(Konten Blog : Mountaineering & Beauty) Instagram & Facebook : @Dwiariyuni

Total Tayangan

Jumat, 16 Agustus 2019


Hai pendaki cantik, salam Lestari. Saya Arin.


Kali ini saya mau sharing dari pengalaman pribadi saya mendaki gunung tentang apa saja alat pribadi yang biasanya selalu saya bawa kemana-mana. Sebagai salah satu pendaki wanita, saya melihat di lapangan semakin banyaknya minat para wanita di luar sana yang baru mulai mencintai kegiatan outdoor ini yaitu mendaki gunung.  Namun banyaknya minat tersebut, tidak sedikit yang kurang memperhatikan manajemen perjalanannya. Dari kemampuannya dalam manajemen perjalanan, biasanya akan lebih mempersiapkan alat-alat pribadi yang dibutuhkan wanita sekalipun dalam keadaan urgen tanpa merepotkan para pria. Manfaat dari membawa alat-alat pribadi pun dapat menyelamatkan diri para wanita dari bahaya subjektif maupun objektif.

  1. Pakaian lapangan.
Pakaian lapangan biasanya berbahan mudah kering jika basah dan ringan.

  1. Sepatu trekking
Banyak saya melihat sebagian pendaki wanita yang sepertinya pemula masih memakai sepatu kets biasa bahkan terkadang flatshoes. Padahal alas sepatunya tersebut polos atau tidak dapat mengikat tanah, yang nantinya akan menyebabkan licin. Tanpa sepatu khusus, sebenarnya cukup bahaya jika terpeleset lalu yang ditakutkan adalah cidera kaki hingga sulit berjalan.

  1. Topi
Topi, saya gunakan sebagai pelindung kepala dan wajah saya dari sinar matahari langsung saja. Bisa juga dimanfaatkan sebagai penghangat saat malam tiba. Harusnya sih pakai sunscreen, tapi karena saya belum nemu produk yang cocok, jadi masi mengandalkan topi hehe…

  1. Pakaian tidur & sleeping bag
Pentingnya membawa pakaian tidur adalah supaya tubuh kita tetap bersih dan jauh lebih hangat saat tidur. Biasanya wanita jauh lebih banyak yang mudah terkena hipotermia kan. Nah dari kita mengganti baju kering dan menggunakan sleeping bag saat tidur, setidaknya dapat mengurangi resiko hipotermia tersebut.

  1. Jaket, sarung tangan dan kaos kaki
Ketiga barang ini cukup penting untuk beristirahat maupun berkegiatan bermalam, karena juga mampu mengurangi resiko hipotermia. Tapi biasanya, saya menggunakan ketiga barang ini jika benar-benar ingin tidur saja, agar tetap hangat karena belum dibawa keluar dari ransel.

  1. P3K termasuk Emergancy blanket & pembalut
Obat-obat pribadi sangat penting, dimana tidak semua teman tim kamu tau penyakit mu, bahkan gejala-gejala awalnya yang pertama tahu adalah dirimu sendiri. Pemahanan tentang diri sendiri akan kemampuan fisiknya, penting untuk seorang pendaki. 
Biasanya saya pun tetap butuh vitamin yang diminum pada malam hari sebelum melakukan pendakian. Pendaki wanita yang cukup mudah terkena hipotermia pun sangat disarankan untuk membawa emergency blanket jika ingin terus melakukan hobinya ini ya. 
Pembalut selalu bawa 1-2 pcs jika memang bukan tanggal haidnya, sebagai cadangan. Jika memang tanggalnya, siapkan pembalut secukupnya dan plastik untuk menyimpan dengan rapih dan dibawa turun sampai basecamp. Jangan pernah ditinggal ya girls…

  1. Headlamp
Headlamp sangatlah penting untuk berkegiatan oudoor di malam hari. Entah untuk perjalanan maupun di wilayah camp saja. Cahaya cukup penting bagi wanita yang cukup takut dengan gelap seperti saya hehe.

  1. Trekking pole
Semakin bertambahnya usia, tenaga tidak seperti masa remaja yang penuh energik lagi hehe… saya melakukan pendakian belakangan ini dengan bantuan trekking pole, supaya sedikit berkurang beban yang dirasakan tadinya dengan kaki saja. Pendakian memang akan jauh lebih ringan dengan pembagian tumpuan beban. Trekking pole juga bisa digunakan saat urgen, misal jika ada teman atau kamu sendiri yang cidera, alat ini akan membantunya untuk berjalan.

