(Konten Blog : Mountaineering & Beauty) Instagram & Facebook : @Dwiariyuni

Total Tayangan

Jumat, 27 September 2019

Halo pengembara, Salam Lestari!

Sumber gambar : @1964.id

Survival, berasal dari kata survive, yang berarti bertahan hidup dari keadaan darurat oleh suatu sebab. Dengan mempelajari dan melatih diri untuk survival berarti bahaya dalam sebuah perjalanan, sebenarnya tidaklah perlu ditakuti lagi, tapi justru diantisipasi.

Sebelumnya, saya sudah pernah menulis tentang teknis survival khususnya pada gunung hutan sedikit banyak di Teknik Bertahan Hidup di dalam Hutan (Survival Camp 2018) .Mungkin sudah ada yang pernah baca? Nah kalo belum baca, kamu bisa nih baca the Survival Pyramid ini dulu, karena survival pyramid adalah susunan dari 3 hal dasar utama dan penting yang harus dimiliki oleh survivor. Jadi apa aja sih 3 hal tersebut ? mari kita langsung bahas aja yuk.

Pertama yang paling penting untuk dimiliki adalah “Will to Live” yaitu keinginan untuk terus hidup, semangat hidup. Kemauan memang menjadi hal dasar dan penting sebagai energy utama seseorang untuk melakukan sesuatu apapun itu. Keinginan hidup merupakan semangat untuk terus bertahan hidup selama dalam keadaan sesulit apapun. Motivasi seseorang untuk semangat hidup, masing-masing setiap orang memiliki jawabannya sendiri-sendiri. Tergantung pada apa yang mereka anggap penting di dalam hidupnya. Seperti orang-orang yang mereka cinta, ada hal yang terasa masih perlu tanggung jawab dari dirinya ataupun dari ketentuan pada ajaran agamanya.

Kedua yang cukup penting ialah “Knowledge” yaitu pengetahuan untuk bertahan hidup. Setelah semangat hidup telah ada, sangat juga diperlukan pengetahuan untuk bertahan hidup. Pengetahuan dimana survivor bisa lebih ke teknis dalam bertahan hidup, seperti apa yang akan dilakukannya untuk tetap bisa hidup di saat keadaan darurat. Nah, secara teknis sudah pernah saya bahas ya di sini, langsung aja klik Teknik Bertahan Hidup di dalam Hutan (Survival Camp 2018) , usai membaca semua di sini. Semakin banyak pengetahuan akan semakin tahu banyak tentang teknis bertahan hidup juga berarti semakin mudah pula untuk bertahan hidup di keadaan darurat. Pada tema gunung hutan kali ini, biasanya teknis bertahan hidup yang perlu dipelajari seperti bagaimana cara membuat shelter, api, mancari makan dan minum juga bagaimana cara keluar dari wilayah tersebut dengan ilmu medan peta kompas.

Ketiga yang tidak kalah penting adalah “Kit” atau alat-alat yang dibutuhkan untuk bertahan hidup. Setelah 2 hal dasar penting di atas telah survivor miliki, masih kurang cukup jika tanpa adanya alat. Alat-alat ini biasa disebut dengan Survival Kit. Survival kit pada ilmu gunung hutan biasanya seperti, peta, kompas, pisau, jarum, benang juga alat komunikasi. Alat-alat untuk survival sebenarnya bisa disesuaikan dengan tempat dimana kita bermain. Persiapan membawa alat-alat ini sangatlah membantu untuk bertahan hidup sewaktu-waktu jika dibutuhkan pada saat tiba-tiba terjadi kondisi darurat. Jangan lupa loh ya, bahwa keadaan darurat bisa terjadi kepada siapapun, kapanpun dan dimanapun ya guys.

Sumber Gambar : @1964.id

Nah itu dia tadi 3 hal dasar penting yang masuk ke dalam Piramida Survival. Ketiga hal dasar tersebut saling berhubungan dan dibutuhkan oleh survivor sebelum berbicara soal teknis. Terima kasih buat yang sudah baca, semoga bermanfaat yaaa…
Bye…bye..

