Random Talk #10 : Mindfulness


Oh hai sebenarnya saya sudah mau menulis ini beberapa waktu lalu, tapi selalu gagal hanya karena sedang merasa saya belum benar-benar mindfulness. Tapi setiap harinya saya selalu tertarik berbicara tentang hidup, bagaimana hidup itu, apa tujuan hidup, bagaimana cara mengahadapi dan mensikapi hal-hal yang terjadi dalam hidup itu sendiri.

Pada dasarnya Mindfulness adalah momen kesadaran saat di mana kita berlatih terus, membawa perhatian penuh untuk hal apapun yang kita lakukan pada saat itu. Saya berpikir bukan pada hari ini aja tapi lebih ke pada saat itu juga, di waktu tersebut. Saya berumur 27 di tahun ini, dimana saya sudah sadar betul merasakan seperti di lempar sana- lempar sini, jedotin ke sana, jedotin ke sini oleh keadaan. Bahkan sejak saya masih kecil.

Pada usia 17 tahunan, saya saat itu hanya sibuk berusaha bagaimana orang harus sadar, kalo saya tidak patut untuk di hina atau direndahkan. Saya sibuk dibeberapa tahun itu. Saya mulai berani keluar untuk bersosialisasi awalnya mencari banyak teman, cuma biar dibilang orang.. banyak yang mau temenan dengan saya. Dan mencari hobi. Sampai saya menemukan hobi saya yang bisa merasakan it’s so fun buat saya pribadi. Yaitu mendaki gunung. Dari bermain di alam bebas juga saya menemukan tentang sebuah perjalanan yang pendek maupun panjang, pada akhirnya kita cuma harus fokus di saat itu agar tetap berjalan baik-baik saja dibanding harus memikir besok yang belum tentu saya miliki esok hari.

Saya lama-lama lelah dengan sibuk membuktikan ke orang-orang, kalo saya ini bisa. Saya mendaki gunung tidak benar-benar hanya karena hobi, tapi lebih besar karena ingin membuktikan ke orang, kalau saya mampu dan punya karakter kuat. Pada akhirnya saya lelah dan menyerah. Dan memilih untuk menjadi orang biasa, bahkan tidak perlu banyak orang tau tentang saya. Di masa itu juga saya sudah mulai mengecilkan circle pertemanan saya. Saya mungkin hanya cari teman yang nyaman dan nothing to lose aja. Padahal banyak orang yang selalu bilang "banyakin relasi". Supaya kedepannya bisa dibantuin kalo butuh bantuan. Saya saat itu berpikir saya akan berteman dengan siapapun selama dia memang baik hati. Menurut saya, masalah dia bisa bantu atau engga di saat saya sulit, itu hanya bonus aja.

Saat itu usia saya masuk ke 21. Saat itu mungkin orang juga banyak bertanya setelah ini mau kerja dimana, mau kemana. Dan saya gak ada jawaban, saya merasa saya hanya ingin menjalani yang saya mau pada hari ini. Saya mendadak tidak punya cita-cita yang hebat seperti kebanyakan orang.

Masa itu saya punya relationship dengan seorang pria yang beda agama, gagal sih pada endingnya. Tapi ada pelajaran yang saya ambil banyak, pertama saya tetap butuh orang lain, gak bisa melulu sendiri, dan bukan selalu bicara tentang aku-aku dan aku. Saya pernah merasa ingin bunuh diri karena lelah dengan keadaan. Kemudian saya juga sadar senatural-naturalnya hidup, ada Allah yang bisa bantuin dan selalu nemenin saya. Gak Cuma pasrah, tapi tentang terus berusaha dan jangan lupa didampingi dengan doa. Setelah itu saya mulai memperbaiki keimanan saya secara perlahan. Hingga di usia 24 tahun saya yakin untuk menggunakan hijab. Terasa tiba-tiba ada yang mendorong, tanpa saya bisa berkutik dengan apapun alasannya.

Kegagalan dan serba ketiba-tibaan yang terjadi dalam hidup masa usia 20an, termasuk pilihan yang saya pilih dalam hidup. Mulai dari apa yang ingin saya kerjakan di bidang karir, hingga yakin untuk berhijab. Membuat saya sadar memang ada hal-hal tertentu yang memang saya digerakkan untuk mengarah ke suatu arah di mana memang itu takdir saya. Masuk usia 25, saya mulai enjoy dengan kesendirian tapi yakin dan berani karena Allah selalu menemani saya. Saya tidak pernah takut mengambil keputusan yang saya ikuti dari kata hati di setiap harinya. Ketenangan selalu ada, walaupun ada sedikit ketakutan. Beberapa tahun itu saya mulai stabil, dan juga merasa tidak ada masalah besar lagi bagi saya. Sampai di moment Allah mengundang saya ke tanah suci. Madinah dan Makkah. Saya sangat bersyukur dan semakin yakin denganNya.

Sampai tiba di akhir 2019, saya kembali dijatuhkan mimpi saya tentang relationship yang happy ending, ternyata berakhir di luar ekspektasi saya. Saya lengah dan hampir lupa, bahwa hidup memang naik turun, dan manusia hanya bisa berusaha juga berdoa. Namun mungkin keyakinan saya akan Allah yang kuat setelah diundang olehNya ke tanah suci, sakit hati saya tidak terlalu lama, saya yakin memang Allah punya rencana lain, dan orang itu memang tidak baik untuk saya. Ditambah bencana banjir yang menenggelamkan rumah di saat bersamaan dengan sakit hati itu. Untungnya saya tidak ada rasa ingin bunuh diri. Cuma setiap lihat ka’bah di atas sajadah, saya selalu menangis begitu saja tak bisa terbendung lagi di setiap shalat, mungkin seperti curhat… kalo saya memang lelah tapi saya akan hadapi karena Lillahita’ala. Saya juga sadar Allah selalu memberi jeda atau waktu untuk manusianya bersedih, supaya juga bisa berpikir, lalu menerima dan ambil hikmahnya.

Yap kalo dibilang tujuan hidup lo apa, sampai sekarang gw gak bisa jawab. Tapi kalo karir tentang bisnis saya, bukan berarti tidak ada planning. Saya juga selalu ada planning kecil-kecil di setiap harinya, saya ingin melakukan apa saja. namun itu tidak menjadikan jawaban bagi saya untuk pertanyaan apa tujuan hidup saya. Saya hanya bersiap diri di setiap harinya, apa yang Allah tugaskan kepada saya, saya harus melakukan apa di hari itu, apa yang harus saya hadapi dan saya hanya bisa menghadapi itu dan menikmatinya setiap hari.

Mindfulness menjadi teori dan cara saya untuk melewati setiap harinya. Supaya tidak terlalu banyak mencemaskan di masa depan yang bahkan besok aja belum tentu saya tau apa yang terjadi, saya masih hidup atau engga. Saya berusaha siap, tapi tidak akan pernah ingin menyakiti hati manusia lain hanya karena pola pikir saya. Balik lagi karena Lillahita’ala. Tapi terkadang inner child yang ada di dalam di diri saya membuat saya lupa sampai detik ini, kembali takut dan cemas. Dan setiap harinya saya berjuang untuk melawan itu dengan mengingat apa itu mindfulness. Karena memang itu cara saya jauh lebih tenang dalam menghadapi apapun.

Makanya keinginan saya menulis tentang mindfulness seperti maju mundur. Tapi ternyata mindfulness hanya sebuah cara, yang memang terus dilatih setiap harinya.

Tidak ada komentar untuk "Random Talk #10 : Mindfulness"