Gw punya hobby travelling dan bermain make-up. Dari kecintaan tersebut akhirnya gw memutuskan berbagi cerita travelling dan membahas make-up favorit, lewat blog yang gw buat bertemakan "Fun Beauty Traveler".

Total Tayangan

Jumat, 27 Juli 2018



Suku Baduy Dalam adalah suku yang berada di wilayah Banten, suku yang sangat menjunjung tinggi adat istiadatnya sekalipun cukup dekat dijangkau dari perkotaan. Mungkin kamu pernah lihat beberapa pria berjalan di jalan kota Jakarta tanpa alas kaki dengan baju khasnya yaitu putih hitam? Membawa madu hitam hasil dari kampung adatnya untuk dijual, bersamaan dengan kain-kain tenun dan kerajinan yang dibuat oleh perempuan-perempuan adat suku Baduy. Ya itu tadi, mereka rela jalan di atas aspal tanpa alas kaki demi menjunjung tinggi adat istiadatnya. Mereka ke Jakarta pun jalan kaki loh, tanpa naik kendaraan apapun dari kampungnya yaitu di Banten. Padahal untuk keluar dari kampung Baduy Dalam saja, kita harus berjalan kurang lebih 3 sampai 4 jam menyusuri hutan, sungai dan naik turun bukit. Kalo denger langsung dari mereka, butuh waktu 2 harian sampai ke Jakarta dengan jalan kaki. Menurut mereka, jika mereka diam-diam ke kota naik kendaraan umum akan kena hukum adat meskipun tidak ketahuan. Misalnya seperti sakit tiba-tiba, bisa sakit apa saja. Nah jadi mereka merasa lebih baik jalan kaki. Sesuatu banget kan, yaitu lah kepercayaan, mengingatkan Indonesia Negara yang paling banyak ragam suku budayanya.


Suku Baduy Dalam, sangat jauh dari sentuhan orang-orang asing, bahkan sejak jaman penjajahan, dia tidak mau tersentuh. Dia tidak mau terkontaminasi hal-hal di luar yang tidak berhubungan dengan alam. Entah karena sudah terlalu lama, aturan-aturan adat yang kadang membuat kita bertanya kenapa dilarang pun, sudah tidak menjadi sebuah pertanyaan lagi bagi warga suku Baduy Dalam. Mereka sudah percaya hukum alam selalu berbicara, hidup berdampingan dengan alam jauh lebih baik. Warga suku Baduy Dalam, masih mau menerima pengunjung-pengunjung lokal, tapi dia tetap dengan keras menolak pengunjung asing memasuki kampung mereka. Pengunjung lokal pun boleh tinggal semalam, tapi harus mau menghargai aturan adatnya, seperti tidak boleh sedikit pun mengambil gambar dalam bentuk apapun di sana. Terasa sekali kan, bahwa benar-benar mereka tidak mau terekspose jauh ke luar. Hanya berupa cerita langsung, turun untuk merasakan langsung hidup di sana 24 jam, bagi yang mau mengenal mereka. Dengan keramahan dan keterbukaannya, mereka mau kok untuk menceritakan langsung seperti apa Baduy Dalam.

Perjalanan yang ditempuh menuju Baduy Dalam yaitu kurang lebih 1 jam dari perbatasan antara Baduy Dalam dengan Baduy Luar. Nah, untuk sampai ke perbatasan dengan Baduy Dalam, Kurang lebih 3 jam kita berjalan di kampung Baduy Luar dari Ciboleger tempat dimana kendaraan pengunjung di parkir. Total jumlah kampung Baduy saat ini adalah 65 kampung yang terdiri dari 62 kampung di Baduy Luar dan 3 Kampung di Baduy Dalam.