Sumber Materi : Wanadri Coop (Instagram : @1964.id)

Selasa, 24 September 2019


Halo beauty enthusiast… Saya Arin


Sebagus itu kaaah produk hits ini ??? Sudah lama saya tidak bahas dunia skincare. Kali ini saya akan bahas produk skincare dari Korea yang sedang cukup ngehits di kalangan wanita Indonesia saat ini, yaitu Madagscar Centella Asiatica by Skin 1004. Skin 1004 adalah sebuah brand skincare Korea yang diproduksi di Gangnam-gu, Seoul, Korea. Produk ini ngehits karena memang semua yang sudah pakai produk ini, tidak ada yang kasih efek buruk, selaaalu cocok. Kandungannya yang 100% ekstrak Centella Asiatica dari wilayah Madagascar, membuat semua orang tertarik untuk mencobannya, karena sangat tidak macam-macam sekali komposisinya.


Centella Asiatica ialah jenis tumbuhan herbal yang berbagai khasiat. Kalo orang Indonesia biasa menyebutnya dengan nama daun Pegagan. Centella Asiatica dikenal sebagai salah satu kandungan alami yang efektif untuk menangangi jerawat berkat senyawa glikosida madekosida pada bagian daun dan tangkainya yang berfungsi sebagai anti-inflamasi. Selain mampu menangangi jerawat dan baik untuk mengurangi tanda penuaan, Centella Asiatica juga mengandung komponen triterpenoid yang secara efektif dapat memperkuat jaringan sekaligus meningkatkan kadar anti-oksidan pada kulit. Kandungan asiaticoside dan madecassoside di dalamnya juga telah teruji klinis mampu meningkatkan sintesa kolagen yang dapat mempercepat proses penyembuhan kulit yang terluka sekaligus memudarkan bekasnya. Jadi bisa juga tuh menghilangkan lusa bekas jerawat.


Klaim pada produk ini ialah meratakan tekstur kulit, melembabkan kulit, memperkuat skin barrier dan sangat cocok untuk jenis kulit wajah yang sensitif. Ampoule ini dikemas dalam botol kaca, dan menggunakan pipet untuk aplikatornya. Jadi cukup higienis. Ampoule ini terdiri dari 2 kemasan ukuran 50 ml dan 100 ml. Teksturnya hampir seperti air bening saja, cepat menyerap di kulit wajah.


Saya pakai ini di 1 minggu pertama hanya pada saat malam hari. Pada kulit wajah saya, ampoule ini membantu menyembuhkan jerawat saya hanya dalam 1-2 hari saja. Amazing banget kaaaan!!! Dan tekstur-tekstur dari beruntusan mulai merata. Sukaaaa bangeeet…. Sangat sesuai dengan klaim produknya. Di minggu kedua, saya mengalami alergi obat antibiotik, sehingga mengakibatkan kulit wajah saya memerah dan penuh dengan beruntusan. Beruntusannya pun ada isinya huhuhu sedih banget. Untungnya saya sudah beli ampoule ini.

Pengobatan dari beruntusan itu karena disebabkan alergi obat, jadi saya harus minum banyak air putih. Kemudian setiap setelah cuci muka dan pakai toner, saya akhiri skincare saya dengan ampoule ini… Alhamdulillah di hari ketiga beruntusan saya mulai mereda, isinya mulai hilang. Kulit mulai mengelupas. Di hari ke enam kulit wajah saya jauh membaik. Alhamdulillah…  Hari ke Sembilan tekturs kulit wajah mulai normal, dan beruntusan hampir tidak ada.

Saya beneran tidak menyesal sama sekali sih sudah beli Madagascar Centella Asiatica dari Skin 1004 ini. Mungkin akan selaalu rephurces. Saat ini yang saya miliki travel sizenya, ukuran 50ml dengan harga Rp 200.000. Tiap toko beda-beda si.. tapi gak terlalu jauh ko bedanya. Good deal banget si harganya. Kalo ampoule ini habis, saya akan beli yang size 100ml pokoknya.!!! Ini beneran rekomended banget deh buat kamu yang kulit wajahnya bermasalah. Aku sendiri termasuk jenis kulit wajah yang sensitif.