  1. Rain coat
Cuaca yang kadang cukup sulit untuk diprediksi membuat pentingnya membawa raincoat demi lancarnya perjalanan kita. Raincoat akan melindungi kita dari air hujan dan kedinginan.

  1. Pisau lipat
Pisau lipat selalu saya bawa jika berkegiatan outoor dan lebih sering digunakan untuk memasak. Buat pendaki wanita hayooo yang kadang carier dibawain pacarnya… Jangan bikin malu, masa di gunung masih minta dimasakin para pria. Hehehe… belajar sedikit-sedikit boleh dong. Karena gunung bukan tempat wisata atau bermanja ria, kalian akan menghadapi alam bebas yang banyak sekali kemungkinan bahaya terjadi. Jadi jangan terlalu tergantung juga dengan pria.

  1. Lip balm
Lipbalm cukup penting untuk menjaga kelembaban bibir wanita. Karena di gunung yang dingin namun sebenernya matahari pun terik, tanpa sadar membuat bibir kering dan pecah-pecah. Jangan lupa ya pakai lip balm setiap mulai terasa kering.

  1. Alat mandi & kosmetik
2 hal ini biasanya dipakai cukup saat dibasecamp saja, ketika ingin pulang. Supaya gak dekil-dekil amat lah ya girls pada saat kembali ke kota hehe… 2 hal ini kalo memang bisa dititipkan ke basecamp, biasanya saya titipkan di basecamp supaya mengurangi beban.

Nah itu dia 12 hal yang biasanya saya selalu bawa girls. Semua ini pun juga dipelajari dari pengalaman-pengalaman perjalanan yang telah dilakukan. Semakin banyak pengalaman biasanya akan semakin banyak ilmu yang didapat walaupun sederhana, namun dapat melindungi diri kita dari bahaya subjektif maupun bahaya objektif yaaa. Terima kasih untuk kalian yang sudah baca dan semoga ini bermanfaat . 

Bye… bye…

Kamis, 08 Agustus 2019

Hai, para beauty enthusiast.


Saya Arin. Sesuai dengan judulnya, saya akan mereview foundation dari brand yang sangat terkenal yaitu NYX Professional Makeup. Foundation yang saya akan review adalah seri Can’t Stop Wan’t Stop atau bisa disingkat CSWS. CSWS Full coverage foundation yang saya pakai ini adalah shade Medium olive.


Dari segi packaging, hemm… botolnya kaca kotak, bagus sih tapiii… saya sudah pernah menjantuhkannya tanpa sengaja dari ketinggian 1 meter lebih dan langsung pecah. Huhuhu sediiiiihhh… Agak bahaya memang kalo dibawa travelling gitu. Aku suka sih dia menggunakan pump jadi bisa terkontrol dalam pemakaiannya. Pada bagian botol terdapat stiker brand, seri jenis foundation, beberapa klaim produk, nomor BPOM, tanggal expired serta asal Produksi dan distributornya. Pada tutup foundation, terbuat dari plastik yang terdapat stiker bertuliskan shade foundation, klaim 24 hours dan matte finish. Sebotol isinya normal seperti pada umumnya foundation lain ya, yaitu 30ml. Nah untuk pemakaianya disarankan untuk dikocok sebelum dipakai.


Oke baik, lanjut ke formula foundationnya yaaa… Apakah dia sesuai dengan klaimnya atau tidak?. Mari kita bahas. Oh iya untuk pilihan warna pada foundation ini sungguh sangat banyak sekali. Jadi kamu bisa pasti menemukan warna yang sesuai dengan warna kulit kamu. Kamu bisa cek di websitenya untuk pilihan warnanya sebelum membeli. Dari segi formula dia memang bisa dibilang matte finish dan halus. Saya suka banget… makanya walaupun sudah pernah pecah, saya tetap pakai dia lagi, hehe... Biasanya saya pakai 2-3 pump untuk satu wajah. Mudah diblend, dan gak perlu diset pakai powder masih aman. Tahan lama bisa sampai 12 jam, tapi saya belum pernah coba 24 jam hehe… ya kalo untuk pemakaian 12 jam an itu masih cakep di wajah saya entah dalam ataupun di luar ruangan. Saya sih gak merasa foundation ini oxydize sih. Jadi memang foundationnya bisa dibilang sesuai klaimnya ya sis.