Ada beberapa aturan yang berbeda memang antara Baduy Dalam dan Baduy Luar, dari kasat mata pun bisa terlihat. Seperti Baduy luar memakai baju hitam biru, boleh pakai alas kaki. Untuk mandi pun mereka diperbolehkan memakai alat-alat mandi dan bisa memiliki alat komunikasi seperti handphone. Sedangkan Baduy Dalam, sudah khasnya pakaian mereka yang selalu Putih hitam atau cukup hitam-hitam tanpa alas kaki. Mereka juga mandi cukup hanya dengan air sungai yang ada di sisi timur dari kampungnya. Warga Baduy Dalam, tidak boleh memakai alas kaki, tidak memiliki handphone dan juga di dalam kampungnya tidak ada listrik sama sekali. Rumah-rumah yang ada di Baduy memang semuanya dalam bentuk rumah panggung yang terbuat dari bambu. Bedanya adalah rumah Baduy Dalam hanya terbuat dari bambu-bambu tanpa boleh menggunakan paku sama sekali, sedangkan Baduy Luar diperbolehkan menggunakan paku. Dari sekian perbedaan aturan yang ada antara Baduy Dalam dengan Baduy Luar, mereka tetap tidak membeda-bedakan kampung siapa yang derajatnya paling tinggi, semua balik lagi tergantung dari perilaku manusianya aja.


Saya akan menceritakan apa saja yang saya lihat selama kurang lebih 15 jam tinggal di kampung Adat Suku Baduy Dalam. Jam 5 sore saya tiba di kampung Cibeo. Kampung Cibeo adalah salah satu kampung dari 3 kampung yang ada di Baduy Dalam. Saya melewati beberapa rumah panggung kecil yang memang sebagai tempat penyimpanan lumbung padi mereka. Usai itu barulah saya tiba diperkampungannya. Sangat ramai, orang dewasa maupun anak-anak memakai baju yang sama dengan kaki telanjangnya. Terasa di kampung monokrom, hanya ada hitam-putih. Warna lainnya hanya coklat dari bambu-bambu yang disusun menjadi sebuah rumah panggung. Putri-putri mereka sungguh cantik-cantik bak boneka Barbie dengan pakaian sederhannya. Manis-manis pipi merona gitu, saya saja terpesona. Laki-lakinya juga manis-manis sederhana gitu. Terlihat pancaran kebaikan dari hati mereka.


Sore itu, setelah saya meletakan ransel bawaan saya, saya menuju sungai untuk sekedar cuci muka dan kaki. Tepat di jam-jam menuju malam, warga beramai-ramai ke sungai dengan kesibukannya masing-masing. Ada yang sekedar mengambil air dengan bambu sebagai wadah penyimpan air, mencuci piring-piring dengan abu-abu sisaan bakaran masak, atau mandi dan buang air pun di sana. Sisi sungai yang dipakai untuk pria dan perempuan dibedakan. Diseberang sungai ada hutan lindung, dimana warga tidak boleh menebang pohon sama sekali. Mereka menggunakan kayu-kayu dari hutan yang mereka sebut hutan bergilir. Saat ke sungai, Saya malah salah fokus, sibuk liatin mereka, dengan segala keseruannya bercanda senda gurau tanpa saya mengerti bahasa mereka. Kebayangkan tiap hari mereka melakukan kebersamaan ini dengan bahagianya. Tidak semua dari mereka yang bisa berbicara bahasa Indonesia. Kebanyakan yang bisa berbahasa Indonesia hanya anak laki-laki yang sudah terbiasa menjadi guide dan porter untuk para pengunjung. Dari sana juga salah satu penghasilan mereka. Mereka tetap menggunakan uang loh untuk belanja kebutuhan sandang dan pangan. Tapi karena kebutuhan mereka yang jauh lebih sederhana dibanding kita, jadi mereka pun tidak pernah merasa kekurangan. Tidak ada yang namanya miskin atau kaya.


Di malam hari kita makan bersama pemilik rumah. Saat itu saya tinggal di rumah Bapak Ijong. Beliau tinggal bersama istri dan 1 anak laki-lakinya. Masak dengan tungku dan kayu bakar, serta makan hanya dengan tangan atau bisa membuat sumpit dari bambu. Mereka memang tidak boleh memiliki alat makan yang terbuat dari logam. Kegiatan malam kita, diisi penuh dengan obrolan, cerita dan canda tawa ditemani cahaya dari obor yang digantung di bilik bambu rumah pak Ijong. Tanpa ada tv disana, tetap saja terasa ramai. Oh iya, untuk menikah mereka sudah dijodohkan dari kecil loh sesama warga Baduy Dalam juga. Dan batas usia untuk menikah minimal 17 tahun. Usia rata-rata di sana untuk menikah sekitar 18 tahunan. Cinta atau tidak, mereka menerima dengan legowo. Untuk laki-laki di sana, dilarang melakukan poligami oleh aturan adatnya. Warga Baduy Dalam tidak sebanyak warga di Jakarta, yang artinya bisa saja mereka menikah dengan sepupunya. Tapi pastinya tidak akan menikah dengan sodara kandung.