Nah itu dia honest review saya tentang Madagascar Centella Asiatica dari Skin 1004 ini. Terima kasih sudah membacanya, semoga bermanfaat ya girls…
Bye… bye…




Kamis, 19 September 2019


Hai saya Arin. 


Beberapa waktu lalu di akhir bulan Agustus 2019 ini, saya sempat travelling sebentar di kawasan Gunung Bromo. Kali ini saya akan berbagi sedikit cerita di sana, karena saya pun sempat naik gunung Bromonya untuk melihat kawah Bromo yang berada di puncaknya. Gunung Bromo ini meskipun merupakan gunung berapi yang statusnya masih aktif, tetapi sangat terkenal loh sebagai objek wisata utamanya di Jawa Timur bagi wisatawan asing maupun lokal. Tapi jangan khawatir, wisatawan yang berkendaraan diberi titik batas aman yang melingkar dengan diameter 4km dari kawah Bromo.


Gunung Bromo masuk ke dalam wilayah Taman Nasional Bromo, Tengger dan Semeru. Nama gunung Bromo ini berasal dari nama Brahma, yaitu salah seorang Dewa utama di Agama Hindu. Memang masyarakat suku Tenggernya pun mayoritas beragama Hindu. Gunung Bromo berketinggian 2.329 mdpl. Tapi untuk menuju puncak gunung Bromo, kita perlu jalan kaki dari batas parkir mobil jeep kurang lebih 2,5 km sampai ke bawah tangga. Lanjut menaiki tangga untuk ke kawah bromonya, kurang lebih 445 anak tangga ya guys. Perjalanan menaiki tangga mungkin hanya 5 menit. Karena saat itu Bromo pasca erupsi pada 19 Juli 2019, masih ada sisa-sisa pasir yang cukup menutupi anak tangganya, jadi agak licin, harus hati-hati yaaa.

Tangga Bromo

Jalur yg dilewati. 
Pemandangan dari puncak Bromo

Kawah Bromo ternyata juga menjadi tempat pembuangan abu jenazah bagi umat Hindu di sekitar. Saat saya tiba di puncaknya, saat itu tiba-tiba ada seorang ibu yang teriak menangis sedih, ternyata saat itu sedang ada pembuangan abu jenazah, mungkin dari salah satu keluarganya. Tetapi mohon maaf saya tidak sempat mendokumentasikannya. Samping persis gunung Bromo terdapat gunung Batok yang secara kasat mata, lain sekali dengan Bromo. Gunung Batok terlihat sangat hijau. Sedangkan gunung Bromo terlihat sangat gersang dan hanya ada batu dan pasir. Di bawah kaki gunung Bromo juga terdapat Pura yaitu tempat ibadah bagi umat Hindu. Pura tersebut tidak bisa dimasukin oleh wisatawan yah, hanya untuk yang ingin beribadah saja.

Kawah Bromo

Pura

Gunung Bromo memang ada diantara lembah dan lautan pasir yang sangat luas. Di balik Gunung Bromo pun terdapat padang rumput sabana, akan terlihat hamparan bunga-bunga yang cukup luas jika di cuaca yang bagus. Wilayah ini diapit oleh 4 Kabupaten yang ada di Jawa timur, yaitu Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Malang. Pokonya mah indah banget deh kalo main kesini, meskipun harus berdebu-debuan. Kemaren saya sewa jeep 1 mobil Rp 650.000. Jangan lupa bawa masker ya kalo mau kesini. Terima kasih buat yang sudah baca, semoga bermanfaat.

Gunung Batok

Sabana

Bye… bye…

Senin, 16 September 2019


Hai, apa kabar beauty enthusiast?  Saya Arin.


Sudah lama tak review powder, karena memang saya termasuk tipe orang yang kalo makeup an jarang pakai powder. Saat ini saya akan mereview produk lokal dari Lizzie Parra yaitu Face powder dengan shade yang saya pakai medium beige. Face powder yang dikeluarkan oleh Lizzie Parra berupa loose powder atau bedak tabur sis dan hanya tersedia 2 shade yaitu Light Beige dan Medium Beige.