Beberapa menit pemakaian Foundation

Harga foundation ini Rp 250.000, dengan isi 30 ml dan kualitasnya, ya menurutku si worth to buy. Kamu bisa beli e-commerce resmi, atau ke konternya langsung yang ada di pusat perbelanjaan supaya bisa cobain testernya juga sebelum membeli. Nah segitu aja ya review singkat dari saya. Semoga bermanfaat. Terima kasih yang sudah membacanya.


6 jam setelah pemakaian

Bye… bye…

Kamis, 25 Juli 2019


Haii… Saya Arin.


Jejak kata kali ini saya akan menceritakan pendakian di gunung Prau yang dilaksanakan pada tanggal 29 hingga 30 Juni 2019. Pendakian ini saya lakukan bersama tim Backpacker Jakarta 26. Gunung Prau berketinggian 2.565 mdpl ini berada di kawasan dataran tinggi Dieng, Jawa tengah. Just info sedikit aja, kalo Dieng adalah desa tertinggi di pulau Jawa loh. Nah, gunung Prau ini menjadi titik tapal batas antara 3 kabupaten di Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Batang, Kabupaten Kendal dan Kabupaten Wonosobo. Saya dan tim melakukan pendakian ini melalui jalur Tapak Banteng yang berada di Kabupaten Wonosobo. Jalur ini sudah sangat terkenal dan bahkan selalu ramai para pendaki di setiap weekendnya. Lebih-lebih kalo ada long weekend, biasanya jalur ini cukup bisa dibilang macet karena terlalu padat pendaki.


Gerbang pendakian Patak Banteng

Seperti biasa, jangan lupa melakukan registrasi ke pos pendakian ya. Agar namamu masuk ke dalam daftar pendaki dan terpantau oleh pos. Pendaki akan dikenakan biaya Rp 15.000 per orang. Saya bersama tim, start pendakian pada jam 16.00 WIB dari basecamp Patak Banteng. Pendakian menuju pos 1 di awali dengan menaiki tangga dan jalan bebatuan. Perjalanan dari basecamp ke pos 1 ditempuh dengan waktu kurang lebih 15 menit. Selama perjalanan, saya melewati pemandangan kebun milik warga dan juga melewati 5 warung yang menjajakan merchandise dari Prau. Di sana juga ada beberapa warga setempat yang menawarkan jasa sebagai porter loh. Tapi maaf sebelumnya, saya kurang paham biayanya ya untuk jasa porter tersebut, karena memang tidak nanya-nanya ke mereka juga.

Tiket masuk 

Basecamp Tapak Banteng

Jalur menuju pos 1


Lanjut dari pos 1 ke pos 2, ditempuh dalam waktu 15 menit juga. Track yang dilalui masih ada sedikit tangga batuan dan selebihnya jalur alami. Jalurnya cukup luas dan sangat jelas sih. Selama perjalanan menuju pos 2, saya melewati banyak warung yang menjajakan makanan dan minuman. Kurang lebih ada 8 warung. Setiap melewati warung, memang buah semangka yang merah dan segar itulah paling sangat menggoda para pendaki untuk mampir, sekedar icip-icip menghilangkan rasa dahaga. Tapi saat itu, saya sama sekali tidak mampir ke warung sih. Dikarenakan jam pendakian sudah terlalu sore, udara pun semakin dingin. Kebetulan di bulan Juli ini, suhu dingin di Dieng termasuk suhu ekstrim.

Jalur menuju pos 2

Pos 2 Tapak Banteng

Pos 2

Saya mengakui pendakian ini sungguh mengantukan karena suhu sore itu sudah mencapai 9° C dan sangat kebetulan hari itu adalah hari pertama saya datang bulan. Jadi cukup terasa berat pendakian kali ini heuheu… Saya jadi memutuskan terus melakukan pendakian tanpa mampir ke warung, untuk mengejar waktu dan meminimalisir tubuh saya ngedrop di jalur. Karena saya juga tidak mau menambah beban tim swiper. Info tambahan aja nih ya, biasanya pendaki yang mulai mengantuk dalam pendakian sudah menjadi tanda-tanda kalau tubuhnya mulai melemah. Saya juga jadinya tidak banyak ambil dokumentasi saat pendakian. Saya sibuk melawan rasa kantuk sambil terus mendaki. By the way, semua dokumentasi di jalur ini saya ambil saat perjalanan turun ya.

