempatnya. Disitu gw dibawa kerumah Bunda Ully Sigar Rusady. Gw agak minder sih, soalnya gw gak pake surat organisasi Srikandi Nusantara waktu itu. Gw bawa nama Mapala gw, MPPA “Carya Bhuana”. Bunda Ully mendukung gw dan 1 orang lagi namanya kak Lita yang juga lolos seleksi Ekspedisi NKRI 2015. Disana kita dikasih wejangan, alat-alat tulis, p3k, kaos-kaos,dan buku-buku tentang lingkungan. Gak nyangka sih bisa dibawa kesini, gak kepikiran gitu sampe segitu pedulinya ama gw, bocah baru lahir kemaren, baru kenal Bunda ully ketemu langsung.


Pokoknya dari awal pendaftaran, gw mau berterima kasih banget buat yang uda dukung dalam bentuk apapun, baik dari orang tua, Pak Dokter, Mppa “Carya Bhuana”, dan Bunda Ully selaku penanggung jawab dari Srikandi Nusantara dan teman-teman terdekat.


Pertengahan bulan Januari, seluruh peserta yang lulus seleksi online langsung dikumpulkan di Markas Kopassus Batujajar, Bandung. Peserta ini datang dari berbagai daerah yang ada di Indonesia, gak hanya di Jawa. Semua berkesempatan coy… Hampir semua datang sendiri-sendiri, dan mulai kenalan sampai akrab. Awalnya kita melanjutkan seleksi, dari wawancara, psikotes dan fisik. Alhamdulillah semua bisa dilewati bersama calon peserta Ekspedisi lainnya. Setelah lulus dari semua seleksi, kita dilanjutkan dengan jadwal pembekalan.


Pembekalan baik berupa materi maupun fisik sekaligus mengaplikasikan materi yang diberikan. Lokasi pembekalan kita berada di Situlembang, Bandung. Disana memang sudah biasa jadi lokasi pelatihan untuk militer. Kegiatan kita dimulai dari pagi buta, hingga malam hari, super sibuk tapi itu seru sih. Latihan, apel, belajar, latihan, apel dan belajar lagi. Itu saja yang kita lakukan selama masa pembekalan. Kita di latih bagaimana melakukan penyebrangan danau, masuk ke hutan untuk belajar Ilmu medan peta kompas, SAR, Survival. Bagian ini adalah hal yang harus dipelajari seluruh peserta dari berbagai tim, Karena kita akan diturunkan di lokasi yang belum pernah kita datangi baik hutan, gunung, laut, danau desa atau kampung adat. Ilmu tadi adalah hal yang krusial, memikirkan harus bisa safety selama berkegiatan dilapangan. Selain itu kita belajar teori tentang masing-masing bidang yang akan kita ambil selama ekspedisi. Jadi di ekspedisi ini kita dibagi menjadi beberapa tim. Tim Kehutanan, tim flora fauna, tim sosial budaya, tim potensi bencana dan tim pengabdian masyarakat.





Gw masuk di tim Flora fauna. Selama pembekalan kita diberikan teori flora fauna, bagaimana cara tim flora fauna nantinya bekerja di lapangan, dan juga langsung melakukan latihan pengaplikasian materi pembekalan. Selama pembekalan, hampir seluruh pelatih dan pengisi acara benar-benar memotivasi kita untuk kegiatan ekspedisi ini, dan selalu di ingatkan untuk selalu safety prosedur, keselamatan yang utama, keselamatan yang utama. Kita juga sedikit belajar tentang cara memberi sandi pada helikopter atau pesawat saat meminta pertolongan dari bawah. Usia pembekalan, ada beberapa peserta yang mulai drop. Wajar sih efek dimana dalam satu hari, selama 2 minggu, pagi sampai malam kita diterpa cuaca yang sangat dingin sampai bisa tiba-tiba panas, lalu mendadak dingin lagi. Tapi untungnya semua itu bisa diatasi, dan seluruh peserta sehat kembali dan siap untuk diberangkatkan ke masing-masing lokasi kami bertugas.


Pemberangkatan peserta dibagi beberapa kloter, dikarenakan jumlah peserta yang banyak dan perbedaan lokasi yang memang tersebar dari Bali hingga Kupang. Nah gw kebagian di subkorwil Ende-Flores. Gw gak tau sih bagaimana bisa ditaro di Flores. Mungkin ini Kombinasi berbagai karakter peserta yang ditentukan dan dinilai dari hasil psikotes dan tes fisik kemudian disesuaikan untuk masing-masing lokasi yang bisa jauh berbeda budaya dan lingkungannya. Kita semua diantar dengan pesawat besi milik TNI atau biasa disebut pesawat Hercules. Super gede sih, ini pertama kalinya gw naik pesawat dan cukup sedikit tegang. Paling tidak, setelah gw merasakan pesawat ini, gw bisa lebih tenang kalo naik pesawat komersil… hehe ngerti lah ya maksudnya…. Penerbangan dari Bandung hingga Maumere memakan waktu kurang lebih 4 jam dengan transit di Bali sebentar.