Klaim dari produk ini ialah membuat makeup complexion jadi lebih flawless, smooth seperti pake filter efek. Shade Light Beige cocok untuk undertone kulit yang terang ke medium. Shade Medium Beige cocok untuk undertone kulit yang medium ke gelap. Saya cocok banget pakai yang Medium Beige. Menurut saya, meskipun loose powder ini hanya 2 shade tetapi masih bisa dipakai semua warna kulit wanita Indonesia, tinggal disesuaikan saja, karena bedak ini yellow undertone gitu. Dan loose powder ini pun setelah dipakai, lama-lama akan menyesuaikan warna kulit wajah.


Dari segi packagingnya, saya menilai dia super gemesh, higienis dan travel friendly. Warnanya yang nude dengan tulisan simpel Face powder by Lizzi Parra sangat gemash dan khas banget dari produknya BLP. Saat dibuka pun sangat bersih walaupun sudah dipakai, karena diberi sekat yang dipakai untuk wadah spongenya, jadi tidak berantakan saat pertama kali dibuka. Bantalan spongesnya empuk dan super lembut. Ketika sekatnya dibuka barulah terlihat powdernya. Saringan yang dipake hampir sangat rapat sehingga powder yang keluar terasa halus sekali. Pokoknya super halus deh butiran bedaknya. Beratnya yang 10 gr sehingga sangat ringan untuk dibawa travelling, juga dari plastik yang tidak akan takut pecah bila terjatuh. Pada bagian bawah packaging terdapat stiker bertuliskan brand, berat isi powder, shade powder, tanggal expired dan websitenya BLP.


Face powder ini yang saya rasain setelah dipakai memang sangat sesuai klaim. Jadi hasil makeup memang terlihat lebih flawless dan untuk set makeup cukup membantu lebih tahan lama juga. Tidak terlihat cakey sama sekali ya ampuuuun…! Saya suka banget si sama loose powder ini pokoknya. Harga face powder ini Rp 149.000. Yah cukup worth it lah yaaa girls.

Nah itu dia review singkat saya tentang Face Powder by Lizzie Parra ini. Menurut saya kamu harus cobain sendiri sih hehe… Terima kasih yang sudah baca, semoga bermanfaat ya.
Bye… bye…

Jumat, 16 Agustus 2019


Hai pendaki cantik, salam Lestari. Saya Arin.


Kali ini saya mau sharing dari pengalaman pribadi saya mendaki gunung tentang apa saja alat pribadi yang biasanya selalu saya bawa kemana-mana. Sebagai salah satu pendaki wanita, saya melihat di lapangan semakin banyaknya minat para wanita di luar sana yang baru mulai mencintai kegiatan outdoor ini yaitu mendaki gunung.  Namun banyaknya minat tersebut, tidak sedikit yang kurang memperhatikan manajemen perjalanannya. Dari kemampuannya dalam manajemen perjalanan, biasanya akan lebih mempersiapkan alat-alat pribadi yang dibutuhkan wanita sekalipun dalam keadaan urgen tanpa merepotkan para pria. Manfaat dari membawa alat-alat pribadi pun dapat menyelamatkan diri para wanita dari bahaya subjektif maupun objektif.

  1. Pakaian lapangan.
Pakaian lapangan biasanya berbahan mudah kering jika basah dan ringan.

  1. Sepatu trekking
Banyak saya melihat sebagian pendaki wanita yang sepertinya pemula masih memakai sepatu kets biasa bahkan terkadang flatshoes. Padahal alas sepatunya tersebut polos atau tidak dapat mengikat tanah, yang nantinya akan menyebabkan licin. Tanpa sepatu khusus, sebenarnya cukup bahaya jika terpeleset lalu yang ditakutkan adalah cidera kaki hingga sulit berjalan.

  1. Topi
Topi, saya gunakan sebagai pelindung kepala dan wajah saya dari sinar matahari langsung saja. Bisa juga dimanfaatkan sebagai penghangat saat malam tiba. Harusnya sih pakai sunscreen, tapi karena saya belum nemu produk yang cocok, jadi masi mengandalkan topi hehe…

  1. Pakaian tidur & sleeping bag
Pentingnya membawa pakaian tidur adalah supaya tubuh kita tetap bersih dan jauh lebih hangat saat tidur. Biasanya wanita jauh lebih banyak yang mudah terkena hipotermia kan. Nah dari kita mengganti baju kering dan menggunakan sleeping bag saat tidur, setidaknya dapat mengurangi resiko hipotermia tersebut.