Perjalanan dilanjutkan dari pos 2 ke pos 3,  ditempuh dalam waktu kurang lebih 40 menit. Jalurnya alami, cukup terjal dan jelas. Suasana senja mulai tiba. Saaaaaaaangat dingin… namun ah… indah sekaaliiii…. Di jalur menuju pos 3 ini, saya juga berhenti sejenak untuk mempersiapkan headlamp. Rasa kantuk pun semakin parah ditambah juga dengan rasa lapar. Saya akhirnya sambil mendaki, sambil memakan snack bar yang saya bawa, demi mengurangi rasa kantuk dan lapar saya. Snack bar bisa jadi makanan yang rekomended bgt loh guys, untuk camilan selama pendakian. Karena porsinya yang sedikit namun tinggi serat, cukup bisa jadi solusi untuk menambah energi walaupun tanpa makan banyak.

Jalur menuju pos 3

Pos 3 Tapak Banteng

Sunset di pos 3

Lanjut pendakian dari pos 3 ke zona signal atau batas pelawangan, ditempuh dalam waktu kurang lebih 40 menit. Tracknya bebatuan dan cukup terjal. Karena kondisi sudah cukup gelap, saya mulai menggunakan cahaya dari headlamp, dan lanjut menuju Sunrise Camp. Jarak pos zona signal ke Sunrise camp cukup dekat. Bisa dibilang hanya beberapa menit juga sampai. Sunrise camp adalah padang rumput yang sangat luas, jadi akan muat banyak para pendaki yang ingin mendirikan tenda untuk bermalam. Tinggal pintar-pintar pilih spot untuk menyaksikan sunrise di keesokan harinya.

Jalur menuju pos Zona signal

Pos Zona Signal

Saya bersama tim, malam itu total mendirikan 9 tenda untuk 30 orang dengan bentuk melingkar dan di tengahnya dipasang beberapa flysheet. Malam hari itu, cuaca sangat cerah dan begitu dingin. Jangan lupa ya bawa sarung tangan. Bubar makan malam, saya tidak menunggu lama untuk segera beristirahat. Namun pada jam-jam 2 pagi buta, saya terbangun, dan ternyata banyak yang bangun karena memang terasa begitu dingin. Bahkan saya tidur dengan sleeping bag berbahan dakron yang biasanya bikin gerah karena sudah double jaket polar, kaos kaki, sarung tangan. Tapi ini di dalam sleeping bag terasa basah efek suhu dinginnya yang ternyata sempat mencapai -11° C. Saat itu juga salah satu anggota tim kami ada yang hampir terkena Hipotermia. Namun telah segera ditangani dengan mengganti semua pakaian yang jauh lebih bersih dan kering, minum teh panas, juga sleeping dengan dipeluk teman-teman setendanya. Tips aja biasanya, untuk hipotermia kalo takut lebih parah, jaga-jaga aja bawa Emergancy Blanket. Emergancy blanket, sejenis lipatan aluminium foil yang kalo dibuka, bisa membungkus seluruh tubuh manusia kemudian dilanjut menumpuk dengan menggunakan sleeping bag.

Sunrise Camp


Pada akhirnya saya masih bisa melanjutkan istirahat, dan terbangun kembali pada jam 05.00 pagi. Saya dan teman-teman yang satu tenda, keluar di pagi buta untuk membuang air kecil. Oh iya, untuk sisa tissue basah yang digunakan untuk membilas, lebih baik dibawa kembali dan buang ke plastik sampah kita ya. Pada saat itu, sunrise mulai terlihat garis orennya. Namun memang benar-benar terasa sangat dingin. Bahkan embun pagi pun sampai berubah berupa serpihan es. Berjalannya waktu, matahari terbit semakin terlihat, dan indah. Semua pendaki bangun untuk menikmatinya. Saya pun berfoto ria dengan teman-teman.



Setelah puas berfoto dan matahari mulai panas, kami semua beramai-ramai masak untuk sarapan sebelum perjalanan turun. Kami masak nasi, sayur, goreng-goreng lauk. Mantap dan seru deh pokoknya, secara ya 30 orang gimana gak rameeee. Usai sarapan, kami melanjutkan bongkar tenda lalu packing untuk bersiap kembali turun. Tidak lupa kami membersihkan lokasi camp agar dapat dipastikan tidak ada sampah yang tertinggal. Perjalanan turun dimulai pada jam 10.00 WIB. Salah satu teman kami ada yang jatuh dan cidera pada telapak tangan kanannya. Saya pun turut jalan santai menemaninya hingga pos 1. Kurang lebih 2 jam perjalanan dari sunrise camp saya tiba kembali di basecamp Tapak Banteng. Melanjutkan bebersih seperti mandi, packing ulang bawaan, dan bersiap untuk pulang ke Jakarta. Tidak lupa saya membawakan oleh-oleh Carica, yaitu pepaya khas Dieng untuk kedua orang tua saya di rumah.