Gw bersama seluruh Tim Ende, setibanya di bandara Maumere sore hari, kita sudah disediakan mobil untuk melanjutkan perjalanan ke kabupaten Ende, yang cukup lumayan jauh. Tim tiba di Ende sudah malam, gw lupa sih jam berapanya. Ingetnya udah malam, kita apel sebentar dan langsung istirahat. Selama Ekspedisi kita melalukan berbagai rutinitas yang intinya hampir sama aja selama 4 bulan, hanya saja berbeda lokasi. Gw kasih gambaran singkat aja ya. Minggu kita biasanya briefing dengan tim inti, kita mau kemana, ngapain aja, lalu di konfirmasikan ke Wakil Komandan (Wadan) tim Ende. Wadan itu penggantinya Komandan tertinggi di masing-masing Subkorwil. Kalo uda dapet persetujuan Wadan, barulah kita berangkat hari senin ke lokasi. Biasanya senin sampai di lokasi kalo masih pagi, kita langsung bersapa dengan lingkungan sekitar, survey dan tanya-tanya juga tentang flora fauna yang khas di lokasi tersebut. Biasanya kita tinggal di lokasi tersebut selama 1 minggu. Selasa sampai jumat, kita semua turun kelapangan mendata flora fauna yang ada di lokasi, dan jika flora fauna itu memang tidak langka, biasanya kita mengambil sampel untuk dibawa pulang. Sampel-sampel itu kita awetkan, untuk flora namanya diherbarium dan fauna diawetkan saja. Lokasi yang didatangi sangat mempengaruhi cara kita menemukan flora fauna. Semisal kita memang berada di kawasan pegunungan, ya kita harus naik gunung. Semisal lokasi kegiatan kita di daerah pesisir, kita harus susuri pantai dan ke tengah laut. Hari jumat sore biasanya kita pulang kembali ke posko utama kita di Ende. Sabtu kita menyelesaikan pengawetan sampel dan membuat laporan kegiatan selama 1 minggu. Laporannya berupa laporan kegiatan, laporan data penelitian dan artikel. Hari minggu kita harus kelar dan menyelesaikan itu semua. Biasanya untuk mempersingkat waktu kita selama satu minggu sudah nyicil membuat laporan perminggunya. Setiap minggu pagi kita juga pasti apel dan olah raga. Malam sebelum tidur dan pagi sebelum kegiatan, kita selalu melakukan apel. Selama 4 bulan di Flores, kita berpindah kecamatan ataupun kabupaten setiap minggunya. Kadang menggunakan motor, kadang truk.



Selain mencari dan mendata flora fauna yang ada disana, kita juga sibuk mengadakan pameran apa aja yang kita temui untuk diperlihatkan kepada pejabat Ekspedisi yang ingin melihat hasil kegiatan kita sementara. Tim Ende ini juga sempat didatangi Komandan kopassus 2015 dan Ibu Puan Maharani selaku Menteri, pada moment hari Pancasila. Dikarenakan Ende merupakan salah satu tempat bersejarahnya Indonesia, yaitu Lahirnya Pancasila oleh Bapak Ir. Soekarno yang memang pernah diasingkan di Kabupaten Ende pada masanya. Untuk cerita lebih serunya, gw uda buat ni perwakilan lokasi yang gw datangi selama ekspedisi, kalian bisa baca ini ya…
  1. Jejak Kata pada Kota Kelahiran Pancasila
  2. Jejak Kata pada Kampung Adat Bena
  3.  Jejak Kata pada Pesona Danau Kelimutu
  4. Jejak Kata pada 17 Pulau Riung
  5. Jejak Kata pada Gunung Inerie