  1. Jaket, sarung tangan dan kaos kaki
Ketiga barang ini cukup penting untuk beristirahat maupun berkegiatan bermalam, karena juga mampu mengurangi resiko hipotermia. Tapi biasanya, saya menggunakan ketiga barang ini jika benar-benar ingin tidur saja, agar tetap hangat karena belum dibawa keluar dari ransel.

  1. P3K termasuk Emergancy blanket & pembalut
Obat-obat pribadi sangat penting, dimana tidak semua teman tim kamu tau penyakit mu, bahkan gejala-gejala awalnya yang pertama tahu adalah dirimu sendiri. Pemahanan tentang diri sendiri akan kemampuan fisiknya, penting untuk seorang pendaki. 
Biasanya saya pun tetap butuh vitamin yang diminum pada malam hari sebelum melakukan pendakian. Pendaki wanita yang cukup mudah terkena hipotermia pun sangat disarankan untuk membawa emergency blanket jika ingin terus melakukan hobinya ini ya. 
Pembalut selalu bawa 1-2 pcs jika memang bukan tanggal haidnya, sebagai cadangan. Jika memang tanggalnya, siapkan pembalut secukupnya dan plastik untuk menyimpan dengan rapih dan dibawa turun sampai basecamp. Jangan pernah ditinggal ya girls…

  1. Headlamp
Headlamp sangatlah penting untuk berkegiatan oudoor di malam hari. Entah untuk perjalanan maupun di wilayah camp saja. Cahaya cukup penting bagi wanita yang cukup takut dengan gelap seperti saya hehe.

  1. Trekking pole
Semakin bertambahnya usia, tenaga tidak seperti masa remaja yang penuh energik lagi hehe… saya melakukan pendakian belakangan ini dengan bantuan trekking pole, supaya sedikit berkurang beban yang dirasakan tadinya dengan kaki saja. Pendakian memang akan jauh lebih ringan dengan pembagian tumpuan beban. Trekking pole juga bisa digunakan saat urgen, misal jika ada teman atau kamu sendiri yang cidera, alat ini akan membantunya untuk berjalan.

  1. Rain coat
Cuaca yang kadang cukup sulit untuk diprediksi membuat pentingnya membawa raincoat demi lancarnya perjalanan kita. Raincoat akan melindungi kita dari air hujan dan kedinginan.

  1. Pisau lipat
Pisau lipat selalu saya bawa jika berkegiatan outoor dan lebih sering digunakan untuk memasak. Buat pendaki wanita hayooo yang kadang carier dibawain pacarnya… Jangan bikin malu, masa di gunung masih minta dimasakin para pria. Hehehe… belajar sedikit-sedikit boleh dong. Karena gunung bukan tempat wisata atau bermanja ria, kalian akan menghadapi alam bebas yang banyak sekali kemungkinan bahaya terjadi. Jadi jangan terlalu tergantung juga dengan pria.

  1. Lip balm
Lipbalm cukup penting untuk menjaga kelembaban bibir wanita. Karena di gunung yang dingin namun sebenernya matahari pun terik, tanpa sadar membuat bibir kering dan pecah-pecah. Jangan lupa ya pakai lip balm setiap mulai terasa kering.

  1. Alat mandi & kosmetik
2 hal ini biasanya dipakai cukup saat dibasecamp saja, ketika ingin pulang. Supaya gak dekil-dekil amat lah ya girls pada saat kembali ke kota hehe… 2 hal ini kalo memang bisa dititipkan ke basecamp, biasanya saya titipkan di basecamp supaya mengurangi beban.

Nah itu dia 12 hal yang biasanya saya selalu bawa girls. Semua ini pun juga dipelajari dari pengalaman-pengalaman perjalanan yang telah dilakukan. Semakin banyak pengalaman biasanya akan semakin banyak ilmu yang didapat walaupun sederhana, namun dapat melindungi diri kita dari bahaya subjektif maupun bahaya objektif yaaa. Terima kasih untuk kalian yang sudah baca dan semoga ini bermanfaat . 