Nah itu dia cerita perjalanan singkat saya di gunung Prau ini. Gunung yang sudah sangat terkenal ini, saya tidak menyangka, ternyata naik juga ke Prau karena diajakin sahabat lama saya yang sudah 1,5 tahun tidak berjumpa. Saya sendiri sejak dulu belum pernah ada niatan untuk ke Prau, karena biasanya saya lebih pilih gunung yang tidak begitu ramai. Tapi memang, Prau sangat indah untuk menikmati Sunrise. Saya sungguh tidak menyesal hehehe… Terima kasih buat yang udah baca, semoga bermanfaat.

Bye…bye…

Kamis, 11 Juli 2019


Halo beauty enthusiast…


Buat kalian para pecinta makeup, pasti tau kan betapa pentingnya menjaga kebersihan beauty sponge. Beauty sponge biasanya digunakan untuk ngeblend foundation di wajah. Jadi pastikan beauty sponge tersebut yang akan menempel di kulit wajah kita sudah bersih. Saya punya tips mudah, cepat dan juga sangat hemat untuk membersihkan beauty sponge. Langsung aja yuk ke tipsnya…

Pertama, 
Siapkan beauty sponge yang kotor, wadah, air panas, 2 tetes sabun sunlight, sendok, air dingin dan tissue.


Kedua, 
Campurkan 2 tetes sabun sunlight ke dalam air panas di wadah.


Ketiga, 
Rendam beauty sponge ke dalam air sabun tersebut dan diamkan beberap menit.


Ke empat, 
Remas-remas beauty sponge secara perlahan hingga foundation yang menempel luntur. Jika terasa panas bisa dibantu dengan sendok.


Kelima, 
Jika beauty sponge dirasa sudah cukup bersih, bilas dengan air dingin.


Step terakhir, 
Keringkan beauty sponge dengan memerasnya menggunakan tissue. Lakukan beberapa kali, hingga benar-benar kering.


Nah mudah bukan ??? biasanya saya bersihkan beauty sponge seminggu sekali. Dengan terjaganya beauty sponge kita dari kotoran, akan menjaga pula kulit kita dari yang namanya jerawat. Oke baiiik segitu dulu ya tips dari saya, semoga bermanfaat.

Bye… bye…



Jumat, 05 April 2019


Hai, Saya Arin.


Kali ini saya mau berbagi cerita apa yang saya alami dan saya lihat selama pendakian di Gunung Lawu ini pada tanggal 16 - 17 Maret 2019. Spesialnya pendakian ini saya melakukan Lintas jalur. Naik via Cemoro Sewu dan turun via Candi cetho. Jadi pastinya pemandangan yang dilihat naik dan turun beda dong, dan serunya juga pasti beda hehe… Secara track yang dilewati saja sudah beda banget. By the way, gunung Lawu ini sangat populer sudah begitu lama karena memang gunung ini pun juga dijadikan lokasi untuk orang-orang yang ingin berziarah khususnya di setiap malam 1 Suro. Saking populernya sudah banyak pedagang makanan yang akan pendaki jumpai genks, khususnya di jalur cemoro sewu.

Puncak Lawu - Hargo Dumillah

Gunung Lawu berada di perbatasan antara Jawa tengah dan Jawa timur. 3 kabupaten di antaranya ialah Kabupaten Karanganyar (Jawa tengah), kabupaten Ngawi dan Kabupaten Magetan (Jawa timur). Ada 3 puncak di gunung Lawu ini, yaitu Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumillah. Hargo Dumillah adalah puncak yang sering didatangi pendaki dan puncak tertinggi dari kedua puncak lainnya. Ada 3 jalur yang cukup terkenal untuk mendaki gunung Lawu ini guys, yaitu Cemoro sewu di Sarangan Jawa timur, Cemoro kandang di Tawangmangu Jawa tengah dan Candi cetho di Karanganyar Jawa tengah. Untuk 2 jalur yaitu Cemoro kandang dan Cemoro sewu, walaupun beda Provinsi yaitu Jawa tengah dan Jawa timur tapi sebenarnya, basecamp ini terpisah kurang lebih hanya 200 meter saja loh.