Usainya kita melaksanakan ekspedisi, Juni awal setelah upacara Hari Pancasila, di masing-masing subkorwil mulai merapihkan semua hasil ekspedisi untuk dibawa pulang kembali ke Jakarta. Seluruh tim dari berbagai Subkorwil dikumpulkan terlebih dulu di Labuan bajo kabupaten Manggarai, Flores. Disana kita diberi tugas untuk memberikan dan menjelaskan apa yang didapat selama ekspedisi kepada Tim ahli dari masing-masing bidang, kemudian kita juga melaksanakan upacara penutupan Ekspedisi NKRI 2015 di Labuan Bajo ini. Asyiknya… usai semua selesai dilaksanakan, kita diberi hadiah jalan-jalan ke pulau Komodo. Sumpah sih gw adalah salah satu anak yang kegirangan juga.Sebelum itu pun, kita khusunya perempuan-perempuan setibanya di Labuan bajo diberi tempat tinggal yang terenak dan ternyaman selama ekspedisi, yaitu hotel… wkwkwk gw sama temen gw juga bisa dibilang mendadak norak, mungkin uda mulai lelah dengan lokasi ekspedisi kita selama ini yang lebih sering tidur di lantai bermodalkan matras. Pas masuk kamar hotel, kegirangan banget! akhirnya punya kamar, ber-ac, kamar mandi ada air panas dan dinginnya.. sumpah sih itu norak banget. Hihihi…. Disisi lain untuk peserta yang cowok beda dengan kita, mereka tinggal dengan mendirikan tenda-tenda, bahkan toilet mereka buat sendiri. Jadi antara seneng dan gak enak heuheu…. Ada ikut sedih pasti, mereka biarpun laki-laki tapi uda bagian dari tim kita selama 4 bulan, terus klo mereka kesusahan yang cewe-cewe sedih juga sumpah. Oh iya untuk cerita jalan-jalannya di Pulau Komodo bisa baca di sini ya… Jejak Kata pada pesona Pulau Komodo



Nah setelah beresnya kegiatan semua sampai upacara Penutupan, akhirnya kita kembali ke Jakarta, semua naik pesawat Hercules lagi secara bergantian dari Bandara Labuan Bajo. Kita semua dikumpulkan di Markas Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur. Disana juga ada apel penutupan seluruh peserta ekspedisi. Berfoto-foto ria sebelum semua mencar pulang ke rumah masing-masing.


Apa yang didapat selama ekspedisi???
Semua tergantung dari tujuan dan persepsi si peserta yang daftar. Kalo gw… gw merasa dapet pengalaman banyaaaaaaaakk banget (umum sih)… namanya ekspedisi, mendatangi lokasi yang belum pernah didatengi, rasa was-was terhadap sesuatu yang terjadi kemungkinan buruk selalu ada selama di lapangan. Flores… dimana budaya sangat jauh dengan yang ada di pulau Jawa. Bahasa, budaya, keanekaragaman hayatinya membuktikan bahwa Indonesia memang Bhineka Tunggal Ika, bukan sekedar slogan. Pembentukan karakter dengan langsung turun kelapangan juga salah satu cara belajar hidup mandiri, siap menghadapi tantangan, dan menyelesaikan tugas dengan baik dimanapun berada. Semua itu bisa berjalan lancar dengan membuka pikiran dan memakai hati selama berkegiatan dilapangan bersama Tim. Percayalah pengalaman hidup gak akan terbayar dengan uang. Mendapatkan keluarga baru pun tak terbayarkan dengan apapun.

Salam Ekspedisi…

Bye…bye…









Sabtu, 07 Oktober 2017

Haloo… Gw Arin…



Kamis 5 oktober 2017, gw ikutan acara Progam Eduvisit Muslimah dari Blogger Muslimah. Edukasinya itu langsung diberikan oleh Owner Heejou Bags yaitu mba Nisa Rahmania, gadis muda penuh semangat lulusan IPB. Dilanjutkan belajar membuat Craft yang dibimbing oleh mba Nenny.

Edukasi 

Heejou bags ialah UKM yang telah berdiri sejak tahun 2009 di kota Bogor. Produk utamanya adalah tas berbahan kanvas dan jeans. Menurut cerita dari mba Nisa, awal mula kenapa ingin memproduksi tas adalah karena ia ingin turut mengkampanyekan Go green dengan mengurangi tas plastik saat berbelanja dan beralih ke tas yang dibuatnya untuk berbelanja dan bisa digunakan berulang-ulang. Berjalannya waktu, ia mulai mengembangkan model bentuk, ukuran, desain tas dari totebag, ransel, pouch sampai ke tas laptop untuk bisa digunakan dari berbagai kalangan mulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa.