Bye… bye…

Kamis, 08 Agustus 2019

Hai, para beauty enthusiast.


Saya Arin. Sesuai dengan judulnya, saya akan mereview foundation dari brand yang sangat terkenal yaitu NYX Professional Makeup. Foundation yang saya akan review adalah seri Can’t Stop Wan’t Stop atau bisa disingkat CSWS. CSWS Full coverage foundation yang saya pakai ini adalah shade Medium olive.


Dari segi packaging, hemm… botolnya kaca kotak, bagus sih tapiii… saya sudah pernah menjantuhkannya tanpa sengaja dari ketinggian 1 meter lebih dan langsung pecah. Huhuhu sediiiiihhh… Agak bahaya memang kalo dibawa travelling gitu. Aku suka sih dia menggunakan pump jadi bisa terkontrol dalam pemakaiannya. Pada bagian botol terdapat stiker brand, seri jenis foundation, beberapa klaim produk, nomor BPOM, tanggal expired serta asal Produksi dan distributornya. Pada tutup foundation, terbuat dari plastik yang terdapat stiker bertuliskan shade foundation, klaim 24 hours dan matte finish. Sebotol isinya normal seperti pada umumnya foundation lain ya, yaitu 30ml. Nah untuk pemakaianya disarankan untuk dikocok sebelum dipakai.


Oke baik, lanjut ke formula foundationnya yaaa… Apakah dia sesuai dengan klaimnya atau tidak?. Mari kita bahas. Oh iya untuk pilihan warna pada foundation ini sungguh sangat banyak sekali. Jadi kamu bisa pasti menemukan warna yang sesuai dengan warna kulit kamu. Kamu bisa cek di websitenya untuk pilihan warnanya sebelum membeli. Dari segi formula dia memang bisa dibilang matte finish dan halus. Saya suka banget… makanya walaupun sudah pernah pecah, saya tetap pakai dia lagi, hehe... Biasanya saya pakai 2-3 pump untuk satu wajah. Mudah diblend, dan gak perlu diset pakai powder masih aman. Tahan lama bisa sampai 12 jam, tapi saya belum pernah coba 24 jam hehe… ya kalo untuk pemakaian 12 jam an itu masih cakep di wajah saya entah dalam ataupun di luar ruangan. Saya sih gak merasa foundation ini oxydize sih. Jadi memang foundationnya bisa dibilang sesuai klaimnya ya sis.

Beberapa menit pemakaian Foundation

Harga foundation ini Rp 250.000, dengan isi 30 ml dan kualitasnya, ya menurutku si worth to buy. Kamu bisa beli e-commerce resmi, atau ke konternya langsung yang ada di pusat perbelanjaan supaya bisa cobain testernya juga sebelum membeli. Nah segitu aja ya review singkat dari saya. Semoga bermanfaat. Terima kasih yang sudah membacanya.


6 jam setelah pemakaian

Bye… bye…

Kamis, 25 Juli 2019


Haii… Saya Arin.


Jejak kata kali ini saya akan menceritakan pendakian di gunung Prau yang dilaksanakan pada tanggal 29 hingga 30 Juni 2019. Pendakian ini saya lakukan bersama tim Backpacker Jakarta 26. Gunung Prau berketinggian 2.565 mdpl ini berada di kawasan dataran tinggi Dieng, Jawa tengah. Just info sedikit aja, kalo Dieng adalah desa tertinggi di pulau Jawa loh. Nah, gunung Prau ini menjadi titik tapal batas antara 3 kabupaten di Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Batang, Kabupaten Kendal dan Kabupaten Wonosobo. Saya dan tim melakukan pendakian ini melalui jalur Tapak Banteng yang berada di Kabupaten Wonosobo. Jalur ini sudah sangat terkenal dan bahkan selalu ramai para pendaki di setiap weekendnya. Lebih-lebih kalo ada long weekend, biasanya jalur ini cukup bisa dibilang macet karena terlalu padat pendaki.