3 Jalur Gunung Lawu

Saya dan tim melakukan pendakian 2 jalur, yaitu Cemoro Sewu di kabupaten Sarangan Jawa timur dan turun di Candi cetho kabupaten Karanganyar Jawa tengah. 2 jalur ini sangat bedaaa banget. Untuk jalur cemoro sewu karena memang sudah menjadi jalur teramai, jalur ini sudah diberi batu-batuan yang tersusun dan sangat jelas dari basecamp hingga pos 5. Jadi bisa dikira-kira ya, kalo kaki kita melangkah dengan mau gak mau harus menyesuaikan tangganya. Jalur cemoro sewu menjadi jalur terpendek di antara 2 jalur lainnya, karena memang jalur ini juga cukup ngetrack. Sedangkan untuk jalur candi cetho adalah jalur terpanjang dari jalur lainnya. Jalurnya masih sangat alami, hanya jalan setapak seperti di gunung-gunung lainnya.

Di awal pendakian, jangan lupa untuk daftar ya ke basecamp agar namamu masuk ke dalam daftar pendaki dan rencana turun tanggal berapa juga dimana. Jangan lupa juga untuk segera laporan kembali saat sudah turun. Kalo lintas jalur, ya laporannya 2 kali, di pos kita tiba dan di pos kita awal naik. Biasanya nanti dikasih nomer Hp untuk berkabar via sms ke pos awal. Biaya pendaftaran untuk pendakian gunung Lawu dikenakan Rp 15.000 per orang. Cemoro sewu menyediakan basecamp, untuk para pendaki yang ingin istirahat setelah naik ataupun turun, bisa bermalam juga. Ada beberapa toilet yang tersedia dan warung-warung kopi juga merchandise khas gunung Lawu.

Pendakian dengan cuaca yang cerah, dari basecamp cemoro sewu menuju pos 1 kurang lebih saya mendaki dalam waktu 1 jam 10 menit. Jalurnya cukup banyak landainya tapi ada sedikit ngetracknya juga ya yang pasti. Di pos 1 terdapat shelter khusus, dan ada beberapa warung. Lanjut dari pos 1 ke pos 2, saya mendaki dalam waktu 2 jam 15 menit. Jalurnya ada beberapa bonus landai, tapi sudah mulai banyak ngetracknya. Pada pos 2 terdapat shelter khusus dan ada 1 warung. Pos 2 ini cukup luas, dan kira-kira masih bisa dirikan 2 sampai 3 tenda. Oh iya pendakian dari pos 1, saya dan tim sudah mulai ditemani 1 jenis burung.

Jalur menuju pos 1 Cemoro Sewu

Pos 1 - Cemoro Sewu

Jalur menuju pos 2 - Cemoro Sewu

Pos 2 - Cemoro Sewu

Pendakian dari pos 2 ke pos 3, saya berjalan memakan waktu kurang lebih 1 jam saja, tapi jalurnya ngetrack terus sih hehe… Pada pos 3 terdapat shelter tanpa ada warung. Di pos 3 juga kamu bisa dirikan tenda 1 hingga 2 tenda. Saran aja sih ya, jangan pernah dirikan tenda di dalam shelter, itu namanya egois genks. Karena shelter didirikan untuk peristirahatan sementara para pendaki yang masih ingin melanjutkan perjalanannya. Kalo ada tenda di dalam shelter, bagaimana pendaki lain mau istirahat atau berteduh kan ya…

View menuju pos 3 - Cemoro Sewu

Pos 3 - Cemoro Sewu

Lanjut pendakian pos 3 ke pos 4, saya mendaki dengan waktu 1 jam 20 menitan. Jalurnya tangga! Dan terus ngetrack. Perjalanan menuju pos 4 sudah mulai ada tumbuhan Edelweiss, namun saat itu saya lihat belum ada yang berbunga. Pada pos 4, tidak ada sama sekali shelter. Karena memang disarankan untuk segera naik ke pos 5 yang tidak begitu jauh dari pos 4 ini. Di pos 4 pun juga tidak bisa mendirikan tenda, karena terlalu bahaya walapun pemandanganya sangat bagus. Lokasinya cukup sempit dan terjal. Pos 4 menuju pos 5 cukup dekat, dan banyak bonus landainya. Perjalanan saya memakan waktu hanya 10 menit.