Foto bersama Mba Nisa

Nah, di kegiatan hari itu, mba Nisa lebih menceritakan dan berbagi pengalaman jatuh bangunnya berwirausaha. Mba Nisa sudah mulai berbisnis sejak kuliah loh… dulu beliau membuat boneka Horta. Ada yang ingat, pernah ada boneka horta yang lagi tren. Gw juga dulu punya. Beliau memproduksi dan menjual boneka horta bersama teman-teman kuliahnya. Dari yang laku keras hingga sampai pada masa orang sudah berubah tren lagi. Dan teman-temannya mulai sibuk kerja setelah lulus. Sedangkan mba Nisa masih terus ingin berwirausaha. Usaha apa lagi yang akan ia dirikan saat menjaga toko boneka horta yang mulai menurun peminatnya.

Perkenalan dan cerita pengalaman mba Nisa

Pada tahun 2008-2009 saat itu sedang marak kampanye Go green dengan mengurangi tas plastik belanja dan beralih ke kantong belanja berbahan yang bisa dipakai berulang-ulang. Mba Nisa akhirnya ingin turut mengkampanyekan lewat usaha tasnya. Pemasaran secara online yang pertama ia lakukan hanya lewat blognya. Hingga pada satu waktu ada salah satu stasiun TV yang membaca blognya dan memang sedang mencari wiraswasta yang memilik background bisnisnya ialah kampanye Go green. Sejak usahanya ini masuk ke telivisi, Heejou bag ini mulai banyak dikenal orang, dan bertambah terus peminatnya. Heejou bag akhirnya memiliki 30 distributor. Heejou bag sangat kebanjiran orderan.

Kembali lagi berjalannya waktu, perubahan jaman dan mode, heejou bag sempat mengalami pasang surut. Heejou bag terus mengembangkan model dan desain tas yang pasar inginkan. Mba Nisa selalu pantang menyerah untuk terus membangun usahanya. Berbagai macam cara ia lakukan, belajar dari pengalaman pribadi dan orang lain dengan ikut komunitas-komunitas. Beliau terus menggali ilmu membangun usaha yang bisa berkelanjutan.

Semangat mba Nisa yang masih muda ini patut dicontoh dan terus ditularkan… Gw yang juga sedang merintis usaha rental sewa alat camping ini, ingin belajar dari semangatnya mba Nisa. Menurut gw bertahan dalam semangat yang sama dalam jangka waktu bertahun-tahun itu sangat sulit huhu… Salah satu caranya adalah bergaul dengan teman-teman yang semangat berausaha juga. Karena lingkungan memang cukup berpengaruhkaaan…

Mba Nisa yang masih lajang ini memberi pesan kepada kita begini katanya “Percaya bisa, orang lain bisa, kita pasti bisa. Jangan pernah bilang tidak bisa”

Oh iya, bagi yang mau lihat katalog produk Heejou Bags bisa buka di Heejoubags .

Belajar membuat Craft

Awalnya gw semangat banget nih nunggu-nunggu buat belajar bikin craft. Keterampilan yang emang gw sukain dari jaman sekolah. Saat itu gw dan teman teman blogger muslimah lainnya dibagikanlah bahan-bahannya yang telah disediakan di rumah produksi Heejou bag. Kita diajarkan membuat bunga tulit dari kain perca. Bahan lainnya terdiri dari batang plastik, potongan kain perca,busa yang sudah dibentuk daun, benang, jarum solatip hijau khusus.

Pembuatan craft

Kita diajarkan mulai dari menjahit kain untuk bunganya, menjahit kain yang ditempelkan pada busa untuk daunnya hingga merangkainya menjadi bunga tulip. Batangan plastiknya juga di solatip berwarna hijau untuk batang bunganya.

Menjahit


Menurut gw menjahit dengan tangan memang tidak gampang dan cepat, gw lumayan pusing sih, haha…. Walaupun begitu tetap bisa menyelesaikannya ko, yang sedikit dibantuin teman-teman blogger lainnya sih hehe, karena disitu gw yang paling lama jadinya.

Pembuatan craft, bunga tulip

Tapi disinilah kita bisa merasakan para pekerja penjahit, dan coba menghargai usaha mereka dengan membayar harga yang masuk akal untuk para penjahit. Disatu sisi, perempuan memang setidaknya bisa sedikit lah untuk menjahit hehe… minimal untuk menjahit kancing baju yang lepas, atau baju yang robek sedikit. 

Hasil bunga tulip buat sendiri dan kenang-kenangan dari Heejou bags

Semangat perempuan untuk memiliki keterampilan untuk menjadi perempuan yang Mandiri. Yes…




Popular Posts

Morning Skincare Routine ( Kulit Sensitif )

Haii,,, udah lumayan lama gak nulis. Akhirnya saya memutuskan untuk menulis lagi tentang skincare. Kali ini saya mau sharing khusus mor...