Gerbang pendakian Patak Banteng

Seperti biasa, jangan lupa melakukan registrasi ke pos pendakian ya. Agar namamu masuk ke dalam daftar pendaki dan terpantau oleh pos. Pendaki akan dikenakan biaya Rp 15.000 per orang. Saya bersama tim, start pendakian pada jam 16.00 WIB dari basecamp Patak Banteng. Pendakian menuju pos 1 di awali dengan menaiki tangga dan jalan bebatuan. Perjalanan dari basecamp ke pos 1 ditempuh dengan waktu kurang lebih 15 menit. Selama perjalanan, saya melewati pemandangan kebun milik warga dan juga melewati 5 warung yang menjajakan merchandise dari Prau. Di sana juga ada beberapa warga setempat yang menawarkan jasa sebagai porter loh. Tapi maaf sebelumnya, saya kurang paham biayanya ya untuk jasa porter tersebut, karena memang tidak nanya-nanya ke mereka juga.

Tiket masuk 

Basecamp Tapak Banteng

Jalur menuju pos 1


Lanjut dari pos 1 ke pos 2, ditempuh dalam waktu 15 menit juga. Track yang dilalui masih ada sedikit tangga batuan dan selebihnya jalur alami. Jalurnya cukup luas dan sangat jelas sih. Selama perjalanan menuju pos 2, saya melewati banyak warung yang menjajakan makanan dan minuman. Kurang lebih ada 8 warung. Setiap melewati warung, memang buah semangka yang merah dan segar itulah paling sangat menggoda para pendaki untuk mampir, sekedar icip-icip menghilangkan rasa dahaga. Tapi saat itu, saya sama sekali tidak mampir ke warung sih. Dikarenakan jam pendakian sudah terlalu sore, udara pun semakin dingin. Kebetulan di bulan Juli ini, suhu dingin di Dieng termasuk suhu ekstrim.

Jalur menuju pos 2

Pos 2 Tapak Banteng

Pos 2

Saya mengakui pendakian ini sungguh mengantukan karena suhu sore itu sudah mencapai 9° C dan sangat kebetulan hari itu adalah hari pertama saya datang bulan. Jadi cukup terasa berat pendakian kali ini heuheu… Saya jadi memutuskan terus melakukan pendakian tanpa mampir ke warung, untuk mengejar waktu dan meminimalisir tubuh saya ngedrop di jalur. Karena saya juga tidak mau menambah beban tim swiper. Info tambahan aja nih ya, biasanya pendaki yang mulai mengantuk dalam pendakian sudah menjadi tanda-tanda kalau tubuhnya mulai melemah. Saya juga jadinya tidak banyak ambil dokumentasi saat pendakian. Saya sibuk melawan rasa kantuk sambil terus mendaki. By the way, semua dokumentasi di jalur ini saya ambil saat perjalanan turun ya.

Perjalanan dilanjutkan dari pos 2 ke pos 3,  ditempuh dalam waktu kurang lebih 40 menit. Jalurnya alami, cukup terjal dan jelas. Suasana senja mulai tiba. Saaaaaaaangat dingin… namun ah… indah sekaaliiii…. Di jalur menuju pos 3 ini, saya juga berhenti sejenak untuk mempersiapkan headlamp. Rasa kantuk pun semakin parah ditambah juga dengan rasa lapar. Saya akhirnya sambil mendaki, sambil memakan snack bar yang saya bawa, demi mengurangi rasa kantuk dan lapar saya. Snack bar bisa jadi makanan yang rekomended bgt loh guys, untuk camilan selama pendakian. Karena porsinya yang sedikit namun tinggi serat, cukup bisa jadi solusi untuk menambah energi walaupun tanpa makan banyak.

Jalur menuju pos 3

Pos 3 Tapak Banteng

Sunset di pos 3

Lanjut pendakian dari pos 3 ke zona signal atau batas pelawangan, ditempuh dalam waktu kurang lebih 40 menit. Tracknya bebatuan dan cukup terjal. Karena kondisi sudah cukup gelap, saya mulai menggunakan cahaya dari headlamp, dan lanjut menuju Sunrise Camp. Jarak pos zona signal ke Sunrise camp cukup dekat. Bisa dibilang hanya beberapa menit juga sampai. Sunrise camp adalah padang rumput yang sangat luas, jadi akan muat banyak para pendaki yang ingin mendirikan tenda untuk bermalam. Tinggal pintar-pintar pilih spot untuk menyaksikan sunrise di keesokan harinya.