Jalur menuju pos 4 - Cemoro Sewu


Pos 4 - Cemoro Sewu

Pos 5 lumayan luas dan ada beberapa warung di sana. Pendaki juga bisa mendirikan banyak tenda di sana. Hanya saja di pos 5 terasa tiba-tiba sangat dingin. Bahkan tangan saya mulai kaku. Ternyata semua itu dikarenakan, pos 5 sangat dekat dengan 2 lembah, yang artinya akan ada sumber angin dari 2 arah yang berkumpul di pos 5 ini. Saranku jangan terlalu lama beristirahat jika tidak ingin mendirikan tenda di sana. Segera lanjutkan perjalan ke pos bayangan (pos sebelum puncak) atau biasa di sebut sendang derajat. Perjalanan dari pos 5 ke sendang derajat, sangat landai dan dekat yaitu kurang lebih 10 menit. Pemandangannya juga begitu indah. Tapi jangan terlena ya, kita benar-benar melewati jalur di antara 2 lembah. Kita menyebrangi 2 lembah yang sangat dingin di jam 17:30 WIB. Saya pun sempat beberapa kali menjatuhkan trekking pole saya tanpa sengaja, saking tangannya mulai kaku.

Pos 5 - Cemoro Sewu

Di sendang derajat terdapat 1 warung yang cukup luas, sehingga pendaki pun bisa bermalam di sana tanpa mendirikan tenda. Makanan yang dijual pun cukup lengkap. Ada Karbohidratnya, protein, vitaminnya juga dari sayuran pecelnya. Pastinya yang mau ngopi juga bisa. Di sendang derajat terdapat lokasi khusus yang ingin beribadah untuk orang-orang kejawen gitu. Mohon maaf gak sempat foto karena sudah malam saat itu. Lokasi sendang derajat juga sangat persis berada di punggungan dan tanpa vegetasi. Jadi pinter-pinter cari spot kalo mau buang air kecil ya beb.

Sejak jam 2 pagi, hujan tiba-tiba turun dengan deras, hingga matahari terbit. Jam 5 saya dan tim sudah bangun dan bersiap packing untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Karena kita akan pindah jalur, ya otomatis saat ke puncak bawa semua barang. Saat itu saya belum sarapan, hanya makan snack. Ketika hujan mulai reda, namun gerimis yang cukup terasa, kita harus segera berangkat. Jadi tetap mau gak mau pakai rain coat. Perjalanan ke puncak Hargo dumillah cukup dekat dari warung sendang derajat, kurang lebih memakan waktu 20 menit. Tracknya berbatuan, tapi masih di ada vegetasi kok. So , tetep hati-hati juga, ditambah saat hujan turun. Tibanya di puncak yang sangat dingin saat itu, saya ambil dokumentasi beberapa spot dengan cuaca yang masih berawan dan Kabut. Namun Alhamdulillah tidak lama kemudian, perlahan cuaca cerah bahkan panas. Jadi pemandangan dari puncak terlihat sangat jelas. I’m so happy!!!

Suasana puncak saat masih hujan

Puncak setelah cuaca berubah menjadi cerah

Setelah kurang lebih 2 jam di puncak menikmati pemandangan, kami turun langsung ke arah warung mbok Yem dengan waktu hanya 10 menitan. Tibanya di mbok yem, kabut tipis kembali turun tapi tidak begitu gelap. Saya juga sempat makan di warung mbok Yem, sebelum melanjutkan perjalan ke Candi Cetho. Menu nasi pecel pake telor dikenakan harga Rp 15.000 guys. Hujan sempat turun saat masih di mbok Yem, dan kita masih menunggu hujan lebih reda. Hujan mulai reda, kami melanjutkan perjalanan ke jalur candi cetho menuju pos 5 dengan kurang lebih 1  jam 20 menit. Jalurnya sangat landai dan panjang. Selama perjalanan saya ditemani dengan pemandangan sabana yang sangat indah, tenang, sunyi, sedikit terasa misterius karena suasananya yang sepi juga berkabut tipis. Tapi asli saya saja jatuh cinta banget sama lokasi ini. Saya selalu bersyukur diberi cuaca yang terang saat turun. Perjalanan menuju pos 5 juga ada sedikit kubangan air, yang cukup luas. Kubangan tersebut bisa jadi sumber air saat hujan turun.

