Gw punya hobby travelling dan bermain make-up. Dari kecintaan tersebut akhirnya gw memutuskan berbagi cerita travelling dan membahas make-up favorit, lewat blog yang gw buat bertemakan "Fun Beauty Traveler".

Total Tayangan

Kamis, 01 Februari 2018

Halo… Gw Arin

Puncak Gunung Andong (Puncak Jaya)

Ternyata camping ceria plus lintas jalur di gunung Andong, asik juga loh. Jangan dilihat dari ketinggiannya yang hanya 1.726 mdpl ya, tapi jalurnya yang masih alami itulah jadi lumayan menantang. Dengan tracknya yang cukup menanjak dan berbatu serta tanah yang licin bila basah, lo gak bisa sepelekan gunung ini. Gunung ini memang cocok sekali untuk pemula karena jalurnya yang memang seperti gunung hutan lainnya, hanya saja lebih pendek perjalanannya. Jadi cocok untuk melatih fisik dan mental bagi pemula. Cocok banget juga buat gw yang uda lama bener gak naik (setahun lebih) untuk melatih fisik lagi, plus emang cuma cari hutan yang bisa didatengi buat melepas rindu main-main di hutan.

GUNUNG ANDONG


Gunung Andong yang bertipe perisai ini berada di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Andong terletak di perbatasan wilayah Salatiga, Semarang dan Magelang. Gunung Andong gak memiliki aktivitas vulkanik ya. Jadi aman banget buat camping ceria. Gunung Andong merupakan salah satu dari beberapa gunung yang melingkari Magelang. Gunung Telomoyo ialah gunung yang berdampingan dengan gunung Andong ini.

JALUR SAWIT

Gerbang Pendakian Jalur Sawit

Sabtu siang, 13 Januari 2018, gw bersama mba Silvi, mas Angga, mba Herlina, mba Maw dan mba Natalia melakukan pendakian gunung Andong via Sawit. Tidak lupa untuk melakukan registrasi pendakian, karena ini adalah salah satu safety prosedur dari sebuah pendakian. Dimana nama-nama kita terdata pada pos pendakian. Jadi biasanya, saat naik dan sudah turun kita harus absen lagi. Supaya tim posko paham mana pendaki yang belum turun dan mana yang udah turun. Pendaftaran hanya dikenakan biaya Rp 10.000/ orang.  Dari pos pendaftaran kita pun diberikan peta gambaran kasar, jalur dan pos-pos apa saja yang kita akan lewati di jalur sawit. Namun peta yang kita bawa hanya peta di jalur sawit, dan gak bawa peta di jalur yang kita turunin yaitu jalur pendem. Karena memang pada awalnya, kita belum ada niat untuk lintas jalur.

Peta Jalur Sawit

Disini gw gak akan sebut berapa jam pendakian dan turunnya ya. Karena kita memang bener-bener dateng untuk mendaki dan menikmati perjalanan. Banyak makan, banyak foto, banyak diem liat pemandangan, banyak ngobrol pula saat perjalanan. Hehe… Bisa dibilang kita orang-orang yang lagi rindu bermain di hutan untuk menghindari sesaat dari hiruk pikuk di Kota.


Pada jalur sawit, awalnya gw agak males karena ternyata dari mulai pendakian masuk hutan, dibuatkan tangga oleh pengelola. Sebenernya it’s ok, cuma jadi lebih cepet pegel aja, karena gak bisa menyesuaikan langkah pendakian kita. Tapi ternyata dan untungnya tangga itu cuma sampai di pos 1. Bahkan sebelum pos 1 sih. Jalur sawit dari bawah sampai puncak bisa dibilang lebar, sangat jelas. Jadi jalur ini pun bisa dilalui 2 orang secara berdampingan. Bukan tipe jalur yang setapak banget. Mungkin karena memang jalur resmi pendakian, biasanya dibuat seperti itu untuk memperjelas jalur dan meminimalisir pendaki tersesat.

Jalur Sawit (Hutan Pinus)

Nah… di jalur sawit ini ada 2 warung buat kita bisa makan. Tepatnya di pos 2 dan di dekat puncak. Jadi sebenernya kalo kalian gak mau berat-berat bawa makanan pokok, bisa tinggal beli di warung. Cuma buat gw, itu agak kurang pas kalo kalian memang sadar sedang melakukan kegiatan pendakian gunung hutan. Logistik dalam bentuk makanan sangat penting untuk dibawa. Kita gak akan tau apa yang akan terjadi di alam bebas. Bahkan biasanya gw selalu bawa makanan +2 hari, maksudnya adalah membawa makanan cadangan untuk 2 hari kedepan dari jadwal turun kita. Siapa tau kita mau tambah hari, atau tersesat (jangan sampe ya…) atau sekedar berbagi dengan pendaki lain. Di jalur sawit juga ada sumber airnya, lebih tepatnya di ketinggian 1706 mdpl. Airnya berlimpah dan terus mengalir. Sebelum pos terakhir kita melewati pos puncak makam, dimana di pos itu memang terdapat makam yang dibuatkan shelter khusus pula.


PUNCAK GUNUNG ANDONG (Camp Ceria)

Puncak Jaya

Pemandangan Gunung Merbabu dan Merapi

Puncak gunung Andong mirip seperti sabana yang ada di gunung merbabu. Mungkin karena memang berdekatan pula, mereka pun serupa. Tanah yang lapang membuat pendaki banyak yang camp di sana. Puncak dari sisi jalur Sawit dan memang puncak tertinggi gunung Andong ini, dinamakan puncak Jiwa. Pemandangan yang terlihat dari puncak Andong selain pemandangan perkebunan warga desa, terlihat jelas juga gunung Telomoyo, Merbabu dan Merapi. Alhamdulillah selama pendakian, cuaca merestui perjalanan kita walaupun kadang berkabut tapi tidak sampai hujan. Hujan pun turun saat sudah malam, tidur pun jadi lebih hangat dan nyenyak.