Saya berpikir, mereka adalah manusia yang benar-benar paling tabah untuk menjalani hidupnya. Kesederhanaanya yang selalu membuat mereka berkecukupan, tanpa ada istilah “dicukup-cukupin”. Saya belajar banyak hal dari mereka.

Terima kasih buat yang sudah baca, semoga berguna. Dokumentasi yang ada di sini hanya yang berada di Baduy Luar. Dilarang mengambil gambar dalam bentuk apapun di Baduy Dalam.
Bye…bye…

Sabtu, 07 Juli 2018


Halo, Saya Arin


Review kosmetik kali ini yang mau saya buat adalah Maybelline Fit Me Concealer. Honestly ini concealer pertama yang saya punya, karena sebelumnya memang merasa complexion makeup saya belum ada yang harus ditutupin banget. Nah, waktu itu lagi ada bekas jerawat yang cukup susah hilang, pakai foundation biasa milik saya ternyata belum bisa nutup. Akhirnya mulailah kepikiran pakai concealer. Sebenernya juga concealer Maybelline Fit Me juga uda lama banget keluarnya, saya cukup ngikutin updatenya dari yang hype banget masih musti beli online karena belum masuk ke Indonesia, sampai sekarang uda masuk ke Indonesia dan justru harganya cukup lebih murah setelah masuk Indonesia.


Maybelline Fit Me concealer yang saya pakai nomer 25 shade Medium, karena saya memang cari concealer yang sama dengan warna kulit saya, bukan untuk menghighlight. Rata-rata orang Indonesia dengan warna kulit sawo matangnya, kebanyakan pakai shade Medium no. 25 ini. Saya pakai ini untuk bener-bener buat nutupin bekas-bekas jerawat dan bagian bawah mata. Packagingnya standart seperti concealer lainnya sih. Dari botol plastik juga jadi gak takut pecah, mudah dibawa kemana-mana. Aplikatornya juga enak, mirip-mirip pakai liquid lipstick. Panjangnya aplikator cukup sampai ke paling dasar botol concealer, jadi gak akan takut susah ngambilnya kalo sudah mau habis. Harganya cukup murah untuk ukuran drugstore, sebelumnya waktu belum masuk Indonesia harga ini sekitar Rp 125.000. Sekarang setelah masuk Indonesia jadi turun loh, yaitu Rp 105.000,-.


Saya suka banget sama teksturnya, ringan dan mudah diblend. Coveregenya lumayan bagus. Pastinya dia bisa lebih nutupin bekas jerawat saya dibanding cuma pakai foundation. Tapi kalo warna bekas jerawatnya terlalu gelap banget alias warna hitamnya berpigmentasi tinggi, agak kurang bisa nutup sih concealer ini. Saran saya pakai corrector dulu yang warna orange, baru timpa concealernya. Untuk penggunaan dibawah kantong mata, pertama kali saya mau pakai waktu itu agak takut bikin crak, tapi ternyata saya cukup terkesan kalo ternyata Maybelline Fit Me concealer ini sama sekali gak bikin garis-garis halus dibawah mata saya. Justru rasanya lembab aja, gak tau apa ada kandungan yang melembabkan apa gimana sih.

Nah segitu aja singkat review Maybelline fit me concealer dari saya. Semoga bermanfaat ya. Thank you buat yang uda baca.
Bye….bye…

Popular Posts

Brush Makeup yang Harus dimiliki Pemula

Haii,, Saya Arin. Saya sebagai makeup pemula, yang baru senang makeup 2 tahun ini, mau coba sharing berapa dan apa aja sih brush ya...