Warung Mbok Yem

Persimpangan diantara 3 jalur Candi cetho, Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu

Sabana di perjalanan menuju pos 5 - Candi Cetho

Kubangan air yang bisa dimanfaatkan

Tibanya di pos 5 yang masih berada di sabananya Lawu yang luas dan indah. Ada beberapa tenda yang didirikan di sana. Pada pos 5 tidak ada shelter sama sekali. Hanya sabana luas, yang dimana kalian bisa dirikan tenda dimanapun, kecuali jangan di jalur ya hehe. Perjalanan terus dilanjutkan menuju pos 4, dengan jalur mulai masuk ke dalam hutan dan jalan setapaknya. Perjalanan pos 5 ke pos 4 saya memakan waktu kurang lebih 1 jam. Tracknya lumayan terjal. Pada pos 4 terdapat shelter kok tanpa ada warung. Oh iya untuk seluruh pos di jalur candi cetho ini, tidak ada warung sama sekali loh ya. Jadi persiapkan logistik kalian. Lanjut dari pos 4 ke pos 3, saya memakan waktu perjalanan turun sekitar 45 menitan. Tracknya sama dengan sebelumnya, lumayan terjal dan cukup licin. Pada pos 3 juga terdapat 1 shelter, di sana saya sempat beristirahat untuk makan.

Sabana di dekat pos 5 - Candi Cetho

Pos 5 - Candi Cetho

Jalur menuju pos 4 - Candi Cetho

Pos 4 - Candi Cetho

Di pos 3 tiba-tiba hujan turun dengan cukup deras. Jalur pendakian pun menjadi seperti jalur air. Saya dan tim melanjutkan perjalanan menuju pos 2 dengan menggunakan raincoat. Perjalanan memakan waktu 50 menit dengan track yang cukup licin karena dialiri air hujan. Pada pos 2, terdapat 1 buah shelter. Di pos 2, saya dan tim bertemu dengan rombongan yang beranggotakan 6 orang. Akhirnya kita memutuskan turun bersama-sama. Dengan hujan yang mengiringi perjalanan hingga sampai basecamp candi cetho, dan sudah malam. Perjalanan jadi lebih lama dari biasanya ditambah ada salah satu anggota yang cidera pada kakinya. Jadi saya juga tidak mecatat waktu saat tiba di pos 1. Setelah pos 1 juga kami kembali bertemu dengan rombongan lainnya yang beranggotakan 5 orang. Namun 3 orang dari tim tersebut sudah ada yang tidak kuat dan memutuskan mendirikan camp. 2 lainnya memutuskan turun bersama kami semua.

Track yang dialiri air hujan 
Pos 3 - Candi Cetho

Waktu perjalanan saya hanya mentotal keseluruhan dari pos 2 hingga basecamp Candi cetho genks, yaitu memakan waktu kurang lebih 3 jam. Sekitar jam 22.30 WIB saya dan rombongan tiba di pos pendakian untuk melaporkan ke pos jaga bahwa pendaki tiba dengan lengkap dan aman. Perjalanan dari pos 1 ke basecamp, sebenernya terdapat Candi cetho itu sendiri, terasa juga aroma-aroma sesuatu. Namun saya tidak sempat medokumentasikan candinya karena sudah larut malam. Huhu… Tibanya di basecamp saya pun bergegas lepas sepatu dan raincoat dilanjutkan mandi, agar bisa segera ganti baju kering supaya lebih hangat. Tidak lupa juga saya melaporkan ke pos Cemoro sewu via sms.

Posko Candi Cetho

Basecamp Candi Cetho

Finally perjalanan diakhiri dengan selamat semua yang penting. Pendakian dengan lintas jalur ditambah belum ada yang pernah ke gunung Lawu, menjadi tantangan tersendiri. Tips saya yang penting jangan sombong, dan banyak tegur sapa dengan pendaki lain. Karena di alam bebas, kita butuh kebersamaan antara manusia, saling tolong menolong jika ada yang butuh bantuan. Jangan pernah terpisah dari rombongan, dan jaga juga seluruh partner mendaki kalian. So, thank you buat semua yang uda baca, semoga bermanfaat ya… Keesokan harinya saya melanjutkan perjalanan menuju stasiun Purwosari yang ada di Solo.

Bye…bye…

Popular Posts

Barang Pribadi yang Harus dibawa untuk Pendaki Wanita

Hai pendaki cantik, salam Lestari. Saya Arin. Kali ini saya mau sharing dari pengalaman pribadi saya mendaki gunung tentang apa s...