Kegiatan Memasak

Sekitar jam 3 sore, kita buka packingan untuk pasang tenda dan masak-masak. Camping ceria di mulaiiii… Mas Angga udah bawain kita 2 tenda. Satu kapasitas 4 person, dan satu lagi kapasitas 2 person. Kita sebagian sama-sama mendirikan tenda, sebagian memasak. Menu utama kita adalah sayur sop dan tempe goreng, Sop hangat plus tempenya yang gurih sangat pas banget mengisi perut kita sambil menikmati dinginnya sore di puncak gunung Andong. Kita bukan lagi makan di depan lukisan alam asri dengan gunungnya, tapi real kita makan sambil lihat pemandangan gunung-gunung tinggi beneran yang ada di sekitar gunung Andong. Cerah, biru langit dan putih awan yang terlihat menyegarkan mata dan bikin hati bahagia. Nah yang kaya gini nih salah satu cara kalo mau awet muda. Hehe… Disana kita ngobrol, bercanda juga foto-foto untuk mengabadikan moment saat itu.




Semakin sore dan semakin malam, gunung ini semakin ramai ternyata. Ditambah kita memang pas di waktu weekend. Sumpah tenda padat sekali disana heuheu… Pagi-pagi bangun, keluar tenda lumayan shock si seramai itu. Karena memang baru tau gunung ini ternyata cukup nge-hits di Instagram, dan bagus buat foto-foto. Karena jalurnya yang gak panjang, membuat banyak orang kesini sekedar wisata bahkan cuma sandalan atau pakai sneakers. Disini gw geregetan sih, pantes aja orang pos bawah bilang agak kesel sama mereka-mereka, karena kurangnya safety dalam pendakian. Misalnya hujan turun lebat saat perjalanan, otomatis sepatu mereka yang alasnya bukan dikhususkan untuk track gunung, akan lebih licin, dan jadi lebih sering jatuh. Coba kalo uda keseleo, salah siapa??? Jalan pasti lebih susah lagi. Ini salah satu yang bikin pendaki drop. Kecuali lo akamsi (anak kampung sini) yang uda biasa dengan lingkungan di gunung hutan, dan tangguh menahan sakit yes, it’s oke monggo kalo mau pake sandal jepit. Sifat kurang safetynya pendakian masih banyak yang dilakukan oleh anak-anak jaman sekarang.


Ada satu hal lagi yang menyebalkan, budaya corat-coret di kursi sekolah itu mbok ya jangan dibawa-bawa ke gunung. Batu besar di coret-coret lah dengan tinta warna-warni. Itu merusak, sangat tidak indah. Alay. Kalo mau tulis nama dengan tujuan sebagai kenangan, gak gitu caranya. Bikin aja sekalian memoriam disana deh. Heuheu,,, Please jangan lagi corat-coret di mana pun, itu gak guna, gak ada yang kenal juga sama nama lo. Bisa kan cukup foto-foto dan pajang di rumah sebagai kenangan lo pernah kesana?! Namun, gw cukup suka disini karena kesadaran pendaki akan sampah, untuk tidak membuang sembarang itu sudah cukup baik, ditambah beberapa plang larangan buang sampah yang cukup pula mengingatkan. 

Plang Larangan Buang sampah sembarangan


JALUR PENDEM

Jembatan Setan

Minggu siang, 14 Januari 2018, kita berenam turun dan naik lagi menyusuri punggungan puncak andong untuk menuju puncak alap-alap. Puncak alap-alap ialah puncak gunung Andong dari sisi jalur Pendem. Dimulailah kita melakukan lintas jalur dengan cuaca yang sangat cerah. Pada saat menyusuri punggungan puncak Andong, disarankan jangan lengah sama sekali ya. Karena track setapaknya yang cukup terjal, berbatu dan curam serta kanan kiri pun jurang maka dari itu jalur ini diberi nama Jembatan Setan.

Jembatan Setan

Jembatan Setan

Pada Jalur Pendem ternyata memiliki track yang lebih terjal dibanding track sawit. Jalurnya pun lebih setapak. Sensasinya pasti lebih beda. Jujur gw lebih suka jalur Pendem, karena lebih sepi, adem, gak ada warung, gak ada tangga hehe… kekurangannya cuma 1 yaitu gak ada air. Disini juga gak ada shelter yang didirikan loh. Penunjuk arah pun hanya berupa tali rapia. Bisa dibilang jalur pendem jauh lebih alami dibanding jalur sawit. Finish dari jalur pendem sebenernya hanya sekitar 1 km dari start jalur sawit, jadi kita bisa kembali ke basecamp yang sama.

Pelawangan Jalur Pendem

Jalur Pendem

Keluar dari Hutan, Jalur Pendem

Finally, sampe basecamp kita mandi-mandi. Kamar mandi disana cukup banyak dan bersih. Biasanya bahkan gak pernah tuh gw mandi di basecamp. Biasanya bener-bener sampe rumah baru mau mandi. Hehe… Karena disini terawat dan tidak antri untuk mandi, akhirnya mandi disini. Jangan lupa sumbangsih di kotak kamar mandi ya. Cuma Rp 2000 untuk mandi.

Basecamp Andong

Nah itu dia jejak kata gw saat camp ceria plus lintas jalur di gunung Andong bersama 5 teman lainnya, semoga bermanfaat ya. Bye…bye….


Popular Posts

Brush Makeup yang Harus dimiliki Pemula

Haii,, Saya Arin. Saya sebagai makeup pemula, yang baru senang makeup 2 tahun ini, mau coba sharing berapa dan apa aja sih brush ya...