Jalur menuju pos Zona signal

Pos Zona Signal

Saya bersama tim, malam itu total mendirikan 9 tenda untuk 30 orang dengan bentuk melingkar dan di tengahnya dipasang beberapa flysheet. Malam hari itu, cuaca sangat cerah dan begitu dingin. Jangan lupa ya bawa sarung tangan. Bubar makan malam, saya tidak menunggu lama untuk segera beristirahat. Namun pada jam-jam 2 pagi buta, saya terbangun, dan ternyata banyak yang bangun karena memang terasa begitu dingin. Bahkan saya tidur dengan sleeping bag berbahan dakron yang biasanya bikin gerah karena sudah double jaket polar, kaos kaki, sarung tangan. Tapi ini di dalam sleeping bag terasa basah efek suhu dinginnya yang ternyata sempat mencapai -11° C. Saat itu juga salah satu anggota tim kami ada yang hampir terkena Hipotermia. Namun telah segera ditangani dengan mengganti semua pakaian yang jauh lebih bersih dan kering, minum teh panas, juga sleeping dengan dipeluk teman-teman setendanya. Tips aja biasanya, untuk hipotermia kalo takut lebih parah, jaga-jaga aja bawa Emergancy Blanket. Emergancy blanket, sejenis lipatan aluminium foil yang kalo dibuka, bisa membungkus seluruh tubuh manusia kemudian dilanjut menumpuk dengan menggunakan sleeping bag.

Sunrise Camp


Pada akhirnya saya masih bisa melanjutkan istirahat, dan terbangun kembali pada jam 05.00 pagi. Saya dan teman-teman yang satu tenda, keluar di pagi buta untuk membuang air kecil. Oh iya, untuk sisa tissue basah yang digunakan untuk membilas, lebih baik dibawa kembali dan buang ke plastik sampah kita ya. Pada saat itu, sunrise mulai terlihat garis orennya. Namun memang benar-benar terasa sangat dingin. Bahkan embun pagi pun sampai berubah berupa serpihan es. Berjalannya waktu, matahari terbit semakin terlihat, dan indah. Semua pendaki bangun untuk menikmatinya. Saya pun berfoto ria dengan teman-teman.



Setelah puas berfoto dan matahari mulai panas, kami semua beramai-ramai masak untuk sarapan sebelum perjalanan turun. Kami masak nasi, sayur, goreng-goreng lauk. Mantap dan seru deh pokoknya, secara ya 30 orang gimana gak rameeee. Usai sarapan, kami melanjutkan bongkar tenda lalu packing untuk bersiap kembali turun. Tidak lupa kami membersihkan lokasi camp agar dapat dipastikan tidak ada sampah yang tertinggal. Perjalanan turun dimulai pada jam 10.00 WIB. Salah satu teman kami ada yang jatuh dan cidera pada telapak tangan kanannya. Saya pun turut jalan santai menemaninya hingga pos 1. Kurang lebih 2 jam perjalanan dari sunrise camp saya tiba kembali di basecamp Tapak Banteng. Melanjutkan bebersih seperti mandi, packing ulang bawaan, dan bersiap untuk pulang ke Jakarta. Tidak lupa saya membawakan oleh-oleh Carica, yaitu pepaya khas Dieng untuk kedua orang tua saya di rumah.


Nah itu dia cerita perjalanan singkat saya di gunung Prau ini. Gunung yang sudah sangat terkenal ini, saya tidak menyangka, ternyata naik juga ke Prau karena diajakin sahabat lama saya yang sudah 1,5 tahun tidak berjumpa. Saya sendiri sejak dulu belum pernah ada niatan untuk ke Prau, karena biasanya saya lebih pilih gunung yang tidak begitu ramai. Tapi memang, Prau sangat indah untuk menikmati Sunrise. Saya sungguh tidak menyesal hehehe… Terima kasih buat yang udah baca, semoga bermanfaat.

Bye…bye…

Popular Posts

“The Survival Pyramid” Piramida Survival (3 hal dasar utama bagi Survivor)

Halo pengembara, Salam Lestari! Sumber gambar : @1964.id Survival, berasal dari kata survive, yang berarti bertahan hidup dari ...